Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Bagi mereka yang sudah sampai ke sebuah tititk temu pasti akan tiba pula kepada sebuah tingkat kesadaran kebersamaan. Jika orang sudah sampai ke tingkat ini, maka pasti akan mudah bagi mereka untuk saling tolong menolong untuk meraih tujuan yang lebih positif-konstruktif, sebagaimana diserukan Allah Swt: Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (Q.S. al-Maidah/5:2). Ada beberapa ayat yang mirip dengan ayat ini. 

Berita Terkait : Mengapresiasi Pendapat Berbeda (1)

Manakala persoalan muncul dan titik temu sulit dicapai, Al-Qur’an menyerukan untuk memusayawarahkan perbedaan dalam segala urusan, sebagaimana dinyatakan dalam ayat: Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. (Q.S. Ali ‘Imran/3:159). Kalau pun musyawarah sulit dicapai, maka tetap kita diminta untu saling memberikan pembenaran meskipun bukan saling memberikan pengakuan, sebagaimana diisyaratkan dalam ayat: Lakum dinukum wa al-tadin (Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”/Q.S. al-Kafirun/109:6).

Berita Terkait : Nabi Selalu Mengedepankan Dialog (2)

 Ayat ini mengisyaratkan satu sama lain boleh saling membenarkan tanpa harus saling memberi pengakuan. Agama-agama lain berhak meyakini kebenarannya masing-masing tetapi kita pun berhak mengakui kebenaran agama kita sendiri, tanpa harus memperhadap-hadapkannya satu sama lain. 

Berita Terkait : Nabi Selalu Mengedepankan Dialog (1)

Inilah arti dan maksud ayat: Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. (Q.S. al-Maidah/5:48). Setiap orang berhak tah komunitas memegang teguh komitmen lokalnya masing-masing tanpa harus saling mengusik orang atau komunitas lain, karena bagaimanapun manusia pada dasarnya sama dan berasal-usul dari unsur yang sama serta tempat kembalinya pun sama, Inna lillah wa inna ilaihi raji’un. Demikian ditegaskan dalam Q.S. al-Baqarah/2:156). ***