Hampir 20 Tahun Bertetangga Dengan Anwar Usman, Ketua MK Yang Suaranya Merdu...

Gadis Atau Janda, Pak...

Ketua Mahkamah Konstitusi Anwar Usman  (Foto: Dwi Pambudo/Rakyat Merdeka)
Klik untuk perbesar
Ketua Mahkamah Konstitusi Anwar Usman (Foto: Dwi Pambudo/Rakyat Merdeka)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Tengah malam. Sekitar pukul 00.00 WIB, saya melihat langsung Pak Anwar. Dia sedang berjalan kaki. Beberapa hari sebelum sidang MK (Mahkamah Konstitusi) tentang pilpres dimulai. Saya di halaman rumah saya, dia berjalan di keremangan lampu jalan kompleks perumahan kami, Vila Serpong, di kawasan BSD.

Saya amati sepanjang bisa saya lihat dari halaman rumah, apakah Pak Anwar yang dulu pegawai MA (Mahkamah Agung) itu gaya berjalannya sudah berubah, berbeda dengan Pak Anwar sekarang. Dr H Anwar Usman yang kini sudah menjadi ketua MK, ketua lembaga tinggi negara, selevel dengan MPR, DPR, MA, DPD, dan Kepresidenan. Ternyata tidak.

Ia berjalan dengan kepala agak menunduk. Seperti dulu. Kecepatan jalannya juga tidak berubah, seperti rata-rata orang berjalan. Tidak santai, tapi juga bukan jalan cepat. Tidak buru-buru. Bedanya, sekarang beberapa meter di belakangnya, ada pengawal. Bawa senjata. Kebiasaan berjalan tengah malam itu, sudah dilakukannya dari dulu. Dia seperti mengharuskan dirinya berolahraga meski kesibukannya luar biasa.

Dia bekerja sepanjang hari. Hampir selalu pulang malam. Karena itu olahraganya pun tengah malam. Sejauh ini dia sehat-sehat saja. Badannya juga terjaga tetap ramping. Setidaknya, tidak gendut. Pernah suatu saat dia sakit sampai operasi. Dokter spesialisnya di RS Siloam Karawaci. Tapi saya kira sakitnya tidak terlalu serius. Dia sehat kembali dalam waktu yang tidak lama.

Kalau saja malam itu dia melihat saya, Pak Anwar tentu menyapa... Seperti dulu. Salaman dulu. Lalu memeluk. Lalu berkata “lanjutkan perjuangan”. Lanjutkan perjuangan? Yaa itu ucapan. Khas dia kepada saya sebagai wartawan. Saya rasa dia sering membaca koran saya.

Baca Juga : Sensasi Teknologi Perbankan Meriahkan BNI Java Jazz Festival 2020

Suatu saat koran saya mengkritik keras seorang pejabat MA, Pak Anwar berkomentar. Untuk kepentingan bangsa, kita harus terus berjuang. Yang tidak baik harus kita lawan, katanya dengan suara pelan. Pak Anwar memang biasa bicara dengan suara pelan. Jarang sekali saya dengar dia mengeraskan suaranya. Kalimatnya pendek-pendek dan tegas, karena itu ucapannya sangat mudah ditangkap.

Dia tidak pernah bicara bersayap-sayap atau berputar-putar, seperti kalau sedang memimpin sidang di MK. Begitu pula kalau dia sedang ikut rapat di Masjid Raudhatul Hakim, Masjid di tengah komplek perumahan MA yang berada di dalam komplek perumahan Vila Serpong. Dia bicara seperlunya. Juga kalau sedang ikut pertemuan warga. Rapat RW dulu. Beberapa tahun terakhir saya tidak pernah lagi rapat warga bersama dia. Pak Anwar tentu sibuk.

Saya juga tidak aktif lagi jadi ketua RW sejak saya juga tinggal di Bogor. Terutama sejak dua tahun terakhir, ketika saya sempat ikut pilkada Tulungagung dan gagal. Saya memang bertetangga dekat dengan Pak Anwar. Rumahnya yang besar sekarang persis berada di sebelah kiri rumah saya, hanya kehalangan tembok. Saya sebut sekarang karena sebelum menempati rumah baru ini, Pak Anwar tinggal di rumah dinas pejabat MA, di bagian belakang Vila Serpong.

Di sini tinggal beberapa pejabat MA, beberapa diantaranya adalah Hakim Agung. Pak Yasardin dan Pak Purwa, adalah Hakim Agung yang sangat rajin mengikuti kegiatan warga. Juga memimpin kegiatan masjid. Di berbagai kegiatan? Pak Anwar selalu jadi penasehat bersama Pak Indra, seorang pemimpin developer besar yang jadi ketua sukunya perumahan Vila Serpong.

Pak Anwar juga sering berdiskusi soal agama di masjid. Dia jadi narasumber. Ilmu agamanya baik, bacaan arabnya fasih. Sering shalat berjamaah dan kadang jumatan di Raudhatul Hakim. Ketika sudah jadi Hakim MK, pernah dia jadi Khatib Idul Adha. Isi kutbahnya menyentuh hati jamaah. Juga menyentuh perasaannya sendiri, sampai dia menangis saat berkhutbah.

Baca Juga : 3 Serikat Buruh Hidupkan MPBI

Dia juga sering tiba-tiba muncul di kegiatan warga. Misalnya, Agustusan atau Halal Bihalal. Kalau ada hiburannya, sering dia diminta warga naik panggung untuk menyanyi. Pak Anwar mau. Dia sadar betul bahwa suaranya merdu. Di atas rata-rata suara teman-temannya. Kalau sudah di atas panggung dan memegang mik, dia bertanya, nyanyi apa ini? Dangdut pak, kata warga. Lagunya apa?, tanyanya. “Gadis Atau Janda” sahut warga. Mereka tahu lagu itu salah satu lagu favorit Pak Anwar. Maka mulai menyanyilah Pak Anwar: “Sudah berulang kali Aku bermain cinta….Tapi baru adik yang aku cinta”. Penonton bertepuk tengan.

Pak Anwar mungkin bisa saja jadi penyanyi. Tapi garis tangan dan garis wajahnya seperti ikut menakdirkan dia menjadi hakim. Raut mukanya bersih dihiasi brewok rapi pada jambang dan janggutnya. Sorot matanya halus seolah menandakan bahwa dia bukan sosok yang ambisius. Bijak. Wajahnya hakim banget.

Beberapa saat sebelum diangkat jadi Hakim Konstitusi, dia sempat berbincang singkat dengan saya. Sambil berdiri di garasi mobil rumah saya. Waktu itu, dia bilang sebenarnya juga berminat jadi Hakim Agung. Tapi, biar tangan Tuhan yang menentukan. Beberapa saat setelah dia diangkat jadi Hakim Konstitusi, saya bertemu dia lagi. Di masjid. Dia bilang, alhamdulillah, kita syukuri yang kita terima dengan kerja bersungguh-sungguh dengan niat ibadah. Setelah itu saya belum bertemu langsung lagi.

Saya sering melihatnya hanya di TV. Tak banyak yang berubah pada wajah pria kelahiran Bima itu. Tetap ganteng. Cuma lipatan kulit di seputar matanya yang kelihatan makin tebal. Tanda kerjanya semakin keras, dan meleknya semakin banyak.

Sempat setahun yang lalu, saya mencoba mengkontak dia lewat SMS dari nomer telpon yang saya peroleh dari seorang warga. Isi SMS saya begini: "Assalamualaikum Pak Anwar, saya Margiono mau konsultasi soal pilkada. Terima kasih".

Baca Juga : Bertemu Presiden Jokowi, Tony Blair Happy Masuk Tim Pemindahan Ibu Kota

SMS itu saya kirim sesaat setelah saya kalah pilkada. Saya kira Pak Anwar tahu saya kalah. Tapi saya tidak tahu apakah SMS saya bisa dia baca. Apakah SMS saya sampai di tangannya. Dan balasan yang semula saya tunggu itu memang tak pernah kunjung datang.

Saya tentu tak kecewa. Justru saya merasa konyol. Enak saja mau curhat kekalahan lewat SMS. Saya jadi merasa bersalah kapada dia, seseorang yang selalu, dan harus menjaga integritas dan kredibilitas. Yang sudah puluhan tahun dia pupuk. Dia jaga. Dia pertahankan. Sampai kelak. [MG]