Panggung Politik Ramai Ngomongin Dukungan Surya Paloh Untuk Anies Baswedan

IRMA SURYANI : Dukungan Untuk Gubernur, Bukan 2024

Klik untuk perbesar
IRMA SURYANI, Ketua DPP Nasdem

RMco.id  Rakyat Merdeka - Ketua Umum Partai Nasional Demokrat alias Nasdem, Surya Paloh bertemu dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Kantor DPP Nasdem, Jakarta, Rabu (24/7). “Sudah pastilah dukungan lahiriyah batiniyah,” kata Paloh tentang Anies Baswedan. 

Ini menimbulkan tanda tanya. Sebab, pada Pilgub 2017, Nasdem bukan parpol pengusung Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Terlebih, Fraksi Nasdem Di DPRD DKI menjadi fraksi yang paling vokal mengkritisi kinerja mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu. 

Di waktu bersamaan, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri bertemu dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Dua pertemuan yang terjadi nyaris secara bersamaan, banyak yang menilai sangat beririsan. 

Hal ini juga menyusul adanya kabar ketidakhadiran perwakilan PDIP saat Paloh menginisiasi pertemuan parpol koalisi pengusung Jokowi-Ma’ruf Amin di Kantor DPP Nasdem, Jakarta, Senin (22/7). 

Berita Terkait : Pak Anies, Kok Baru Nyisir Anggaran di Detik Terakhir?

Meski demikian, usai bertemu Prabowo, Mega mengklarifiksi ketidakhadiran perwakilan PDIP saat itu lantaran sedang berada di luar negeri dan persiapan Kongres V PDIP, Agustus mendatang. 

Lantas, apa maksud Surya Paloh dan tanggapan PDIP  mengenai hal ini. Berikut wawancaranya.

Dalam pertemuan itu Nasdem mendukung Anies Baswedan pada 2024? 
Pertemuan Ketua Umum Partai Nasdem dengan saudara Anies Baswedan adalah forum silaturahmi biasa. Pada pertemuan tersebut, keduanya hanya membicarakan persoalan DKI Jakarta. 

Apa yang Surya Paloh nyatakan? 
Pak Surya menyatakan, sepanjang Anies mampu menunjukkan prestasi dalam membangun DKI di semua sektor, tentu Nasdem akan memberikan dukungan. 

Baca Juga : Peluang Kerja Sama Proyek Transportasi Strategis Terbuka Lebar

Apakah mendukung Anies sebagai capres 2024? 
Tidak membicarakan soal 2024, karena masih terlalu jauh, dan tidak elok dibicarakan sekarang, mengingat pilpres baru saja usai. 

Pemberian dukungan tersebut hanya untuk konteks DKI? 
Iya. Selama ini Nasdem belum pernah ketemu dengan Gubernur DKI Pak Anies Baswedan. Karena, kami memang nggak dukung dia pas pilkada kemarin. Jadi selama ini, memang kami lebih banyak mengkritisi beliau. Nah, Pak Anies ini kebetulan deklarator ormas Nasdem, dan kebetulan juga Pak Surya Paloh ulang tahun. Makanya, terjadilah silaturahim, biasalah itu. Kemudian di pertemuan itu, banyak yang disampaikan pak Surya Paloh. 

Bagaimana bisa sampai ada kabar dukungan untuk 2024? 
Ada wartawan yang tanya, ‘ini gimana nih Pak Surya?’ Ya pak Surya bilang, ‘sepanjang Pak Anies berprestasi, kami dukung, kami support’. Artinya, dalam rangka memberikan dukungan sebagai Gubernur DKI, bukan untuk 2024, terlalu jauh. 

Baru saja pilpres selesai, masa sudah ngomongin yang akan datang , nggakmasuk akal. Bukan Surya Paloh banget gitu lho. Sebagai Gubernur DKI saja kami belum tentu kasih dukungan, kalau dia nggak punya prestasi. Bagaimana mau jadi presiden. Iya dong, dia harus menunjukkan dulu prestasinya. 

Baca Juga : Top, Kantor Basuki Raih Penghargaan Informatif

Apakah dalam pertemuan itu ada pembicaraan soal 2024? 
Nggak ada sama sekali. Baru dukungan sebagai Gubernur DKI. Kalau soal 2024 masih jauh, baru saja pilpres selesai, masa sudah bicara 2024. Memalukan gitu lho. 

PDIP sepertinya kecewa. Itu bagaimana? 
Nggak, Eva Kusuma Sundari juga sudah saya informasikan, dan kemarin sudah klarifikasi di TV. Saya sudah sampaikan kepada Mbak Eva, jangan reaktif. Kalau nggak ngerti duduk masalahannya, jangan reaktif, terus saya jelaskan. 

Berarti sudah clear dengan PDIP ya mengenai hal ini? 
Nggak ada persoalan, ngapain di-clear-kan. Memang nggak ada masalah. Kalaupun 2024 kami mendukung Anies, terus apa persoalannya. Kan 2024 pak Jokowi sudah nggak nyalon lagi. Kalau pun betul ya. Misalnya 2024 Anies berprestasi, terus kami dukung. Apa masalahnya. Dengan partai lain juga nggak ada masalah. Lalu apa yang di-clear kan. Yang harus meng-clear-kan itu yang reaktif mengomentari. Kami nggak mau reaktif mengomentari partai lain. 

Saran Anda? 
Ini juga jadi pelajaran bagi para politisi yang suka reaktif, yang nggak bicara by data. Kalau mau bicara itu tahu dulu masalahnya. Saya kalau mau diwawancara itu, suka minta link beritanya dulu sama teman-teman wartawan. [NDA]