Sudah Terlalu Banyak Pengemudi, Penghasilan Ojek Online Melorot

IGUN WICAKSONO : Penawaran dan Permintaan Sudah Tidak Seimbang

Klik untuk perbesar
IGUN WICAKSONO, Ketua Presidium Gabungan Aksi Roda Dua

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pengemudi ojek online (ojol) yang tergabung dalam Gabungan Aksi Roda Dua (Garda) mengeluhkan jumlah driver ojol yang kian banyak. Hal ini membuat persaingan makin ketat, sehingga sulit untuk mendapatkan penumpang. 

Ketua Presidium Garda, Igun Wicaksono menilai, saat ini jumlah driver tidak seimbang dengan penumpangnya. “Sekarang, kita kebanyakan driver yang sebabkan persaingan jadi terlalu ketat. Kami ini kelebihan supply pengemudi, supply demand nggak imbang,” ucap Igun. 

Hasilnya, karena terlalu banyak jumlah driver, pembagian order ke para driver jadi kurang merata menurut Igun. Alhasil, pendapatan driver banyak yang belum memenuhi target. “Kalau digaris rata-rata, pendapatan kita nggak memenuhi target karena persaingan makin ketat,” jelas Igun. 

Igun pun meminta Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengatur mengenai pembatasan dan penerimaan driver ojol di tiap daerah. “Diharapkan, ya diatur moratorium pembatasan jumlah pengemudi,” ucap Igun. 

Dirjen Perhubungan Darat Budi Setiyadi mengatakan, yang bisa mengatur kuota pengemudi yang beroperasi adalah para aplikator sendiri. Menurutnya, hal itu ada di dalam sistem algoritma para aplikator. “Pihak Grab sama Gojek (aplikator) bisa memperkirakan di algoritma mereka, satu pengemudi itu pendapatannya berapa. Mungkin kalau over supply, mereka akan berhenti menerima pengemudi baru,” ujar Budi. 

Berita Terkait : BAMBANG HARYO SOEKARTONO : Pendapatan Ojek Dipengaruhi Demand

Untuk membahas hal ini, berikut wawancara dengan Ketua GARDA, Igun Wicaksono ditanggapi Bambang Haryo Soekartono, Anggota Komisi V DPR.

Pihak Anda meminta aplikator Grab dan Gojek untuk membatasi jumlah pengemudi ojek online? 
Iya, kita menginginkan pembatasan kuota penerimaan driver ojek online yang baru. 

Mengapa? 
Karena belakangan ini, orderan bagi driver online menurun. Mengapa menurun, karena persaingan semakin ketat, itu akibat terlalu banyaknya driver di kota-kota besar. Sehingga, tidak seimbang dengan jumlah orderan dari penumpang. Jadi, antara supply dan demand tidak seimbang. 


Daerah mana saja yang sudah kelebihan pengemudi ojek online? 
Seperti di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Pengemudi di sekitar kota besar juga masuk ke kota besar. Akhirnya, mengakibatkan bertambahnya pengemudi, persaingan ketat antar pengemudi dan ujungnya tidak mendapatkan order. Keluhan-keluhan dari driver ojek online yakni menurunnya pendapatan, karena menurunnya jumlah penumpang yang mengorder jasa mereka. 

Berapa penurunan pendapatan yang dirasakan driver ojek online? 
Besar juga, antara 20-40 persen. Hampir setengahnya dan ini menimbulkam gejolak. 

Baca Juga : Pegadaian Genjot Sinergitas Dan Digitalisasi

Apa yang sudah dilakukan rekan-rekan ojek online untuk menyikapi hal ini? 
Di Medan berlangsung aksi demonstrasi untuk menolak penerimaan driver baru, beberapa hari lalu. Tdak menutup kemungkinan, Jakarta maupun tempat lain akan melakukan proses untuk dilakukan pembatasan penerimaan driver baru. 

Berarti, hingga saat ini masih ada penerimaan driver baru? 
Iya, karena penerimaan itu bisa ratusan dari dua perusahaan aplikasi ini. Kita menginginkan Kementerian Perhubungan maupun Kementerian Komunikasi dan Informatika yang menguasai aplikasi, melakukan kajian bersama kami untuk membuat aturan mengenai pembatasan jumlah kuota driver pada setiap daerah. 

Berapa jumlah driver ojek online saat ini? 
Nah, jumlah ojek online itu yang paham hanya perusahaan aplikasi. Kita minta mereka membuka itu dan kepada pemerintah juga. 

Dengan jumlah saat ini, kebutuhan masyarakat sudah terpenuhi? 
Sudah mencukupi dengan driver yang ada. Di kota-kota besar, masyarakat yang memesan ojek online, tidak sampai 10 menit. Artinya, supplynya sudah mencukupi, malah cenderung over supply pada titik tertentu. Kita berharap, kalau sudah ada regulasi pembatasan atau pengaturan kuota, jadi seimbang supply and demand. 

Kementerian Perhubungan menyatakan, hal tersebut tidak bisa dilakukan Kemenhub. Apa tanggapan Anda? 
Nah, itulah saya minta kita duduk bersama dulu untuk membahas persoalan ini. Kemenhub sebagai regulator, aplikator sebagai fasilitator dan kami sebagai operator. Dikaji bersama. Jangan langsung membuat pernyataan bahwa hal ini tidak bisa. Ini perlu dibuat kajian baru, setelah itu diambil kesimpulan. 

Baca Juga : Rommy Pertanyakan Hilangnya Nama Khofifah dan Kiai Asep Dalam Dakwaannya

Bukankah masih banyak masyarakat yang ingin mencari pendapatan melalui ojek online. Bagaimana kalau dibatasi? 
Memang ini yang menjadi PR pemerintah. Jumlah lapangan pekerjaan masih belum mencukupi untuk para pencari kerja, artinya ini tugas bersama. Para pencari kerja berpikir bahwa cara mencari kerja yang mudah itu, ya menjadi ojek online. Ini harus dicarikan solusi. Mungkin Kementerian Tenaga Kerja juga harus turun tangan, hingga akhirnya tidak berpikir mudah mencari uang dengan ojek online. Ini kurangnya kampanye bahwa lapangan pekerjaan di luar ojek online masih ada. 

Namun sepertinya, masyarakat melihat prosesnya yang lebih simple, tidak butuh macam-macam. Bisa cari uang dengan bebas waktu juga. Kami minta pemerintah untuk melibatkan semua aspek terkait. Tidak hanya bergantung kepada Kemenhub saja. 


Apa harapan Anda kepada pihak aplikator? 
Bijaklah untuk melihat situasi supply dari pengemudi ojek online. Jangan mengandalkan banyaknya pendaftar, sehingga mereka mengabaikan sisi dari pengemudi yang sudah ada. Bahwa pengemudi yang sudah ada saja, sangat sulit mendapatkan order, baik jasa maupun penumpang. Jadi, jangan hanya melihat dari sisi kapital saja bagi mereka. Tapi harus dilihat dari sisi sosialnya juga, bahwa sudah sangat berlebihan supply dari sisi pengemudi. [NNM]