Kuncinya Di Tangan TNI Dan Polri

Prof. Tjipta Lesmana
Prof. Tjipta Lesmana

 Sebelumnya 
Panglima TNI di lain kesempatan mengatakan TNI akan turun dengan kekuatan penuh, termasuk alutsista yang dimilikinya. Pangdam IV/Diponegoro, Mayjen TNI Mochamad Effendy mengingatkan kelompok mana saja yang hendak mengganggu Pemilu bahwa TNI sudah siapkan penembak jitu di tempat-tempat yang rawan.

Genderang perang seolah sudah ditabuhkan oleh TNI sebagai peringatan keras terhadap kelompok mana saja yang mencoba mengacaukan, bahkan menggagalkan pemilu. Memang siapa yang hendak mengacaukan Pemilu?

TNI, Polri dan aparat intelijen, tampaknya, sudah memiliki data yang memadai. Pemilu 2019, menurut hemat kita, akan lebih panas dan lebih besar potensi konfliknya.

Meski ada pihak yang mengingatkan kita semua bahwa pemilu bukan semata-mata untuk meraih kekuasaan, melainkan bagian dari sistem demokrasi yang berlangsung secara periodik, tapi ujung-ujungnya memang untuk meraih kursi kekuasaan.

Berita Terkait : Perang Propaganda Semakin Panas

Kubu yang satu hendak mempertahankan kekuasaannya at all cost; kubu lainnya juga akan berjuang mati-matian untuk merebut kursi presiden.

Bagi Prabowo Subianto, inilah kesempatan terakhir untuk berjuang merebut kursi presiden. Jika Prabowo kalah lagi, setelah 2X kalah, karier politiknya hampir dipastikan akan tamat selamanya. It’s now or never, teriak Amien Rais yang ditujukan kepada calon presiden 02.

Di mata Kubu 01, Jokowi-Amin harus menang, karena prestasi kerja pemerintah Jokowi-JK yang begitu gemilang dan harus dilanjutkan, menurut keyakinan para pendukung Jokowi.

Berbagai modus operandi bisa dilancarkan oleh kubu mana pun untuk meng-goal-kan tujuan masing-masing. Kecuali kubu 01 dan 02, tidak mustahil ada pula pihak ketiga, karena kepentingan tertentu, yang mencoba memancing di air keruh, bahkan mengadu-domba kedua kubu yang resmi maju ke Pemilu 2019.

Berita Terkait : Kasus Siti Aisyah Jangan Digoreng

Massa ratusan ribu bisa saja dimainkan, tudingan “curang” dan “curang” bisa dilemparkan seenaknya terus-menerus, informasi Hoaks akan tambah panas dan tambah gencar terutama sebagai alat adu-domba, provokasi oknum tertentu untuk membangkitkan emosi publik adalah cara kuno yang tetap efektif untuk masyarakat kita yang sebagian besar masih rendah pendidikannya dan kurang paham tentang perpolitikan.

Saat-saat rawan bisa terjadi antara lain:

(a) Ketika rakyat diancam (secara halus maupun terang-terangan) sebelum datang ke bilik suara;

(b) Penghitungan suara;

Berita Terkait : Robertus, Kebebasan Yang Kebablasan

(c) Pengiriman kotak suara dari satu lokasi ke lokasi lain (ratusan ribu tempat penghitungan suara, apa personel Polri cukup untuk mengawalnya?) dan

(d) Ketika Bawaslu menerima laporan dugaan kecurangan dari kontestan pemilu, ketika Mahkamah Konstitusi memproses gugatan sengketa Pemilu yang diajukan kontestan.

Di semua titik rawan itu, pengerahan massa bisa terjadi. Di setiap negara yang pendidikan rakyatnya belum memadai dan kesadaran politiknya masih rendah, segala bentuk permainan curang memang bisa terjadi.

Semua titik rawan itu mesti dikawal ketat oleh aparat keamanan. Di sinilah pentingnya peran TNI dan Polri. Tidak berlebihan jika dikatakan kunci keberhasilan pemilu ada di tangan TNI dan Polri, tanpa mengurangi peran-serta KPU, Bawaslu, seluruh lapisan masyarakat dan partai politik.
 Selanjutnya