Dukungan PBB Di Pilpres 2019 Terbelah

MALEM SAMBAT KABAN : Kami Semua Tidak Mungkin Harus Sama

Klik untuk perbesar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Soal dukung mendukung pasangan capres-cawapres, Partai Bulan Bintang (PBB) terbelah. DPP-nya dukung Jokowi-Ma’ruf Amin, tapi calegnya banyak yang dukung pasangan capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Ketua Majelis Syuro PBB MS Kaban yang juga pendukung Prabowo-Sandi menyebut poros pendukung capres-cawapres 02 sebagai poros Makkah. Nah, pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin agaknya pas jika disebut sebagai poros Cemara, merujuk posko yang digunakan Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf Amin. 

Kendati terang-terangan mengambil pilihan berbeda, DPP PBB tak akan menjatuhkan sanksi. Justru menghargai perbedaan pilihan itu. Elite PBB menilai perbedaan sikap di internal mereka hal biasa. Itulah kehidupan demokrasi yang terjadi di PBB. 

Seperti apa jalan ceritanya hingga perbedaan sikap terjadi di internal PBB. Ketua Umum PBB Yusril Ihza Mahendra dan Ketua Mejalis Syuro PBB Malem Sambat Kaban Kepada Rakyat Merdeka menjelaskan perbedaan sikap yang terjadi di internal partai mereka.

Bagaimana tanggapan Anda terkait keputusan PBB yang mendukung Jokowi-Ma’ruf pada Pemilu 2019 mendatang? 
Begini lho. Di lingkungan intenal DPP itu ada dinamika. Nah karena memang posisi majelis syuro itu hanya sampai merekomendasikan, sementara yang memiliki keputusan adalah ketua umum. Jadi kami menghormati perbedaan-perbedaan tersebut. 

Kenapa demikian? 
Kami itu menghormati perbedaan karena kami sangat paham tidak mungkin kami berseragam dengan semua orang. Enggak mungkin kami semua harus sama. Jadi kami menghormati keputusan ketua umum. 

Berita Terkait : YUSRIL IHZA MAHENDRA : Ekspresi Pribadi Tidak Boleh Libatkan Institusi

Maksudnya? 
Ketua umum itu memberikan kesempatan dan peluang kepada yang berbeda dalam menentukan sikap-sikap pribadi anggota PBB di seluruh Indonesia. Saya kira itulah sikap demokrasi yang kami harus junjung tinggi di partai ini. Terpenting secara institusi (partai) ada yang bertanggung jawab yaitu ketua umum. Maka dari itu kami serahkan semuanya ke ketua umum untuk mengambil keputusan. Sedangkan majelis syuro hanya memberikan rekomendasi. 

Apakah rekomendasi itu sudah pernah disampaikan ke ketum PBB? 
Rekomendasi memang sudah kami sampaikan, namun ketua umum memiliki pertimbangan sendiri dan kami harus hormati. 

Jadi pertimbangan Anda tidak diakomodir? 
Jadi begini saja keputusan itu ada di ketua umum. Toh ketua umum juga ada pertimbangan-pertimbangan terkait arah dukungan PBB kemana. Yang jelas pertimbangan kami sudah kami sampaikan. 


Kan ada sejumlah kader telah mendeklarasikan mendukung Prabowo-Sandiaga? 
Ya memang dalam perbedaan itu, siapapun orangnya, maunya suara tertuanya didengar. Tapi di balik semua ini terdapat musyawarah yang mesti dimufakati. Karena demokrasi akan menjadi kering kalau tidak ada musyawarah mufakat. Itulah yang membedakan antara demokrasi negara lain dibandingkan demokrasi yang ada di negara kita. Sesuai sila yang ke-4. 

Jadi perlu bermusyawarah untuk mencapai kemufakatan kita. Terpenting keluarga besar PBB harus tetap bersama-sama dengan umat Islam di mana pun berada. Karena kita lahir dari umat Islam dan ormas Islam dengan semangat Islam untuk kepentingan NKRI. Kalaupun ada keputusan politik yang berbeda, saya minta merujuk pada ayat Al-Qur’an. Kita harus mampu saling memperat hubungan. Karena target kami adalah bagaimana kita sampai di parlemen. 

Baca Juga : Pegadaian Genjot Sinergitas Dan Digitalisasi

Anda khawatirkah kader PBB di bawah akan terpecah dengan peristiwa ini? 
Oh tidak. Jadi istilahnya kami itu dari awal menanamkan kepada seluruh jaringan partai agar tetap menghormati keputusan apapun yang diambil oleh ketua umum. Sedangkan kepada yang berbeda dengan keputu¬san partai, itu pun diberi kesempatan untuk berkreasi dengan caranya masing-masing. 

Sepertinya bagi Anda, terjadinya perbedaan di partai bukanlah suatu hal yang rumit ya? 
Bagaimana pun kita bisa menghormati perbedaan. Kita itu sekarang kadang-kadang begitu ada perbedaan seakan-akan pasang kuda-kuda saling berlawanan satu sama yang lain. 

Lantas bagaimana cara mengatasinya? 
Maka dari itu, saya mengajak seluruh keluarga besar PBB apapun per-bedaan yang terjadi, jangan sampai kita berbengkok-bengkok. Pasalnya perbedaan itu diberikan kesempatan oleh Allah. Toh sudah temaktub di ayat Al-Quran. Jadi perbedaan dibuka oleh Allah, tapi dikunci oleh Allah maka pegang teguh pada tali Allah. Jadi setiap ada perbedaan kita kembalikan kepada pokok pangkal perjalan¬an hidup kita. Kalau kita partai Islam kembalikanlah pada prinsip-prinsip Islam di dalam musyawarah. 

Beberapa kalangan menilai Anda dan Yusril memang kerap berbeda. Bagaimana itu? 
Ya bedalah. Pak Yusril lahir 1956 sedangkan saya 1958. Dia di Fatmawati dan saya di Bogor. Ya berseberangan. Setiap ada ikhtiar, siapapun untuk mengadu harus sadar kami tetap satu. Perbedaan harus, namun saya ingatkan sekarang tantangan tidak gampang untuk tidak berpanjang lebar. Sudah tentu ada keputusan politik yang dikeluarkan.

Saya sebagai ketua majelis syuro sesuai dengan kunci majelis syuro dan sesuai amanat konstitusi partai. Jadi itu yang harus kami sampaikan kepada seluruh publik di Indonesia. Majelis syuro fungsinya ada. Saya sebagai ketua majelis syuro itu melaksanakan fungsi majelis syuro sesuai AD/ART PBB. 

Baca Juga : Rommy Pertanyakan Hilangnya Nama Khofifah dan Kiai Asep Dalam Dakwaannya

Lantas kader PBB di bawah harus bersikap bagaimana dalam menyikapi perbedaan para elitenya? 
Tidak usah risau. Berkali kali saya mengatakan saudara-saudara sekalian ingat majelis syuro sudah punya sikap dan sudah disampaikan. Apakah rekomendasi majelis syuro itu diakomodir atau tidak, itu sepenuhnya otoritas ketua umum. 

Apakah sudah ada kesepakatan di PBB Anda boleh mengkampa-nyekan capres-cawapres Prabowo- Sandiaga? 
Ya saya kira diberikan kesempatan karena yang penting apakah dia selaku pribadinya, ya silakan. Toh banyak calon-calon legislatif dari PBB. Bagi kami sekarang ini presiden itu sudah selesai sudah ada nomor 01 dan 02. Hanya saja DPP ingin menguatkan (arah politik). Bagi saya sebagai ketua majelis syuro PBB harus menghormati. Mau ke sana kami hormati dan mau ke sini kami hormati. 


Tidak ada sanksi khusus? 
Tidak ada. Jadi kami itu harus menjunjung demokrasi. Sebab demokrasi itu adalah menghomati perbedaan. Jadi kami harus biasakan di negara ini berbda pendapat, berbeda pilihan tapi bukan bermusuhan. [UMM]