Perang Propaganda Semakin Panas

Prof. Tjipta Lesmana
Prof. Tjipta Lesmana

 Sebelumnya 
Beberapa waktu yang lalu Joko Widodo diisukan bukan Muslim atau diragukan keislamannya. Kini tiba- tiba Prabowo mendapat tohokan serupa.

Juru bicara FPI, Munarman, menuduh pengakuan Ketua Umum PBB, Yusril Ihza Mahendra soal percakapannya dengan Habib Rizieq Syihab tentang keislaman Prabowo adalah suatu kebohongan dan bersifat adu-domba.

Yusril pun menangkis dan berkelit bahwa percakapan dengan Rizieq NYATA dan ASLI. Ia bahkan mengaku setiap saat bisa menelpon dan bercakap-cakap dengan Habib Rizieq.

Berita Terkait : Membangkitkan Rasa Takut Dan Mengancam, Efektifkah?

Toh, Munarman menangkis lagi: “Fakta bahwa telpon tersebut melalui pihak ketiga dan bukan dalam konteks pencapresan.

Dalam hal ini Yusril berbohong dan sengaja misleading informasi, seolah dia bisa setiap saat telpon-telponnya dengan Rizieq....” Memang satu hal yang sangat memprihatinkan kita semua menjelang Pemilu 2019 adalah menjadikan agama sebagai senjata pamungkas untuk menghantam lawan.

Padahal sebagai negara multi agama, multietnik, dan multi suku, sangat rentan untuk menimbulkan konflik sosial. Itulah sebabnya pada era Soeharto, masyarakat diingatkan untuk tidak sembarang meributkan SARA dengan arahan yang tidak benar.

Berita Terkait : Kuncinya Di Tangan TNI Dan Polri

Namun, di era reformasi, banyak pihak yang bertanya-tanya: Kenapa kita tidak boleh omong tentang SARA? Kenapa masalah SARA disembunyikan di kolong ranjang?

Sebetulnya, bukan tidak boleh bicara atau diskusi tentang agama, yang bahaya adakah mempolitisasi agama, agama dijadikan kepentingan politik. Ini yang bahaya, Bung! Propaganda juga sangat gencar di ranah survei opini.

Makin dekat pemilu, lembaga-lembaga survei seolah balapan menggelar survei opini dan mempublikasikannya secepat kilat.

Berita Terkait : Kasus Siti Aisyah Jangan Digoreng

Ada sekitar 10 lembaga survei yang menjagokan pasangan 01, sebaliknya 1 atau 1 lembaga survei yang mengatakan Prabowo-Sandi unggul. Jadi, Prabowo-Sandi pasti kalah? Politik bukan ilmu matematika yang 2+2 PASTI 4. Dalam politik, 2+2 bisa saja 5, bahkan 3.. !

Tentang survei/polling, dari semula saya selalu mengingatkan publik untuk ekstra hati-hati waktu membaca hasil survei lembaga polling mana pun. Dengan sendirinya, jangan ditelan bulat-bulat.

Akurasi dan validasi opini publik dipengaruhi oleh banyak faktor, sehingga bisa benar bisa juga menyesatkan. Nah, bagi yang hendak mendalami kebenaran survei opini, saya persilakan baca secara saksama tulisan Prof. Russell D. Renka, Guru Besar Ilmu Politik Southeast Missouri State University, AS, yang berjudul “The Good, The Bad, and The Ugly of Public Opinion Poll”.
 Selanjutnya