BNPB Gagap Menangani Bencana Akibat Anggarannya Minim

DEDING ISHAK, Wakil Ketua Komisi VIII :Kami Selalu Naikkan Anggarannya, Alokasi Pemerintah Standar

BNPB Gagap Menangani Bencana Akibat Anggarannya Minim DEDING ISHAK, Wakil Ketua Komisi VIII :Kami Selalu Naikkan Anggarannya, Alokasi Pemerintah Standar
Klik untuk perbesar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Dihantam bencana besar berkali-kali sepanjang 2018, pemerintah nampak gagap dalam menanggulanginya. Tengok saja dari mulai penanganan gempa Lombok Nusa Tenggara Barat pada Juli lalu, disambung gempa tsunami di Palu Sulawesi Tengah pada September, dan yang terbaru tsunami Selat Sunda menghumbalang daerah pesisir Banten hingga Lampung Selatan. 

Dari situ muncul isu yang menyebutkan selama ini alokasi anggaran penanganan bencana kurang. Badan Nasional Penanggu¬langan Bencana (BNPB) mengeluhkan besaran anggaran yang menurun setiap tahun. Penurunan anggaran tersebut diputuskan dan berlaku secara merata untuk seluruh instansi. 

Untuk 2019, alokasi anggaran BNPB hanya sebesar Rp 610 miliar. Angka tersebut menurun dari tahun 2018, yang berjumlah Rp 746 miliar. Jumlah itu sangat sedikit dan tidak bisa menutupi penanggulangan bencana di Indonesia.  Idealnya, BNPB diberi alokasi sebesar 1 persen dari jumlah APBN. ”Kalau perlu Rp 2 triliun,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho.

Baca Juga : KBRI Dukung Pameran Hannover Messe 2020 di Paris

Dalam setiap rapat anggaran bersama Komisi VIII DPR, pihaknya selalu mengajukan tambahan anggaran. Faktanya, pagu anggaran yang disetujui Kementerian Keuangan dan Bappenas tidak sesuai. Berikut ini pernyataan Wakil Ketua Komisi VIII Deding Ishak dan Sutopo Purwo Nugroho terkait alokasi anggaran penanganan bencana.

BNPB mengeluhkan bahwa anggaran setiap tahunnya berkurang. Bagaimana tanggapan Anda?
Justru itu sebetulnya kami sangat menyayangkan dan merasa sebetulnya political will dari Presiden terkait bencana ini cukup baik. Hanya saja memang entah bagaimana dan saya pun tidak tahu perencanaan anggaran bencana di Indonesia itu dirumuskan.

Jadi memang sejak 2014 biasanya anggaran setiap tahunnya mengalami kenaikan. Sebab kami melihat misal banyak hal-hal yang tidak terantisi-pasi, tidak teranggarkan atau me¬mang anggarannya tidak memadai. Sehingga terus terang saja teman-teman BNPB kelelahan. Maka dari itu sebetulnya melalui APBN-P kami sering naikkan. Sedangkan dari pemerintah ini masih standar. 

Baca Juga : Terpilih Jadi PM Malaysia ke-8, Muhyiddin Sujud Syukur di Rumahnya

Sebenarnya berapa besar sih anggarannya itu? 
Untuk diketahui anggaran BNPB itu Rp 600 - Rp800 miliar padahal yang diajukan lebih dari Rp1 triliun. Sebenarnya (nominal segitu) juga bukan ideal tapi itu disesuaikan kebutuhan per unit kerja di lingkungan BNPB. 

Umpamanya kami juga ingin bagaimana soal penanggulangan bencana didekati melalui perspektif terutama pencegahan. Selain itu kita juga harus menumbuhkan tingkat kesadaran bencana di Indonesia itu sangat tinggi. Baik itu tsunami, gunung meletus, longsor, banjir, dan lain-lain yang setiap tahunnya terjadi di Tanah Air. 

Maksudnya?
Jadi budaya ramah bencana bukan berarti (saya menghendaki adanya bencana) sebab bencana ini kan sesuatu yang kita tidak kehendaki. Namun kalau Tuhan sudah menghendaki bagaimana itu. Jadi intinya kita harus siap akan adanya bencana. 

Baca Juga : Virus Corona Gentayangan Di Mana-mana, AS Tunda Pertemuan Dengan Para Pemimpin ASEAN

Tidak kalah penting bagaimana masyarakat punya kesadaran agar kita bisa bergegas jika ada bencana. Rencana itu jauh lebih baik seperti sedia payung sebelum hujan. 
 Selanjutnya