Membangkitkan Rasa Takut Dan Mengancam, Efektifkah?

Prof. Tjipta Lesmana
Prof. Tjipta Lesmana

 Sebelumnya 
Jika keyakinan itu tidak ada, ancaman, sebesar apa pun, takkan digubris. Istilah populer kita: Ah, dia hanya gertak sambal! Jangan dengarkan! Kedua, jika pemimpin pernah sekali, apalagi dua kali meluncurkan komunikasi FAC tanpa dilaksanakan, maka wibawanya akan anjlok.

Di lain kesempatan, jika ia pakai FAC lagi, orang takkan perhatikan. Pasti omong kosong dia. Ketiga, pemimpin jangan terlalu sering melontarkan FAC.

Ingat, terlalu banyak omong, komunikasi sering menimbulkan efek bumerang, menampar muka sendiri. Makin sering Anda gertak/ancam banyak orang, bobot komunikasi FAC Anda makin melorot.

Sebaliknya, jika Anda sungguh-sungguh melaksanakan ancaman itu, apa pun risikonya, maka di lain kesempatan, komunikasi FAC yang Anda luncurkan akan memiliki pengaruh besar. Jangan coba-coba meremehkan gertakan dia, Bung !

Berita Terkait : Selamat Nyoblos, Bung!

Intinya, pemimpin, apalagi pemimpin level presiden/calon presiden, jangan terlalu sering melancarkan gertak-sambal atau mengancam dengan harapan khalayak bisa takut, lalu menuruti kemauan komunikator.

Contoh paling gamblang dalam hal ini adalah Presiden Donald Trump. Ia sering mengeluarkan ancaman kepada lawannya, tapi ketika pada ranah eksekusi, ia ragu, bahkan “dilupakan” begitu saja.

Sudah begitu, banyak pembantu dekat Trump dicopot, dan rupanya masih akan banyak lagi menteri/pembantu dekat Presiden yang diberhentikan atau terpaksa mengundurkan diri. Fenomena ini pun menurunkan wibawa sang Presiden.

Presiden Xi Jin-ping bukan pemimpin yang gampang digertak. Makin digertak, ia makin keras melawan. Jangan lupa, RRT saat ini punya cadangan devisa sekitar 3 triliun dolar. Dengan negara mana pun, RRT tidak takut digertak.

Berita Terkait : Perang Propaganda Semakin Panas

Prabowo Subianto terlalu sering meluncurkan fear-arousing communication, dan terlalu sering melontarkan janji atau pernyataan yang tidak logis. Korupsi diserang habis, utang negara diungkit-ungkit terus seolah negara ini nyaris hancur.

Ketika ia mengklaim “Ibu Pertiwi diperkosa”, enggak jelas siapa yang memperkosanya. Prabowo juga mungkin lupa, perekonomian nasional saat ini tidak sepenuhnya produk pemerintah Jokowi-JK, sebagian adalah warisan dari pemerintah SBY.

Bahwa pemerintah Jokowi di sana-sini mempunyai kelemahan, saya setuju sekali dan Presiden Jokowi serta para pembantunya pun harus mengakui secara ksatria. Tapi jika dituding pemerintah Jokowi, dilihat dari segala aspek, jelek bahkan super-jelek, saya kira ini tudingan yang tidak logis dan sangat berlebihan.

Toh, kita harus mengakui bahwa dalam pertarungan politik, pihak oposisi memang sudah kodratnya untuk menyerang dan menyerang. Sebaliknya, pihak petahana lebih bersifat defensif, mempertahankan dan membesar-besarkan “capaiannya” selama memimpin.

Berita Terkait : Kuncinya Di Tangan TNI Dan Polri

Namun, ada satu hal yang lucu sekali dan bikin publik tertawa dari aspek komunikasi, yaitu Prabowo Subianto ketika berdebat dengan Jokowi kerap mengatakan “Dalam hal ini pendapat kita sama. Kalau sama, apa yang mau didebatkan lagi?!”

Pernyataan seperti ini menunjukkan Prabowo seolah “kehabisan peluru”, atau kehilangan nafsu untuk berdebat, amat berbeda dengan pidato-pidatonya dalam kampanye terbuka yang selalu emosional, terus menyerang, kadang gebrak podium pula! ***