Pilihan Makar dan Makarti Rajamala

DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo

RMco.id  Rakyat Merdeka - Dewan Pemilihan Tinggi Turki memerintahkan pemilihan ulang pemilihan walikota Istambul. Partai pengusung Presiden Recep Tayyip Erdogan kalah tipis dengan partai oposisi.

Presiden Erdogan memulai karier politiknya menjabat sebagai wali kota pada awal tahun 1990 an menjadi orang kuat di Turki menuduh telah dicurangi oleh partai oposisi. Kemenangan oposisi disebabkan oleh penyimpangan masif dan “pencurian di kotak suara”.

Kecurangan yang dilakukan oposisi merupakan tindakan antidemokrasi. Tuduhan Erdogan ke pihak oposisi tersebut justru memperlemah dirinya sendiri. Sebaliknya posisi Imamoglu sebagai ketua oposisi Turki semakin kuat dan popular.

“Apa yang terjadi di Turki rupanya menular ke berbagai negara seperti Hongaria dan Amerika, untung tidak merambat ke sini Mo,” celetuk Petruk. Romo Semar tidak mau menanggapi komentar Petruk.

Berita Terkait : Kisruh Pasca Perang Baratayudo

Romo Semar memilih menunggu hasil perhitungan resmi KPU pada tanggal 22 Mei mendatang. Semar berdoa jangan sampai negeri ini terkoyak seperti yang terjadi di Kerajaan Wirata dalam menyikapi hasil pemilu.

Kocap Kacarito, Adipati Kencaka Rupa tidak setuju dengan hasil kepemimpinan Prabu Matswapati selama ini. Untuk merebut tahta kerajaan tidak ada jalan lain harus diadakan sayembara adu jago. Yang diadu bukan jago ayam melainkan jago manusia.

Sebagai taruhannya, siapa yang memenangkan pertarungan dialah yang akan berkuasa di Wirata. Jago yang dipilih adipati Kencaka Rupa adalah Rajamala. Manusia setengah raksasa, terkenal sakti mandraguna.

Konon Rajamala adalah jelmaan dari pecahan perahu yang dipakai Begawan Palasara bersama Durgandini. Menyikapi protes pihak oposisi yang dipimpin Adipati Kencaka Rupa, Prabu Matswapati menugaskan Panglima Seta untuk mencari jago yang mampu melawan Rajamala.

Berita Terkait : People Power Di Kurusetra

Raden Seta keluar masuk hutan mencari jago untuk menyelamatkan kerajaan Wirata. Atas saran juru pasar Dwijakangka, dipilihlah Jagal Bilawa sebagai jago dari Kerajaan. Jagal Bilawa merupakan nama samaran Bima yang sedang “under cover” menyamar sebagai kawulo di Wirata.

Pada hari yang telah ditentukan sayembara adu jago digelar di alun-alun. Pada awalnya, Jagal Bilawa keseser kewalahan melawan kesaktian Rajamala.

Tapi pada babak terakhir, Rajamala dapat dikalahkan dengan kuku Pancanaka milik Jagal Bilawa. “Apa yang dilakukan Adipati Kencaka Rupa dapat dikatagorikan makar Mo,” komentar Petruk.

“Seharusnya menyikapi kekalahan harus dengan makarti bukan makar, makarti artinya kerja keras introspeksi dan menata diri untuk merebut kembali kemenangan,” papar Romo Semar.

Berita Terkait : Redupnya Pamor Harjuna Sasrabahu

Risiko politik pemimpin populer di era digital. Kemenangan dan kekalahan bedanya sangat tipis. Tergantung bagaimana mengelola silent voter yang akan terus memenangkan dirinya. Seperti apa kata Nancy Pelosi, Ketua DPR Amerika.

Kalau Donald Trump mau maju lagi menjadi presiden di tahun 2020 harus memiliki suara yang memenangkan dirinya di atas 10 persen. Kalau tidak krisis politik dan saling gugat akan terjadi di negara pioner demokrasi tersebut. Oye ***