Pengelolaan Sampah DKI Jakarta Ramai Diomongin Politisi

Bestari Barus : Jakarta Lebih Banyak Di Persoalan Hilir

Klik untuk perbesar
Bestari Barus, Ketua Fraksi Nasdem DPRD DKI

RMco.id  Rakyat Merdeka - Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapem Perda) DPRD dan Pemda DKI berkunjung ke Surabaya, Jawa Timur untuk studi banding soal pengelolaan sampah. Hal ini disambut baik Walikota Surabaya Tri Rismaharini. 

Bestari Barus yang termasuk dalam rombongan DPRD DKI menyampaikan, tempat pembuangan sampah di Bantargebang, Bekasi, akan over kapasitas pada 2021. Sedangkan Pemprov DKI baru berencana membangun TPA pada 2020. 

“Apakah Ibu Risma mau kita boyong ke Jakarta dalam waktu dekat? Masalah sampah ini bisa terselesaikan kalau Pilkada mendatang Bu Risma pindah ke Jakarta,” kata Bestari yang juga Ketua Fraksi Nasdem DPRD DKI di Ruang Sidang Balai Kota Surabaya, Senin lalu (29/7). 

Apalagi, Bestari juga mengkritik Pemprov DKI Jakarta terkait soal jumlah anggaran yang terbilang besar. Namun, masalah sampah di Ibukota masih menjadi pekerjaan rumah yang juga terbilang besar. “Anggarannya 4 kali lipatnya dari Surabaya ini,” lanjut Bestari. 

Gubernur DKI Anies Baswedan menilai, Bestari menceritakan pengelolaan sampah selama ini, sebelum era Anies. Sedangkan Anies tengah berusaha untuk mengubah menjadi lebih baik. Antara lain, mengubah sampah menjadi energi. 

Berita Terkait : Anies Baswedan : Untuk Perhatiannya, Kami Apresiasi

Yang jelas, pengelolaan sampah lagi ramai di mulut politikus. Lantas, bagaimana penjelasan Bestari dan tanggapan Pemprov DKI ihwal ini. Berikut wawancaranya.

Dalam rangka apa ke Surabaya? 
Kami kunjungan kerja. Tipping fee yang ada pada peraturan daerah, namun di Jakarta belum. Maka dari itu, kami ke sana untuk studi banding dan bicara tentang pengelolaan sampah. Sudah, itu saja. 

Kabarnya, Anda mengajak Tri Rismaharini ke Jakarta? 
Oh, tidaklah. Itu kan kutipan kawan-kawan wartawan. Ya, mungkin diartikan mengajak. Sedangkan kapasitas saya siapa mengajak Bu Risma. Yang bisa mengajak-mengajak itu ialah petinggi partai politik. Kalau kami, mana bisa mengajak-ngajak. Yang dikutip kawan wartawan seperti itu. 


Tapi, Risma mau membantu Jakarta. Bagaimana itu? 
Namanya ada orang mau membantu. Jangankan Risma, toh sekarang ini kita lagi meminta bantuan asing untuk menuntaskan masalah intermediate treatment facility (ITF) Sunter dengan mengundang beberapa perusahaan asing yang memiliki tekhnologi. 

Sama orang asing kita terbuka, masak dengan anak bangsa yang ingin bantu, baik dari Surabaya atau Papua yang memiliki katakanlah solusi, ya didengar saja. Kalau cocok dijalankan, dan kalau tidak cocok diabaikan saja. 

Berita Terkait : Polusi Udara Jakarta Disumbang 20 Juta Kendaraan

Maksudnya mengajak Tri Rismaharini membantu Jakarta pada Pilkada 2022? 
Oh, kalau memang interpretasinya seperti itu, silakan tanya ke Bu Risma. Kalau misalnya Bu Risma ingin maju atau mungkin saya, atau siapa saja yang persyaratannya lengkap dan terpenuhi sesuai undang-undang, ya jalan saja. Tentunya juga ada yang mendukung dari parpol. Mudah-mudahan saja kalau Pilkada itu ramai, bagus dan legitimate. 

Anda ke Surabaya membahas soal sampah. Apakah ada yang salah dari pengelolaan sampah di Jakarta? 
Saya kira bukan salah atau benar, tapi lebih kepada harus dilakukan sesuatu yang baru. Yaitu, lebih mengoptimalkan sektor penanganan di hulu. Jakarta itu lebih banyak di persoalan hilir. Padahal, Jakarta itu harus lebih banyak memikirkan hulunya. Kesadaran masyarakat yang perlu dimaksimalkan untuk DKI. 

Persoalan ini bukan hanya di periode Anies Baswedan kan? 
Saya tidak akan masuk ke sana. Tapi yang paling penting adalah, pada hari ini kami menyarankan agar pemerintah daerah lebih memperhatikan di tingkat hulu. Karena belajar dari Surabaya, meskipun anggaran mereka lebih kecil, tapi berhasil memaksimalkan penanganan di hulu. 

Bukannya ITF Sunter itu solusi? 
Jadi begini, keniscayaan ITF Sunter itu adalah solusi karena Bantargebang dalam waktu dekat akan ditutup, sebab sudah over kapasitas. 

Nah, yang menjadi permasalahan, yaitu berkembang pada saat pembicaraan kami dengan Dinas Lingkungan Hidup dan PT Jakpro sebagai projek manager itu, ITF ini daya tampungnya hanya kurang lebih 2200 ton. Sampah di Jakarta itu 7500 ton. 

Berita Terkait : BESTARI BARUS : Agustus, Jakarta Sudah Punya Wakil Gubernur

Bantargebang over kapasitas, kemudian 5300 ton ini yang harus segera dicarikan solusi. Mungkin salah satunya pengefektifan seluruh masyarakat untuk penanganan di hulu, bisa mengurangi 1000 tonsampah per hari. Mungkin, bisa saja kalau dimaksimalkan 2000 ton sampah. Jadi, masyarakat tidak gemar membuang sampah dan memakai kemasan plastik. Itu bisa mengurangi. 

Dari contoh itu, masih tersisa kurang lebih 3000 ton sampah... 
Nah, apa yang kita lakukan dari 3000 itu. Maka dari itu, kami memberi saran agar dilakukan satu percepatan. Bagaimana percepatannya itu. Saya kira banyak ahli yang boleh diajak berdiskusi. 


Persoalan sampah ini berakhir pada sindiran antara Anda dengan Anies... 
Begini lho, terkait kata-kata pensiun itu, sebetulnya bukan pensiun, tapi jabatan saya habis 26 Agustus mendatang. Tentunya sebagai poli¬tisi, saya tidak akan pensiun. Pak Anies salah. Politisi itu tidak ada pensiunnya. [UMM]