Kantong Plastik Berbayar Pernah Diterapkan Tiga Tahun Lalu

SUDARYATMO: Rp 200 Tak Kurangi Penggunaan Kresek

Kantong Plastik Berbayar Pernah Diterapkan Tiga Tahun Lalu SUDARYATMO: Rp 200 Tak Kurangi Penggunaan Kresek
Klik untuk perbesar

 Sebelumnya 
Maksudnya, ini hanya kepentingan bisnis, bukan peduli terhadap lingkungan? 
Sebenarnya begini, ritel memang menjadi salah satu pihak, tetapi yang lebih berperan itu adalah di tangan konsumen. Keputusan perlu atau tidak perlu kantong ada di konsumen sebetulnya. Nah, seharusnya pemerintah daerahmemberikan edukasi kepada konsumen, bukan membuat aturan yang diskriminatif terhadap larangan menggunakan kantong plastik di ritel, tetapi di pasar-pasar tradisional tidak. 

Apa perlu peraturan untuk menggunakan kantong plastik ber-SNI? 
Pendekatannya bisa macam-macam, jadi harus ada dari pemerintah, beberapa sektor dan dari masyarakat. Selain itu, juga harus ada pendekatan teknologi tadi, yaitu kantong plastik yang bisa didaur ulang dan macam-macamnya. 

Baca Juga : Pemerintah Berjibaku Lawan Corona, PKS Usulkan Pembentukan Tim Pengawas di DPR

Bagaimana Anda melihat penerapan oleh Aprindo ini dengan kebijakan beberapa Pemda terkait kantong plastik? 
Sebenarnya begini. Pertama, semua mengklaim ini untuk mengurangi sampah plastik, karena berangkat dari kata. Semestinya itu seharusnya diukur terlebih dahulu, sampah plastiknya berapa, sehingga mengukur kebijakan yang dilakukan oleh Aprindo jelas. Jadi sebelum plastik berbayar, penggunaan plastik berapa banyak, dan sesudah plastik berbayar, penggunaan plastik berapa. 

Bagaimana dengan Pemda? 
Sama juga, Pemda yang melarang kantong plastik itu harus mengukur juga. Pemda itu seharusnya mendorong pengurangan penggunaan plastik di level rumah tangga. Diukur sehari berapa kantong plastik, dan setelah penerapan aturan, apakah ada pengurangan atau tidak. 

Baca Juga : Kondisi BKS Dilaporkan Terus Membaik dan Stabil

Lantas, apa yang YLKI lakukan? 
Kita dorong YLKI menggunakan kantong plastik yang ramah lingkungan, cuma itu butuh waktu. Kalau dari Aprindo, plastik berbayar itu sebuah komitmen untuk mengurangi sampah plastik. Adapun saya katakan, angka Rp 200 itu terlalu kecil untuk satu kantong plastik atau kresek. Walaupun, harga tersebut masih bisa dievaluasi.

Harganya harus dinaikkan? 
Iya, supaya signifikan dampaknya. Sama tadi, harus ada kantong alter-natif. Salah satunya, membawa kantong plastik atau kantong yang bisa dipakai berulang-ulang. [NNM]