Manuver Sang Ayah Seret Bara Di Ujung Tanduk PAN

BARA HASIBUAN : Mereka Tidak Punya Hak Mendesak Saya Mundur

Klik untuk perbesar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Internal Partai Amanat Nasional (PAN) bergejolak. Diduga ada upaya pembelahan. DPP PAN menyerang balik oknum pengurus-pengurus PAN yang mbalelo mendukung pasangan capres nomor urut 01 Jokowi- Ma’ruf Amin.

PANsejak awal telah memberikan dukungan penuh kepada pasangan capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Serangan balik ini muncul setelah beberapa waktu lalu, oknum pengurus bersama lima pendiri PANyakni; Abdillah Toha, Albert Hasibuan, Goenawan Mohammad, Toeti Heraty, dan Zumrotin, membuka serangan awal dengan melayangkan surat terbuka mendesak Amien Rais mundur dari jabatannya di PAN.

Amien heran melihat manuver kelima tokoh itu. Goenawan Mohammad misalnya, sudah lama non aktif dari PAN, namun tiba-tiba saja muncul dan bermanuver mendesak dirinya mundur dari PAN. Amien pun enteng saja menanggapi manuver mereka.

“Mereka semua mendukung Jokowi, saya dukung Prabowo. Itu saja. Mereka semua sudah selesai (sudah mengundurkan diri dari PAN). Itulah lucunya. Jadi (desakan mundur) itu bagi saya memang enggak perlu saya tanggapi, karena sudah banyak yang menanggapi. Tapi kalau mau dibawa lagi nanti ada waktunya. Saya sedang menulis sebuah monograf yang bisa menjelaskan. Jadi tunggu saja,” tutur Amien.

Tak lama berselang dari serangan perdana ini, sejumlah pimpinan PAN daerah dipecat karena sikap politiknya tidak sejalan dengan keputusan partai. Mereka mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin. Kini, giliran Wakil Ketua Umum PAN, Bara Hasibuan yang didesak mundur, juga lantaran hal yang sama.

Wakil Ketua Dewan Kehormatan PAN, Dradjad Wibowo, tak kaget dengan desakan para kader di partainya yang meminta Bara mundur. Sebenarnya selama ini pimpinan dan kader PAN, dijelaskan Dradjad, sudah tahu pilihan Bara mendukung Jokowi. Makanya, kata Dradjad, banyak pengurus DPP termasuk dirinya kurang yakin dengan Bara akan mau berkampanye untuk Prabowo-Hatta di Sulawesi Utara.

Sikap politik Bara dalam Pilpres 2019, kata dia, bukan rahasia lagi di internal PAN. Tapi pimpinan dan kader PANmasih menoleransinya. Dengan tidak memberikan teguran dan sanksi. Padahal, keputusan Rakernas harus ditaati oleh seluruh kader. Persoalan ini, lanjut Dradjad, semakin panas setelah sikap politik Albert Hasibuan ayah Bara Hasibuan yang meminta Amien Rais mundur dari PAN.

“Kader PAN meyakini surat tersebut tidak lepas dari sikap sangat kritis Pak Amien ke Presiden Jokowi, dan peranan kunci Pak Amien dalam dukungan PANke Mas Prabowo,” jelasnya.

Memang, menurut Dradjad, Bara tidak bisa disalahkan atas perbuatan ayahnya. Tapi, sebagai politisi yang cukup berpengalaman, seharusnya Bara memahami setiap keputusan partai.

“Kalau mekanisme legalnya, tentu DPP dulu yang memroses. Jika DPP sudah memu¬tuskan dan terjadi sengketa, nanti dibawa ke Mahkamah Partai. Dulu namanya MPS. Jika masih ada sengketa juga, bisa ke pengadilan,” tegasnya.

Lantas bagaimana Bara Hasibuan menanggapi konflik itu? Dan apa saja langkah DPP PAN untuk menyelesaikannya? Kepada Rakyat Merdeka Bara Hasibuan dan Ketua DPP PAN, Yandri Susanto membicarakan permasalahan ini. Berikut penjelasannya.

Bagaimana Anda menyikapi desakan kader lintas daerah yang meminta Anda mundur dari PAN?
Saya menganggap tidak terlalu serius tuntutan itu. Sampai sekarang juga belum ada pembicaraan resmi di DPP ataupun pemberitahuan resmi dari DPP mengenai esensi dari surat itu. Ketua umum, sekjen, dan wakil ketua umum PAN lainnya juga tidak pernah membicarakan hal ini kepada saya. Jadi saya menilai ini sesuatu yang tidak perlu ditanggapi.
 Selanjutnya 

RM Video