Kalah Jauh Dibanding Ojek Online

Angkot Jak Lingko Belum Disukai Warga

Klik untuk perbesar
Angkot Jak Lingko. (Foto : istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Masih banyak warga belum mengetahui sistem integrasi transportasi publik di Jakarta yang bergelar Jak Lingko. Makanya, sistem yang bertransformasi dari program OK-Otrip itu masih kalah jauh dibanding ojek online.

Pantauan Rakyat Merdeka di Stasiun Moda Raya Terpadu (MRT) Lebak Bulus, Jakarta Selatan, armada Jak Lingko masih banyak kosong. Padahal, penumpang MRT membludak. Sebab, warga lebih memilih menggunakan angkutan online. “Kurang begitu paham ya (Jak Lingko). Kartunya beli di mana? Kan katanya pakai kartu. Tapi milih pakai ojek online aja, langsung di depan rumah,” ujar Rahmanysah, penumpang MRT ditemui di Lebak Bulus.

Di kawasan ini, memang armada Jak Lingko kerap terlihat kosong. Sedang di Stasiun Kereta Rel Listrik (KRL) Tanah Abang, Jakarta Pusat, sejumlah penumpang memilih naik moda transportasi Jak Lingko ber-AC. Tapi sayang, jumlah armadanya masih kurang.

Angkot Jak Lingko berhenti sesuai aturan, yakni di Halte bus Tanah Abang. Misalnya di angkot rute Tanah Abang-Kota, waktu tunggunya paling lama 15 menit. Nampak setiap penumpang menyerahkan kartu Jak Lingko kepada pengemudi, dan menempelkannya ke mesin khusus di sebelah pengemudi.

Selain ber AC, pintu angkot berstiker Jak Lingko ini selalu tertutup. Arma- danya baru dan sangat nyaman. Angkot cuma berhenti di halte. Tidak ngetem dan ugal-ugalan. “Nge-tap kartu aja. Gak bayar lagi. Udah itu, nyaman, ada AC- nya. Gak ngetem kaya angkot biasanya,” aku Marta, penumpang dari Tanah Abang menuju Kota ini.

Baca Juga : Bukalapak Dorong Ekonomi Digital Di Tangerang Selatan


Meski demikian, Marta mengeluhkan jumlah armada angkot Jak Lingko jurusan Tanah Abang menuju Kota yang tersedia dinilainya masih kurang banyak. “Juga perlu sosialisasi lagi sih. Biar pada naik ini. Sayang banyak yang gak tahu. Tahunya angkot biasa,” sarannya. Keluhan Marta ini memang wajar. Armada Jak Lingko memang belum banyak.

Saat ini, Organisasi Angkutan Darat (Organda) mencatat jumlah bus kecil yang tergabung dengan Jak Lingko baru sekitar tujuh persen. Artinya, dari total 12 ribu unit, baru 800 mikrolet yang teritegrasi. Ketua Organda DKI Jakarta, Shafruhan Sinungan mengakui, program Jak Lingko belum optimal. Padahal, transportasi di Ibukota saat ini sudah lengkap. Ada mikrolet, bus Transjakarta, KRL, sampai MRT.

Bahkan tak lama lagi ada kereta api ringan atau LRT. Sayangnya, rutenya masih semrawut. Misalnya saja rute bus kecil yang tergabung dengan Jak Lingko, belum menyasar ke permukiman. Artinya, perlu rerouting untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama permukiman.

“Coba angkot-angkot, bus sedang ini trayeknya diubah. Fokus menjadi angkutan peng- umpul yang masuk ke lingkungan pemukiman warga dengan tujuan akhir di koridor-koridor Transjakarta. Jangan satu rute yang sama dengan Transja- karta,” sarannya.

Hal lainnya, kata Shafruhan, peremajaan armada angkutan umum memang menjadi syarat utama peningkatan layanan. Memang beberapa operator yang berinisiatif meremajakan angkutannya, seperti angkot jurusan Tanah Abang-Kota. Namun, pemerintah selama ini tidak mendukung. Seperti yang terjadi pada revitalisasi angkutan bus sedang Metromini beberapa waktu lalu.

Baca Juga : Korsel Vs Jepang, Dendam Masa Lalu Makan Korban

“PT Transjakarta mewajibkan pembayaran uang muka Rp 150 juta dan menempatkan bus pengadaanya di trayek eksisting bus sedang, sementara pengusaha tidak sanggup membayar uang muka tersebut. Mestinya ada kemudahan ini,” paparnya.


Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Syafrin Liputo mengakui, saat ini masih ada konflik di rute yang sama antara angkutan umum dan Transjakarta. Dia berjanji meminimalisir hal tersebut. Angkutan umum non-Transjakarta dan Transjakarta seharusnya memiliki rute berbeda. Transjakarta sebagai backbone angkutan jalan, Kopaja, Metromini dan angkot menjadi feeder-nya.

Untuk mengatasi masalah ini, ke depan seiring dengan program Jak Lingko, pihaknya akan mensinergikan seluruh jaringan layanan ada. “Dalam revitalisasi angkutan sekaligus ada rerouting, kemudian ada replacement armada. Tentu armada yang sudah tidak laik jalan kita dorong diremajakan,” ujar Syafrin.

Selain rerouting, dia berjanji akan menegakkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2015 tentang pembatasan usia kendaraan di Jakarta, yakni maksimal 10 tahun. Syafrin pun memahami para operator pendanaan dalam melakukan peremajaan. “Kita akan membantu masalah pembiayaan tersebut. Kita akan fasilitasi sehingga peremajaan itu berjalan semua,” janjinya.

Direktur Operasional PT Transportasi Jakarta Daud Josep memaparkan, program integrasi moda transportasi umum lewat Jak Lingko terus meluas. Saat ini, pihaknya tengah menyesuaikan rute angkutan umum yang tergabung Jak Lingko dengan pengoperasian MRT dan KRL.

Baca Juga : Taiwan Berani Kangkangi China

Operator yang sudah tergabung dengan Jak Lingko tidak keberatan jika rutenya diubah. Soalnya, kerja sama integrasi didasari dengan skema rupiah per kilometer. “Kalau terintegrasi, ke depan mobilitas warga Jakarta bisa beralih ke transportasi publik. Sehingga kemacetan bisa berkurang,” harapnya. [FAQ]

 


 

RM Video