Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - The Islamic Society of North America (ISNA) adalah salah satu organisasi muslim tertua di AS bagian utara. ISNA memiliki sejarah panjang dengan pengalaman pasang-surut yang pernah dialaminya.

Dalam catatan perjalanannya, ISNA dihubungkan dengan keberadaan Muslim Brotherhood (Ikhwan al-Muslimun/IM) yang memiliki hubungan emosional dengan kelompok IM di Timur Tengah yang gigih memperjuangkan pembebasan Palestina dari cengkeraman Israel. Cikal bakalnya dianggap berasal dari the Muslim Students Association yang pernah dianggap salahsatu entitas dari gerakan IM. Di antara tokoh IM ialah Ahmed Elkadi, keturunan Mesir dan Abdurrahman Alamudi. Nama terakhir ini pernah dicurigai kelompok hard liner.

Sikap pemerintah AS terhadap ISNA pernah agak khawatir, terutama dengan adanya sejumlah anggotanya lebih respek terhadap kelompok garis kelras. ISNA ditengarai memiliki agenda tersembunyi di balik agenda-agenda sosial keagamaan yang selama ini dilakukan. Namun perkembangan terakhir, terutama setelah perubahan pengurus, tampak ISNA lebih orisinal memperjuangkan hak-hak orang Islam yang bermasalah, tanpa melibatkan diri terhadap kelompok terlarang secara internasional seperti Alqaedah, ISIS, dan kelompok garis keras lainnya.

Berita Terkait : The Council on American-Islamic Relations (CAIR)

ISNA memerlukan cukup banyak waktu untuk membersihkan kembali citra perjuangannya setelah sejumlah anggotanya terlibat memberi dukungan terhadap kelompok radikal.

Kini ISNA banyak melakukan advokasi terhadap kelompok muslim di AS bagian utara secara non-provit. ISNA berusaha untuik mengembalikan kekuatan dirinya sebagai salahsatu wadah untuk mendukung persatuan dan kesatuan umat Islam di Kawasan.

Terlihat di dalam website yang dikelola alhamdulillah kini ISNA semakin tegar di tengah tantangan zaman. ISNA berusaha menghiger tenaga-tenaga professional dalam dirinya, mungkin ada dari state lain tertarik untuk mengisi kegiatan di antara sekian daftar program kerja yang ditawarkan di dalam ISNA. Seperti ormas-ormas lainnya, ISNA juga berusaha merangkul segenap komunitas muslim yang ada di AS bagian utara untuk bersama-sama membangun peradaban bisnis, yang pada saatnya bisa memberikan kekuatan wrga umat Islam di AS.

Berita Terkait : Mengenal Ormas Islam di AS: American Muslim Council (AMC)

Sejauh ini ISNA banyak menghaiger aktifis mahasiswa, khususnya yang beragama Islam untuk kembali membesarkan umat melalui ISNA. Pengurusnya yang pro-aktif melakukan loby, bukan hanya kepada komunitas muslim tetapi juga warga AS lain yang tertarik untuk mengembangkan civil society.

Presiden ISNA, Mohamed Magid, ikut juga dengan gigih mengikuti perkembangan penanganan umat Islam di AS. ISNA memberikan dukungan sepenuhnya terhadap usaha dan program deradikalisasi yang dilakukan pemerintah AS.

Bersama-sama dengan seluruh jaringan internasionalnya, ISNA memberikan kontribusi nyata dengan mengajak kepada segenap umat Islam untuk menjauhi kekerasan di dalam beragama. Kekerasan apalagi terorisme tidak akan pernah mengangkat martabat umat Islam. Bahkan sebaliknya, menodai citra positif Islam sebagai agama pembebasan.

Berita Terkait : Mengapa Islam Begitu Menarik Di AS?

Jurnal dan artikel yang diforward melalui media ISNA, termasuk diskusi-diskusi rutin yang dilakukan di lingkungan internal ISNA juga mempunyai tema yang sama: Bagaimana mengembalikan ciptra positif Islam dan umat Islam di AS pasca 9/11. Kematangan para anggota ISNA juga tergambar dengan sikap arif mereka menanggapi statemen Donald Trump yang agak menyudutkan Islam.

Kesabaran dan pengertian yang mendalam dilakukan komunitas Islam di AS justru melahirkan simpati dari kalangan warga non-muslim AS, khususnya dari kelompok minoritas. Islam dan umat Islam di AS saat ini mendapatkan simpati dari warga AS, khususnya yang tergabung di dalam organisasi yang non-mainstream.***