Walau Ditinggal Warganya Mudik Lebaran

Kenapa Polusi Udara di Jakarta Tetap Terburuk Sedunia

Klik untuk perbesar
Polusi udara di Jakarta/Ilustrasi (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Udara Jakarta buruk tidak semata karena banyaknya kendaraan. Ada sumber lain. Yakni asap dari industri. Seperti pabrik-pabrik dan pembangkit listrik tenaga batu bara. Inilah antara lain yang menyebabkan, kualitas udara di Ibukota masih buruk meskipun  ditinggal mudik warganya.

Direktur Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Nur Hidayati mencatat, kulitas udara saat H-1 Idul Fitri tetap buruk meski Ibukota jarang  kendaraan. “Satu hari sebelum Lebaran, kalau nggak salah Jakarta men- duduki peringkat pertama kota  paling terpolusi di dunia,” ujar Nur Hidayati.

Dari sini, lanjutnya, bisa disimpulkan penyebab kualitas udara buruk bukan hanya dari gas timpal kendaraan bermotor. Tapi ada industri dari cerobong  asap, industri pabrik-pabrik, juga pembangkit listrik tenaga  batu bara yang ada di sekitar Jakarta.

Baca Juga : Besanan, Amien Vs Zulhas Perang Keluarga

Untuk itu, kata Nur, hal ini perlu diteliti. Apa saja penyebab udara Jakarta itu terburuk di dunia. Pemprov DKI Jakarta dapat bekerja sama dengan Ke- menterian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk  melakukan penelusuran.

Secara rinci, Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safrudin menerangkan, ada sejumlah faktor kualitas udara Jakarta tak membaik pada masa libur Lebaran 2019.  Buruknya udara Jakarta karena gabungan polutan kendaraan bermotor, pembakaran biomassa di pantai utara Jawa, debu musim kemarau hingga Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara. 

Ahmad menyampaikan, kendaraan bermotor menyumbang polusi 44 persen untuk Jakarta  maupun di Pantura Jawa. Kemudian PLTU batu bara menyumbang 14 persen, pembakaran industri 19 persen, pembakaran biomassa dan sampah 13 persen, debu jalanan 5 persen, proses konstruksi 2 persen, dan rumah tangga 3 persen.

Baca Juga : KPK Bertepuk Sebelah Tangan

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyalahkan kendaraan bermotor yang menyebabkan kualitas udara di Jakarta buruk. Anies menilai, buruknya kualitas udara Jakarta saat ditinggal mudik  warganya adalah akibat residu polusi kendaraan bermotor.

“Di Jakarta ini kita memiliki 17 juta kendaraan bermotor. Bisa dibayangkan kualitas udara yang dihasilkan akibat dari residu polutan itu,” ujar Anies.

Anies menilai, untuk mengatasi permasalah polusi udara tak bisa hanya dilakukan oleh Pemprov DKI karena polusi itu sendiri disebabkan berbagai pihak. Pemprov DKI, kata Anies, sudah melakukan berbagai upaya  seperti pengendalian kendaraan umum dengan mengganti bus konvensional TransJakarta menjadi bus listrik.

Baca Juga : Selama Natal dan Tahun Baru, Pertamina Kasih Diskon Avtur 20 Persen

“Jakarta Insya Allah akan ber-sih udaranya secara bertahap,”  jelas Anies. Dia mengaku tak kuasa mengatur polusi udara yang bersumber dari pembangkit listrik yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat. [FAQ]