Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar

RMco.id  Rakyat Merdeka - The American Islamic Congress (AIC) didirikan pada tahun 2001 di Washington DC. Organisasi ini didirikan untuk mengantisipasi dampak kejadian peristiwa 9/11. AIC didirikan untuk mengatasi persoalan stereo typing umat Islam di AS. Jika warga AS terus menerus berpandangan negative terhadap komunitas muslim secara keseluruhan di AS tentu akan menimbulkan disharmony bagi sebagian warga AS sendiri.

Tidak sedikit di antara warga muslim di AS adalah warga negara AS. Bahkan sebagian besar di antara mereka adalah kaum professional, sebagaimana dijelaskan dalam artikel terdahulu. Umumnya warga muslim AS warga yang taat, termasuk taat di dalam membayar pajak.

AIC juga berusaha untuk mempromosikan toleransi antar umat beragama dan antar etnik di AS. Promosi toleransi sangat penting dan selalu menjadi prioritas kebijakan AS. Bukan hanya antar umat beragama dan etnik di dalam negeri AS tetapi garis politik LN AS juga selalu mempromosikan toleransi. AS sering bersuara keras bahkan menghukum sebuah negara yang melanggar HAM. Kehadiran AIC memberikan dampak positif bagi penyatuan kembali antar etnik dan antar umat beragama di AS, terutama pasca 9/11.

Berita Terkait : Mengenal Ormas Islam Di AS: Interfaith Youth Core (IFYC)

AIC amat aktif menjalin kerjasama antar komunitas religi di AS, termasuk tentunya dengan lembaga-lembaga pemerintah dan NGO. AIC sering mengadakan joint program dengan organisasi-organisasi lain dalam even-even tertentu. AIC dalam waktu dekat semakin polpuler khususnya di AS bagian utara.

AIC mempunyai salah satu program andalan yang disebut dengan “Project Nur”.

Proyek ini menggalang warga kampus di berbagai University di AS untuk mengadakan dialog dan konferensi tentang interfaith. Mereka juga menghimpun tulisan-tulisan yang menitik beratkan titik temu antar berbagai agama. Mereka mengusung isu bahwa agama untuk manusia dan kemanusiaan. Agama bertujuan untuk membebaskan dan mencerahkan umat manusia, bukannya sebaliknya menimbulkan ketakutan dan ancaman satu sama lain. AIC juga sampai menembus sejumlah negara melalui kerjasama antara university.

Berita Terkait : The Council on American-Islamic Relations (CAIR)

Isu- isu yang diangkat ialah isu toleransi interfaith. Termasuk juga yang sering diangkat ialah aspek sains di dalam agama, yakni bagaimana memaralelkan isu sains dan nilai-nilai moral keagamaan.

Program internasional lain yang dilakukan AIC ialah mensponsori festifal film yang bertema Pendidikan dan HAM di Mesir, membuat novel dan komic yang bertema toleransi dan HAM yang diterjemahkan ke dalam beberapa Bahasa sehingga bisa dibaca di sejumlah negara.

Demikian pula aktif untuk mempromosikan keadilan gender yang selama ini masih sering dipermasalahkan antara agama dan relasi gender. Sama dengan isu anak-anak dan kekerasan dalam rumah tangga dan di jalanan, AIC juga ikut terlibat agar masyarakat tercerahkan.

Berita Terkait : Mengenal Ormas Islam Di AS: ISNA

Tidak heran jika AIC dalam waktu tidak terlalu lama sudah dikenal luas bukan hanya di AS tetapi juga di negara-negara lain, terutama di negara-negara mayoritas penduduknya muslim. Kehadiran OIC ikut meredam ketegangan dan stigma negatif terhadap Islam dan umat Islam pasca 9/11.***