Bilang Ada Ulama Arab Mau Sebarkan Paham Radikal, Mahfud Dicolek Din

Klik untuk perbesar
Ketum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin (kiri) dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD. (Foto: Istimewa).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pernyataan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Prof Mahfud MD, ihwal adanya orang Arab Saudi bawa duit jutaan dolar dan mau menyebarkan paham radikal di Indonesia, berbuntut panjang. Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Din Syamsuddin, mencolek Mahfud. 

Din bilang, Mahfud jangan menyebar fitnah. Dalam keterangannya kepada wartawan, kemarin, Din menyatakan, uca pan Mahfud itu bernada tuduhan dan menciptakan keresahan di tengah masyarakat. 
Kata Dia, kalau Mah fud benar tahu ada pengusaha Arab Saudi yang membawa uang un tuk membantu kelompok radikal, seharusnya melapor ke Polisi. 

“Sebaiknya Mahfud MD menjelaskan nya dan melaporkannya ke Kepolisian. Kalau tidak melaporkan, maka itu sama dengan melempar isu atau menyebar fitnah yang berbahaya bagi kerukunan bangsa,” ucap pria yang kini menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan MUI itu.  Din merasa, pernyataan Mahfud tadi bisa menyudutkan umat Islam. Isu radikalisme, secara tendensius, bisa mengarah ke kalangan Islam. 

Berita Terkait : Polri Pastikan Harga Bahan Pokok Stabil

“Kita semua menolak radikalisme, tapi semua pihak harus berkeadilan untuk melihat radikalisme tidak hanya bermotif keagamaan. Juga dilakukan kelompok isme-isme lain, seperti liberalisme, kapitalisme, komunisme, bahkan radikalisme politik yang cenderung berkuasa demi kekuasaan itu sendiri,” tegasnya. 

Din menganalisa, saat ini banyak yang ingin bersembunyi di balik Panca sila dengan menuduh pihak lain anti-Pancasila. Padahal, pada saat yang sama, pihak tersebut memanipulasi Pancasila untuk kepentingan kekuasaan, politik, atau kelompoknya. 

Pernyataan Mahfud yang dimaksud disampaikan dalam diskusi Gerakan Suluh Kebangsaan, organisasi yang dipimpinnya, di Hotel JS Luwansa, Jakarta Selatan, Jumat lalu. Saat itu, Mahfud menyampaikan adanya orang-orang berpaham radikal dari Arab Saudi yang hendak ke Indonesia.

Baca Juga : Hary Tanoe: Tahun Depan MNC Bank Fokus Bangun Layanan Digital

 Orang-orang Arab ini membawa uang da lam jumlah besar untuk mendukung gerakan radikalisme di Tanah Air. “Sekarang ada info di Saudi Arabia itu terjadi penangkapan-penang kapan terhadap orang radikal. Sudah banyak tertangkap.

Tapi, yang belum tertang kap itu banyak yang akan lari ke Indo nesia dengan bawa jutaan dolar,” tutur nya. Mahfud menduga, kelompok radikal tersebut membawa uangnya un tuk mendirikan pesantren yang ‘berbeda’ di Indonesia. 

Sejumlah daerah juga disebutkan sudah terpapar radikalisme. “Di Yogya saya tahu ada, di Magelang. (Di pesantren itu) nggak boleh menyanyikan lagu Indonesia Raya, mengibarkan Merah Putih. Itu tiba-tiba besar, sehingga kita sekarang mem buat skenario planning untuk mem baca peta,” ungkap Mahfud.

Baca Juga : Soal Masalah Garuda, Sekarga Serahkan Sepenuhnya Pada Pihak Berwenang

Dia menyebut, radikalisme dalam konteks ini adalah gerakan yang ingin mengganti sistem dan ideologi yang sudah mapan dan disepakati bersama di Indonesia dengan cara-cara non demokratis. 

Gerakan Suluh Kebangsaan menolak perubahan dengan cara itu. “Apakah kita antiperubahan? Ti dak. Kita sadar perubahan itu harus dilakukan. Tapi, perubahan kita adalah perubahan gradual. Sistem sudah man tap diperbaiki, berdasar sistem itu, yaitu sistem 

Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Panca sila,” tutur Mahfud. Saat dikonfirmasi Rakyat Merdeka tadi malam, Mahfud menyadari omongannya itu ramai diperbincangkan. Namun begitu, dia menanggapinya dengan santai. Kata Mahfud, isu ten tang banyaknya kaum radikal yang melarikan diri ke Asia Tenggara dan belum ditangkap sudah sering diungkap. “Tapi begitu saya ikut ngomong, tiba-tiba jadi berita besar dan ditanggapi secara besar-besaran. Alhamdulillah, kalau begitu,” ujarnya.  [BSH/FAQ]