RMco.id  Rakyat Merdeka - Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera mengungkit istilah cicak VS buaya saat menyampaikan keinginannya untuk menjadi oposisi bagi pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin. 

Mardani menyatakan, oposisi yang terbaik adalah bergabung bersama rakyat. Menurutnya, siapapun yang membela kepentingan rakyat sekecil apapun, maka akan menjadi besar. Dia mencontohkan, “cicak” berhasil mematahkan perkiraan tidak mungkin menang menghadapi “buaya” ketika itu karena didukung rakyat. 

Istilah cicak VS buaya, seperti diketahui, personifikasi yang diciptakan Kepala Bareskrim Susno Duadji pada 2009. Pengibaratan itu menggambarkan pertarungan antara KPK dengan Polri. KPK diibaratkan sebagai cicak, sedangkan Polri diibaratkan sebagai buaya kala itu. 

Mardani pun menyampaikan, ketika oposisi kuat, maka akan memberikan keuntungan untuk rakyat, karena mekanisme penyeimbang atau check and balances akan berjalan. Sebaliknya, lanjut dia, oposisi akan menjadi lemah dan merugikan rakyat bila jumlah partai politik yang tergabung di dalamnya hanya sedikit. 

Baca Juga : Top, WIKA Sabet 5 Penghargaan Bergengsi BUMN Marketeers Award 2020

Berangkat dari itu, Mardani mengajak semua partai pengusung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno untuk mengambil posisi oposisi. Dia berkata, menjadi oposisi bukan berarti benci dengan pemerintah atau Jokowi, melainkan bisa menjadi pendorong pemerintah jika bekerja lambat. 

Apa sebetulnya maksud Mardani? Apakah ini manuver untuk membujuk PAN dan Demokrat supaya tidak bergabung dengan koalisi pemerintah? Bagaimana pula respon kubu 01 terhadap pernyataan Mardani ini? Berikut tanya jawabnya.

Partai Gerindra memberikan sinyal akan menjadi oposisi. Apakah PKS bakal jadi oposisi juga? 
Mengenai hal tersebut, resminya menunggu musyawarah Majelis Syuro PKS. Akan tetapi, buat saya pribadi, oposisi kritis dan konstruktif merupakan pilihan paling rasional dalam kondisi sekarang ini (bagi yang kalah dalam Pilpres). 

Rasionalnya seperti apa? 
Kami harus mengakui kemenangan Pak Joko Widodo dan Pak Kiayi Ma’ruf Amin dalam Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019. 

Baca Juga : Mandiri Syariah Raih Penghargaan Market Leadership Award 2020

Tidak mau bekerja sama dengan pemenang Pilpres untuk membangun negeri ini? 
Semua mencintai negeri ini, namun tidak harus bersama dalam koalisi di pemerintahan. Melainkan, ada yang menjadi oposisi kritis dan konstruktif. Nah, secara pribadi, saya ingin PKS berperan membangun negeri ini sebagai oposisi.
 
Kalau yang oposisi hanya Gerindra dan PKS, apakah cukup kuat? 
Oposisi terbaik itu sebetulnya bukan dengan partai politik, tapi dengan rakyat. Siapapun dan sekecil apapun yang membela kepentingan rakyat, maka dia akan menjadi besar. Sedikit apapun, dia akan menjadi banyak. 

Seperti yang Anda maksud cicak VS buaya itu? 
Ingat kan kisah cicak VS buaya. Masa iya cicak bisa menang. Tetapi, ketika cicak didukung rakyat, maka cicak yang menang. 

Akan memperkuat oposisi lewat perwakilan rakyat di parlemen? 
Kalau kami (pengusung Prabowo-Sandi) bersama di parlemen, itu lebih utama dan lebih baik lagi untuk kedewasaan. Misalnya, kalau pemerintah belum mampu menurunkan harga tiket pesawat dalam negeri, maka kami berikan solusi. Baiknya seperti itu dalam pandangan saya. 

Upaya ini berpengaruh terhadap publik? 
Kalau oposisi kuat, maka yang diuntungkan publik. Sebab, ada check and balance sistem. Tapi kalau semua partai politik pindah ke koalisi pemerintah dan oposisi sedikit, maka yang dirugikan bukan PKS, melainkan publik. Karena itu, kami mengimbau publik ikut serta dalam proses ini, jangan diam saja. 

Baca Juga : Manager HRD Hilang, Ditemukan Sudah Dimutilasi

PKS akan mengambil sikap oposisi supaya tidak mengkhianati 68 juta suara? 
Saya merasa, konstituen PKS itu adalah pemilih Prabowo-Sandi juga, meskipun saya tidak tahu dengan yang lain, apakah merasa begitu. Saya rasa pemilih Prabowo-Sandi ingin menjadi antitesa dari pemerintahan Jokowi. 

Apa harapan Anda? 
Harapan saya, PKS beroposisi bukan dengan Gerindra saja, tapi juga PAN, Demokrat dan Berkarya yang selama 9-10 bulan sudah membangun kesamaan, lalu dilanjutkan. Antitesa pemerintahan juga baik. Antitesa itu bukan benci. Tidak ada benci, tapi antitesa. 

Contoh konkretnya? 
Kalau pemerintah punya kebijakan quote unquote, katakan liberal, maka kami harus kembalikan ke tengah. Pun kalau pemerintah punya kebijakan yang lambat, maka kami mau mempercepat. Nah, jika seperti ini, yang untung adalah rakyat.
 
Adakah upaya PKS untuk meyakinkan PAN dan Demokrat agar menjadi oposisi? 
Tidak ada upaya yang serius, karena masing-masing partai punya kebebasan. Tapi kita bicara di ruang publik, mari semua rekan-rekan koalisi 02 yang sudah bubar, kita bertransformasi menjadi kaukus. Kita sama-sama bangun negeri ini, walaupun jadi oposisi, tapi tetap pekerjaan yang mulia. [UMM]