Etika Politik Dalam Al-Qur’an (43)

Pelajaran Diplomasi Publik (9) Memuliakan Tamu

Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Salah satu pendidikan diplomasi yang diajarkan Al-Qur’an dan Hadis ialah mengahargai dan memuliakan tamu. Banyak ayat, terutama yang menampilkan pribadi dan kepribadian para Nabi, termasuk nama-nama orang mulia lainnya seperti Luqman dan Hidhir, sangat respek terhadap tamu. Bahkan Nabi Muhammad Saw sendiri pernah menyerukan: Akrim al-dhaif wa lau kana kafiran (muliakanlah tamunya sungguhpun dia adalah kafir). 

Nabi Ibrahim dalam suatu riwayat disebutkan tidak mau makan sendirian. Jika tidak ada tamu yang menemaninya ia pergi ke pasar mencari orang yang mau diajak makan bersama. Nabi Muhammad SAW menegaskan dan sekaligus mencontohkan dirinya sebagai orang yang sangat mencintai tamu, tanpa membedakan jenis kelamin, etnik, dan agama. Bagi umat Islam memuliakan tamu sudah merupakan suatu keharusan sebagaimana ditegaskan pada hadist di atas. 

Berita Terkait : Pelajaran Diplomasi Publik (9) Kenegarawan Nabi

Dalam kitab-kitab hadist ditemukan suatu bab khusus tentang kemuliaan tamu (takrim al-dhaif). Suatu ketika Rasulullah kedatangan tamu non muslim berjumlah 60 orang, 14 orang di antaranya dari kelompok Kristen Najran. Rombongan tamu dipimpin oleh Abdul Masih. Rombongan ini diterima di Mesjid dengan penuh persahabatan.

Bahkan menurut Muhammad ibn Ja’far ibn al-Zubair, sebagaimana dikutip Abdul Muqsith dalam kitab “Al-Shirat al-Nabawiyyah”, karya Ibn Hisyam, Juz II, halaman 426-428, ketika waktu kebaktian tiba, maka rombongan tamu Rasulullah ini melakukan kebaktian di dalam mesjid dengan menghadap ke arah timur. Ia tidak membeda-bedakan tamu berdasarkan kelas dan status sosial. 

Berita Terkait : Pelajaran Diplomasi Publik (10) Berbahasa Diplomasi Santun

Suatu ketika Rasulullah menerima seorang tamu laki-laki Arab pegunungan, kira-kira semi primitif. Tiba-tiba tamu ini beranjak ke sudut mesjid lalu kencing berdiri di situ. Terang saja para sahabat marah dan bermaksud memukulnya. Akan tetapi Rasulullah menahannya dan memerintahkan agar kencingnya ditimbun dengan pasir. 

Bahkan pernah suatu ketika Rasulullah menerima tamu tak diundang, seorang yang sudah lama dicari-cari masyarakat karena terkenal sebagai tukang onar.  Salah seorang sahabat menghunus pedang untuk membunuh orang tersebut, namun ditahan oleh Rasulullah dan mengatakan, biarkan kita dengarkan apa maksud kedatangannya di sini. 
 Selanjutnya 

RM Video