Demokrasi Yang Bermoral (2)

Ketidakjujuran Dan Kemunafikan

SHAMSI ALI

RMco.id  Rakyat Merdeka - Entah apa strategi Donald Trump dalam hubungan dengan Korea Utama. Ada yang mencurigai, itu upaya Amerika untuk mengimbagi pengaruh China di semenanjung Korea dan Asia Timur.

Dalam hal ini, tentu untuk menjaga kepentingan dan keamanan Korea Selatan dan Jepang sebagai mitra Amerika. Tapi melihat kepada karakter Trump selama ini, justru dicurigai bahwa dengan inisiatif ini, dia berambisi memiilki sesuatu yang dianggap sebagai “Trade Mark” kepresidenannya.

Berita Terkait : Korea Dirangkul Erat, Iran Diinjak Keras

Maklum, secara “domestik” Trump tidak akan pernah mendapat pengakuan positif kecuali dari kalangan ekstrim white supremacy. Ambisi itu tentunya untuk mengimbangi popularitas Barack Obama dengan pencapaian-pencapaian kepresidenannya.

Sebut saja satu di antaranya adalah Obama Care atau jaminan kesehatan universal Obama. Walaupun belakangan Trump berhasil membatalkannya, tapi secara parsial pada bagian-bagian tertentu.

Berita Terkait : Sirkus Politik Internasional

Keberhasilan dan kepopuleran Barack Obama ternyata menjadi “tulang dalam daging” yang meresahkan Trump. Maka sepanjang kepresidenannya, dia berusaha melakukan “perception damaging” (merusak persepsi), bahkan “character assasination” atau pembunuhan karakter.

Ternyata upaya itu tidak berhasil. Obama justru tercatat sebagai presiden yang paling dicintai dan tanpa cacat integritas apapun.
 Selanjutnya