Etika Politik Dalam Al-Qur’an (41)

Pelajaran Diplomasi Publik (7) Diplomasi Surat-Surat Nabi

Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Meskipun Nabi tidak bisa membaca dan menulis, tetapi ia amat cerdas memilih Zaid Ibn Tsabit sebagai sekretaris pribadi yang terkenal sebagai ahli bahasa-bahasa asing dunia saat itu. Gagasan-gagasan Nabi dituliskan oleh Zaid lalu dikirim ke pusat-pusat kerajaan strategis pada saat itu. 

Nabi juga mengirim diplomat-diplomat ulungnya mengantarkan langsung surat itu, sehingga hasilnya sangat luar biasa. Pengalaman Nabi ini relevan untuk ditiru para diplomat kita. Di antara surat-surat tersebut ialah surat Nabi Muhammad kepada Raja Muqauqis sebagai berikut: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. 

Baca Juga : Sensasi Teknologi Perbankan Meriahkan BNI Java Jazz Festival 2020

Dari Muhammad hamba Allah dan utusan-Nya kepada Muqauqis raja Qibthi. Keselamatan semoga tercurah kepada orang yang mengikuti petunjuk-Nya. Amma ba’du: Aku mengajakmu dengan ajakan ke-damaian. Masuklah Islam maka engkau akan selamat. Masuklah Islam maka engkau akan diberikan Allah pahala dua kali. Jika engkau menolak maka atasmu dosa penduduk Qibthi. 

Sebagai apresiasi terhadap surat simpati Nabi, maka Raja Muqauqis menghadiahkan empat budak perempuan di antaranya Mariya binti Syam’un al-Qithiyyah al-Mishriyyah, seekor kuda (baghal) bernama Afir, seekor keledai bernama Duldu, 20 helai kain sutra Mesir, dan beberapa hadiah lainnya. 

Baca Juga : 3 Serikat Buruh Hidupkan MPBI

Maria Al- Qibtiyyah kemudian diperisterikan oleh Nabi yang melahirkan Ibrahim putra tunggal laki-laki Nabi Muhammad yang wafat ketika masih kecil. Raja lain yang mendapatkan surat cinta Nabi ialah Kaisar Heraclius yang isinya sebagai berikut:

“Sesungguhnya aku menyerumu dengan seruan Islam, maka masuklah ke dalam agama Islam maka engkau akan selamat, dan niscaya Allah akan membalasmu dengan ganjaran dua kali lipat. Jika engkau berpaling, maka sesungguhnya bagimu dosa seluruh pengikut.” 
 Selanjutnya