Prevalensi Kanker Terus Naik, YLKI Minta Pemerintah Serius Tekan Penyakit Tak Menular

Foto: Istimewa
Klik untuk perbesar
Foto: Istimewa

RMco.id  Rakyat Merdeka - Ibarat bahaya laten, penyakit kanker di Indonesia tumbuh pesat dalam senyap. Prevalensinya dalam lima tahun terakhir, sangat pesat.

Dalam 2 minggu terakhir, penyakit yang kemunculan awalnya kerap tidak disadari oleh penderitanya, merenggut nyawa dua tokoh bangsa: istri Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, Ibu Ani dan Ustad Arifin Ilham.

Berita Terkait : YLKI Minta Pemerintah Prioritaskan Perlindungan Konsumen

Sebelum tutup usia, Ibu Ani bergulat dengan penyakit kanker darah. Sedangkan Ustad Arifin, berjuang melawan ganasnya kanker nasofaring dan tiroid.

"Kasus ini harus kita perhatikan secara seksama. Bahwa potensi penyakit kanker di Indonesia sangatlah tinggi, dan mengalami peningkatan prevalensinya dalam lima tahun terakhir. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, prevalensi penyakit kanker hanya 1,4 persen saja. Tragisnya, angka ini meningkat pesat dalam Riskesdas 2018, di mana prevalensi penyakit kanker naik menjadi 1,8 persen! Jadi, ada bom waktu yang mengerikan terkait penyakit kanker di Indonesia," papar Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi, dalam keterangan tertulisnya, Minggu (2/6).

Berita Terkait : Kemendagri Ingatkan 57 Daerah Segera Bikin Perda RDTR

Tulus menjelaskan, hal ini menjadi bukti adanya masalah serius terkait perilaku hidup sehat masyarakat, dan arah kebijakan kesehatan yang belum menyentuh hulu persoalan.

"Kalau arah kebijakan pembangunan kesehatan itu benar, maka seharusnya prevalensi penyakit menular itu turun. Bukan malah naik. Termasuk prevalensi penyakit kanker," ujar Tulus.

Baca Juga : Virus Corona Mengancam, Indonesia Tetap Ikut All England

Oleh karena itu, YLKI mendesak pemerintah untuk lebih fokus pada pembangunan kesehatan, guna menekan tumbuh kembang penyakit tidak menular. Apalagi, penyakit jenis ini terbukti menjadi benalu yang paling dominan bagi financial deficit BPJS Kesehatan.

"Jika kebijakan pemerintah tidak mendukung untuk menekan wabah penyakit tidak menular, maka prevalensi penyakit tidak menular seperti kanker, hanyalah bom waktu saja. Bom waktu bagi generasi emas yang digadang-gadang oleh pemerintah, dan kita semua," pungkas Tulus. [HES]