Alhamdulillah, Hidup Lagi

PLN Sakit, Listrik Meninggal Dunia

Beginilah mimik muka Presiden Jokowi saat tiba di Gedung PLN, Jakarta, Senin (5/8). Plt Dirut PLN, Sripeni Inten Cahyani (berkerudung) jalan di belakang presiden dengan tersenyum. (Foto: Randy Tri Kurniawan/Rakyat Merdeka)
Klik untuk perbesar
Beginilah mimik muka Presiden Jokowi saat tiba di Gedung PLN, Jakarta, Senin (5/8). Plt Dirut PLN, Sripeni Inten Cahyani (berkerudung) jalan di belakang presiden dengan tersenyum. (Foto: Randy Tri Kurniawan/Rakyat Merdeka)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Listrik yang sempat meninggal dunia berjam-jam selama dua hari kemarin, alhamdulillah sudah hidup lagi. Namun, PLN harus secepatnya diobati dengan obat mujarab supaya sakitnya tidak semakin parah.

Mengapa harus segera diobati? Sebab, sakitnya PLN saat ini telah menimbulkan banyak kerugian. Dari masyarakat kecil sampai pengusaha besar. Dari rakyat sampai pejabat. Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Ritel Indonesia (Aprindo), Roy Mandey memprediksi, potensi kerugian material peritel atas matinya listrik dalam dua hari kemarin  mencapai Rp 200 miliar.

Angka ini didapat setelah mengkalkulasikan jumlah rata- rata pengunjung pusat perbelanjaan, yang mencapai 30 ribu orang pada akhir pekan. Akibat listrik yang mati, diperkirakan ada 10 ribu orang menunda belanjanya. “Kalau mereka belanja Rp 200 ribu, berarti sudah Rp 2 miliar (rugi). Kemudian, dikali 82 mal di seluruh Jakarta, jadi sekitar Rp 164 miliar,” jelasnya.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi Sukamdani, menyebut, pihaknya memang belum menghitung secara pasti angka kerugian atas matinya listrik pada dua hari kemarin. Namun, kerugian sudah terlihat jelas. Yaitu dari turunnya output produksi barang/jasa, dan hilangnya jam kerja meskipun kejadian di hari Minggu.

Baca Juga : Jaksa Agung Kebanyakan Omdo

PLN juga sudah membuat kalkulasi. Dalam hitungan PLN, kerugian akibat matinya listriknya sebesar Rp 90 miliar.

Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Johnny Darmawan, menyebut, hasil hitungan PLN ini berpotensi bertambah. Apalagi sampai saat ini kondisi listrik belum stabil.

"Kerugian bisa lebih dari Rp 90 miliar. Karena yang terkena adalah Jakarta dan sekitarnya. Berhubung pemadaman di hari Minggu, dampaknya mengena kepada pabrik yang overtime, karena operasinya pasti akan full speed. mal, hotel, dan pom bensin tidak berfungsi. Memang ada hotel yang mempunyai genset besar, tapi bagaimana bagi yang tidak?” katanya.

Hitungan Wakil Ketua Umum Kadin DKI Jakarta, Sarman Simanjorang, lebih besar lagi. Dia menyebut, kerugian pengusaha mencapai triliunan. “Terus terang kami agak sulit menghitung angka kerugian. Namun, jika dilihat dari banyaknya sektor usaha dan pelayanan publik yang terimbas, bisa mencapai triliunan rupian,” ujar Sarman.

Baca Juga : Pramono Bilang Maunya Jokowi

Ekonom Indef, Bhima Yudhistira, memiliki hitungan yang sama dengan Sarman. Kata dia, pemadaman listrik yang berimbas ke jaringan telepon dan internet parktis memengaruhi jual beli online. Order jadi terlambat, dan konsumen mengeluh.

“Kerugian ditaksir bisa menembus triliunan. Bengkel, makanan minuman yang bergantung pada listrik terganggu. UMKM menjadi korban yang paling rentan, tidak semua mampu beli genset untuk backup saat listrik mati,” jelasnya.

Tak hanya di dunia usaha, kerugian juga dialami oleh perorangan. Dari mulai asi meleleh, hingga ikan hias mati.

Sejarawan, JJ Rizal lewat kicauannya di akun Twitter @JJRizal mengaku, 43 ikan koi yang telah dipeliharanya bertahun-tahun mati karena pompa air tak berfungsi saat listrik padam.

Baca Juga : Kebal Corona Karena Qunut, Kiai Ma’ruf Keluar NU-nya

“Malam cari cangkul nyiapin kuburan buat korban @pln_123 koi yg saya pelihara selama 5-7 tahun en sudah mencapai 40-70 cm mati semua, selamat berenang ke sorga kawan,” tulisnya. “Apakah kali ini @ pln_123 yg merugikan bikin koi saya mati mau membayar ganti rugi kepada saya?” tanya dia.

Serupa, 11 ikan koi milik Nana, warga Kelapa Gading, Jakarta Utara, juga mati karena alat untuk menyuplai oksigennya tak beroperasi. Belasan ikan sudah dipelihara keluarga Nana sejak dua tahun lalu. “Saya cuma bisa ikhlas,” kata dia.

Sedangkan Novi, warga Bintara, Bekasi Barat, Jawa Barat, mengeluh soal air susu ibu (ASI) yang dia bekukan untuk keperluannya anaknya, seluruhnya mencair. “ASI yang saya bekukan khusus bagi anak saya semua mencair. Sedih sekali, karena susu yang sudah mencair tidak boleh dibekukan. Jumlahnya banyak sekali sampai 20 kantung lebih,” ungkap dia.

Melihat banyaknya keluhan masyarakat, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) bersama Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta dan forum masyarakat sipil lain membuka posko pengaduan di LBH.
 Selanjutnya