RMco.id  Rakyat Merdeka - Posisi Banten yang bertetanggaan dengan Jakarta, menjadi sangat penting dan strategis. Selain menopang perekonomian ibukota negara, Banten juga banyak melahirkan tokoh bangsa. Karena itu, Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Oesman Sapta, menganggap Banten sebagai berkah bagi Indonesia.

Hal itu disampaikan OSO, sapaan akrab Oesman Sapta, dalam acara Anugerah Banten Maju 2019, di Merdeka Assembly Hall, Intermark Swiss-belHotel, BSD, Tangerang Selatan, Selasa (23/7) malam. Acara ini digagas oleh tiga media nomor satu di Banten: Satelit News, Banten Pos, dan Tangsel Pos. Ketiga media ini bernaung di bawah Rakyat Merdeka Group.

Acara ini dihadiri banyak tokoh. Selain OSO, ada putri Kiai Ma’ruf, Siti Nur Azizah; Mendagri  Tjahjo Kumolo; Gubernur Banten Wahidin Halim; Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany; Bupati Tangerang, Ahmed Zaki Iskandar; Walikota Tangerang Arief R Wismansyah; Ketua DPD Partai Golkar Banten yang juga Bupati Serang, Ratu Tatu Chasanah; mantan Gubernur Banten Rano Karno; Rektor Universitas Muhammadiyah Tangerang, Ahmad Amarullah; Rektor Universitas Multimedia Nusantara, Ninok Leksono; dan caleg DPD RI terpilih, Andiara Aprilia Hikmat.

Berita Terkait : PKS Warning Pemerintah Sigap Amankan Laut Indonesia

Di acara ini, diserahkan anugerah untuk sejumlah tokoh. Di antaranya untuk Kiai Ma’ruf yang menerima pengharagaan sebagai Putera Utama Banten, OSO sebagai Putera Utama Bhakti Krida, Tjahjo sebagai Pamong Praja Utama, Wahidin Halim sebagai Pelopor Revitalisasi Banten, Ahmed Zaki sebagai Pejabat Visioner dan Sahabat Pers, Airin sebagai Pejabat Inspirator dan Politisi Wanita Paling Produktif, dan Arief R Wismansyah sebagai Pejabat Millenial.

Kemudian untuk Rano Karno sebagai Caleg DPR Suara Terbanyak dan Andiara Aprilia Hikmat sebagai Caleg DPD Sejuta Suara. Penghargaan untuk Kiai Ma’ruf diterima Nur Azizah. Sedangkan untuk tokoh lain, diterima langsung. Dirut Rakyat Merdeka Group, Margiono, mengatakan, penganugerahan ini merupakan turunan dari Anugerah Indonesia Maju  yang digelar Rakyat Merdeka untuk tingkat nasional.

Penghargaan ini diberikan sebagai apresiasi dari insan pers, agar tidak hanya memproduksi kritik semata. “Bahwa pers harus pandai juga mengapresiasi karya-karya dan prestasi. Kebiasaan lama bahwa pers arogan, bahwa pers sok pinter, hendaknya sudah tidak ada lagi,” kata Margiono, disambut gemuruh tepuk tangan hadirin.

Berita Terkait : Mamuju Diguncang Gempa, BNI Serahkan Bantuan Untuk Korban

Mantan Ketua Umum PWI Pusat dua periode ini menyatakan, mengapresiasi itu ternyata tidak mudah. Karena itu, Rakyat Merdeka dengan komunitas pers lain membiasakan diri memberikan perhargaan kepada berbagai kalangan yang berprestasi. Karena menjadi pejabat dan orang sukses itu sulit.

“Saya sering bilang sama teman- teman, kalian ini jangan cuma mudah mengkritik pejabat dan orang-orang sukses. Saya itu, yang pernah jadi ketua wartawan, nyalon jadi Bupati saja gagal. Jadi, betapa sulitnya untuk menjadi pejabat,” kelakar Margiono, disambut gelak tawa seisi ruangan.

OSO, dalam sambutannya, mengatakan, Anugerah Banten Maju punya arti besar baginya. Sebab, Banten punya peran strategis bagi Indonesia. “Pusat ibu kota Indonesia itu sebenarnya ada di Banten. Karena, airport (Bandara Soekarno-Hatta) itu di Banten, bukan di Jakarta,” ucapnya.

Baca Juga : Dirjen Dukcapil Telah Terbitkan 15 Dokumen Kematian Korban Sriwijaya Air SJ182

“Banten adalah kota yang sangat penting bagi ibukota negara. Menyuplai banyak kebutuhan ibukota negara. Juga menjadi tempat penampungan muntahnya ibukota Jakarta,” sambungnya.

Tjahjo juga memberi sambutan. Politisi senior PDIP ini mengaku sebagai pembaca setia Rakyat Merdeka. Dia pun berharap, ajang tersebut menjadi inspirasi untuk membuat Banten lebih maju lagi. “Ini menjadi inspirator bagi kami dan memacu semua tokoh-tokoh yang ada di Banten untuk mengorganisir masyarakat lebih maju ke depan,” tuturnya.

Acara ini meriah. Ruangan berornamen modern dengan hiasan lampu yang mewah itu, penuh diisi hadirin. Suasana Merah Putihnya dapat. Rasa lokalnya juga dapat. Keakrabannya juga begitu hangat. Para pejabat dan rakyat berbaur. Tak ada jarak. Semua tak beranjak dari kursi sampai acara selesai. Rampam Beduk dari kesenian Pandeglang yang membuka acara, masih terngiang-ngiang saat para hadirin meninggalkan lokasi. [SAR]