Mudahkan Pembayaran

Transjakarta: Akhir Tahun Bus Non BRT Bisa Pakai Semua Uang Eletronik

Klik untuk perbesar
Bus Transjakarta. (Foto: Wikipedia)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Beberapa hari ini, ramai keluhan penumpang Transjakarta mengenai minimnya mesin electronic data capture (EDC) di dalam bus Transjakarta. Akibatnya, penumpang harus membayar cash. Tidak bisa memakai uang elektronik.

Menanggapi ini, PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) menjelaskan, ada perbedaan antara rute Bus Rapid Transit (BRT) dan non BRT. Adapun, rute BRT maksudnya, rute di dalam koridor yang melintasi halte-halte. Sementara rute non BRT merupakan rute di luar koridor yang bisa digunakan penumpang tanpa harus masuk ke dalam halte. Dari pinggir jalan di titik yang sudah ditentukan.

Nah, sejak dulu, perusahaan ini memang memakai tiket dari tapping di gate halte dengan kartu uang elektronik (KUE) dari bank untuk rute BRT. "Jadi dipastikan memang tidak ada pembayaran tunai di atas bus di rute BRT itu," ujar Direktur Utama PT Transjakarta Agung Wicaksono yang memberikan izin Rakyat Merdeka untuk mengutip seluruh keterangan tertulisnya di akun media sosialnya. 

Lantas bagaimana dengan Transjakarta non BRT? Apalagi, saat ini PT Transjakarta memiliki lebih banyak rute non BRT. Sampai saat ini sudah ada 900 bus non BRT yang dioperasikan Transjakarta yang membuat kawasan yang dijangkau lebih banyak. "Nah, untuk rute non-BRT ini haltenya tidak di tengah koridor, jadi pembayarannya tidak bisa tapping di halte, melainkan di dalam bus," ungkap Agung.

Menurutnya, mekanisme pembayaran yang paling memungkinkan di dalam bus adalah dengan sistem tap on bus. Penumpang tinggal menempelkan kartu uang elektronik ke mesin tap yang ada di dalam bus. Masalahnya, diakui Agung, sampai saat ini pihaknya masih menggunakan EDC lantaran dulu Transjakarta tidak melakukan investasi sendiri untuk sistem pembayarannya. 

Baca Juga : 17 Tahun Berjuang Melawan Kanker Otak, Vokalis Roxette Tutup Usia

PT Transjakarta masih bergantung pada bank sehingga semua pembayaran menggunakan kartu uang elektronik dari bank. Akibatnya, satu mesin EDC hanya bisa membaca satu jenis kartu bank tertentu. "Karena mesin EDC ini bergantung dari supply dari bank, sebagai back-up disediakan tiket kertas untuk bukti pembayaran," paparnya.

Oleh karena itu, untuk memperbaiki sistem ini, pihaknya menargetkan akan mulai meninggalkan mesin EDC. Nantinya, semua bus non BRT akan dipasangi alat pembaca atau reader untuk sistem tap on bus. Agar tak ada lagi ketergantungan pada mesin EDC dari bank yang merepotkan pelanggan karena mengharuskan memiliki banyak kartu bank dan tak ada lagi pembayaran tunai dengan tiket kertas.

Agung menargetkan, akhir tahun ini semua reader tap on bus ditargetkan akan terpasang di bus non BRT. Dia meminta tak perlu khawatir bahwa soal sistem pembayaran akan membuka peluang korupsi. 

“Sebab, ini adalah soal proses transformasi. Perubahan budaya untuk sistem pembayaran yang masih berproses. Saat ini pengadaan sedang dilakukan. Dulunya selalu pakai tiket kertas dan EDC untuk non BRT, ke depannya menjadi dengan Tap On Bus," pungkasnya.

Sebelumnya, beredar keluhan pengguna bus transjakarta di media sosial Facebook lantaran harus menyediakan tiga kartu dari tiga bank berbeda untuk membayar secara cashless di Transjakarta rute non BRT. Adalah netizen bernama Jonminofri Nazir, lewat akun facebooknya yang mengeluhkan ini. 

Baca Juga : Prasetiya Mulya Siap Cetak Mahasiswa Jadi Wirausahawan

“Hampir setiap hari saya naik Transjakarta. Saya menyiapkan tiga kartu pembayaran cashless dari tiga bank berbeda karena saya naik TJ tidak dari halte. E-money untuk S22 (Ciputat-Kampung Rambutan), Flash BCA untuk S21 (Ciputat-Tosari), dan TapCash BNI untuk D41 (Lebak Bulus-Universitas Indonesia Depok)," tulisnya pada Senin (29/7) lalu.

Belakangan dia harus menyiapkan uang tunai pula Rp 3.500 untuk membayar Transjakarta jika kartu cashlessnya ditolak oleh kondektur yang meminta penumpang membayar dengan uang tunai. Alasannya macam-macam. Dari mulai mesin EDC rusak tidak bisa membaca kartu, mesin EDC ada tapi lowbat, dan tidak punya charger, karena tidak kebagian charger dari pool. 

“Hingga tidak ada mesin EDC, seorang kondektur bercerita hanya 3 orang dari 15 rekannya yang kebagian mesin EDC. Semula hanya satu-dua Transjakarta yang meminta cash. Sekarang hanya sedikit saja kondektur menagih ongkos dengan mesin EDC di tangannya," keluhnya.

Dia pun menyimpulkan, manajemen Transjakarta tidak memberikan perhatian besar pada mesin EDC dan membuka peluang korupsi di Transjakarta. "Saya membayangkan ada orang kuat di Transjakarta atau Pemda DKI yang 'membuat mesin EDC' tidak dipakai. Tujuannya, ya itu, untuk mencuri uang setoran kondektur. Maklum mereka punya uang cash recehan berlimpah yang susah mengontrol atau mencocokkan dengan pasti antara jumlah karcis yang keluar dengan uang cash yang masuk. Bayangkan ada jutaan lembar karcis per hari yang diberikan oleh kondektur kepada penumpang yang naik di halte pengumpan," terangnya.

Sementara berdasarkan pengalaman Rakyat Merdeka, saat naik Bus Transjakarta 6H dari Pasar Senen menuju Lebak Bulus, penumpang bisa naik tidak dari halte. Yakni di depan pintu masuk Stasiun Pasar Senen, Jalan Letjen Suprapto. Setelah di dalam bus, petugas langsung mendatangi penumpang. Ada yang memakai kartu, banyak juga yang langsung membayar uang cash.

Baca Juga : Luhut: Pengusaha Pelayaran Punya Peran Strategis

Misalnya penumpang dengan gadget yang tak pernah lepas dari tangannya, ia membayar cashless. Petugas mendatanginya membawa EDC, hanya beberapa detik, bukti pembayaran keluar.

Berdasarkan pengamatan, pembayaran dengan EDC maupun cash, tak terlalu menjadi persoalan bagi penumpang. "Saya kira harus pakai kartu. Tapi yang naik gak dari Halte ternyata bisa juga cash ya. Ya mempermudah kalau pas saldo kita lagi habis," kata Agus, penumpang tujuan RSUD Pasar Minggu ini. [FAQ]