Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Di dalam Islam, pemimpin dan yang dipimpin semuanya sama. Nabi sendiri tidak pernah mengklaim dirinya sebagai raja, bahkan dalam menjalankan dakwahnya penuh susah payah, dan sering mendapat intimidasi dari pihak Quraiys, sehingga tidak heran bila Ibnu Taimiyah mengatakan, nabi harus dipatuhi bukan karena beliau seorang penguasa, akan tetapi karena beliau adalah utusan Allah untuk manusia.

Apa yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyah ditegaskan juga oleh Muhammad Abduh bahwa pemimpin di kalangan orang muslim bukanlah seorang yang terjaga dari kesalahan dan dosa (ma’sum), bukan pula orang yang men dapatkan wahyu.

Berita Terkait : Kerendahan Hati Pemimpin (1)

Agama tidak memberikan kekhususan kepada mereka sehingga mereka tidak perlu diangkat ke derajat tertentu jauh melampaui waga masyarakat lain. Tidak ada jaminan seorang pemimpin mendapatkan bimbingan langsung setiap saat dari Allah SWT.

Seorang pemimpin adalah manusia biasa yang tak luput dari kekeliruan dan kekhilafan. Tidak ada jaminan pemimpin selain nabi adalah terpelihari dari dosa dan kesalahan (ma’shum).

Berita Terkait : Pemimpin Sebagai Pelindung Rakyat (3)

Bahkan Al-Qur’an menegaskan bahwa: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang lakilaki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S. Al-Hujurat/49: 13).

Seorang pemimpin hanya dapat memberi nasehat, arahan, dan menegakkan hukum sesuai dengan yang digariskan oleh Allah SWT. Dalam tugasnya, ia sebagai wakil umat, ditaati selama ia melaksanakan tugasnya sesuai dengan aturan yang ditentukan oleh Allah; dan bila ia melenceng dari ketentuan yang ada, maka ia pun dapat diberhentikan atau dipecat dari jabatannya.

Berita Terkait : Pemimpin Sebagai Pelindung Rakyat (2)

Seorang penguasa di dalam Islam tidak terlepas dari pantauan rakyat. Jika mereka melakukan kesalahan, maka rakyat berhak menasehatinya.

Ketika Abu Bakar menjadi khalifah, ia meminta kepada masyarakatnya agar mengawasi kinerjanya. Beliau meminta agar didukung bila melakukan kebaikan, dan diluruskan bila melakukan kekeliruan.***