Merasakan Karantina Di Ujung New York (Bagian 3)

Kongkow dan Ngopi Bareng Teman Pun Virtual

Ilustasi Foto : Istimewa
Klik untuk perbesar
Ilustasi Foto : Istimewa

RMco.id  Rakyat Merdeka - Virus Corona di Amerika Serikat (AS) telah menginfeksi ribuan orang. Negara adidaya itu kini jadi pusat pandemi Corona dunia. Episentrumnya, berada di New York. Kota yang selama ini dikenal sebagai “the city that never sleeps” (kota yang tak pernah tidur), akhirnya dipaksa tidur atau di-lockdown sampai pertengahan April. Berikut ini artikel yang ditulis Givary Muhammad, mahasiswa asal Indonesia, semester akhir di State University of New York (SUNY), yang turut merasakan suasana lockdown atau karantina di sana.

Dua pekan terakhir, cuaca di Buffalo terasa nyaman. Suhu udara siang hari kisaran 11 sampai 16 derajat Celcius. Ini bulan-bulan menjelang musim panas (summer). Tapi, seterik-teriknya Buffalo, suhunya paling tinggi sekitar 21 derajat. Kota ini lebih terkenal dengan musim dinginnya yang lumayan ekstrim dan salju yang dahsyat saat winter.

Dengan cuaca yang bersahabat seperti sekarang, banyak kawan mulai mengajak keluar apartemen untuk sekedar jalan-jalan atau cari angin. Lockdown hampir dua pekan memang membuat kita jenuh dan penat.

Di dekat apartemen, tempat saya tinggal, ada taman dan danau kecil. Dari balik jendela kamar, sesekali, saya lihat mulai ada yang berjalan-jalan dengan hewan peliharaannya. Atau ada juga yang lari-lari olahraga.

Berita Terkait : Kuliah Online, Profesor Belajar Aplikasinya Dari Mahasiswa

Meskipun sedang dalam keadaan karantina, atau istilah resminya “New York on Pause” namun, sebetulnya tidak ada larangan ke luar rumah. Sepanjang itu kegiatan perseorangan, bukan kerumunan.

Saya sendiri masih banyak beraktivitas di dalam rumah. Memang terasa sangat monoton, meski jadwal harian masih sangat padat. Berjam-jam di depan laptop. Bangun pagi, lalu sarapan. Pukul 10.00, sudah bersiap untuk kelas online. Siang, mulai pukul 13.00 sampai 15.00 bekerja online dengan Rektorat. Beberapa bulan terakhir ini, saya bekerja menjadi analis data di situ. Lalu lanjut, pukul 16.00 sampai malam, kelas perkuliahan online lagi.

Di hari-hari libur, menyempatkan untuk turun ke dapur, memasak. Atau olahraga, saat niat. Untuk menghilangkan kebosanan, dua hari sekali, saya kongkow sambil ngopi dengan sahabat-sahabat. Caranya? Janjian waktu via WhatsApp. Lalu saat jamnya, siapkan kopi, buka video call.

Saya tinggal di Amerika sejak SMA. Banyak sahabat yang kini melanjutkan kuliah di berbagai belahan negara. Di saat pandemi Corona seperti sekarang, mereka ibarat oase. Obrolan kita jadi makin seru. Gantian bercerita tentang efek corona di tempatnya masing-masing.

Berita Terkait : Wisuda Mei, Entah Gimana Jadinya...

Salah satu sahabat yang kini kuliah di National Taiwan University bercerita, negaranya hampir tidak terimbas Corona. Padahal, letak geografisnya hanya “sepelemparan batu” dari China. Di Taiwan, negeri berpenduduk sekitar 23 juta jiwa dan luasnya hampir sama dengan Provinsi Jawa Barat, ada 300an orang terinfeksi, dan dua orang meninggal dunia. Pemerintahan Taiwan bergerak cukup responsif. Begitu ada warga yang terinfeksi, Taiwan dengan cepat melarang warga China datang atau masuk ke negaranya. Tidak ada lockdown atau karantina di Taiwan.

Aktivitas masyarakat, kata kawan saya, belum banyak berubah. Saat wabah Corona di Wuhan mencapai puncaknya, Pemerintah Taiwan juga tidak melarang masyarakat untuk mudik Imlek. Memang, belakangan ini suasana jalanan di Taipei, sedikit lebih sepi. Saat keluar rumah, warga hampir semuanya memakai masker, dan selalu rajin cuci tangan.

Sahabat saya yang lain, beda lagi. Ada yang tetap nekat pulang ke Vietnam, di tengah puncak wabah Corona. Akibatnya, begitu mendarat di airport, dia dikarantina dua pekan di barak militer. Pemerintah Vietnam menampatkan warganya yang baru datang dari luar negeri, di areal khusus.

Nasib sama sahabat yang pulang ke Singapura. Begitu mendarat, langsung diisolasi di hotel-hotel dekat area bandara, yang di-booking oleh Pemerintah. Setelah dua pekan dikarantina, baru diizinkan pulang ke kediaman masing-masing.

Berita Terkait : Mulai Hari Ini, Tagihan dan Diskon Listrik Dibebaskan Bertahap

Kawan saya di Korea Selatan, juga diisolasi begitu tiba di negaranya. Dia mengirimi saya foto, paket sembako pemerintah, khusus untuk warga Korsel yang menjalani karantina. Ada yang nekat. Tapi ada juga yang takut pulang.

Sahabat saya asal Negeri Tirai Bambu, banyak yang memilih tetap tinggal di Amerika. Meskipun Virus Corona sudah mereda di kampungnya, tapi mereka menunggu sampai perkuliahan usai. Katanya, khawatir bakal repot. Repot saat datang ke negaranya, lebih repot lagi saat harus kembali ke Amerika.*** (Habis)