RMco.id  Rakyat Merdeka - Kebakaran hutan dan lahan (Kathutla) di Riau sudah menelan korban jiwa. Seorang kakek tewas terbakar saat mencoba memadamkan kebakaran lahan di kampungnya. Warganet langsung melambungkan tagar #SaveRiau untuk mencegah jatuhnya korban lagi.

Asap sisa Karhutla di Riau sudah muncul sejak sebulan lalu. Kian hari kondisinya makin memburuk. Kemarin, asap sudah menyelimuti Kota Pekanbaru.

Saking pekatnya, jarak pandang  turun drastis hingga tinggal 300 meter. Membuat Jembatan Siak IV, ikon Kota Pekanbaru itu, lenyap ditelan jerebu Karhutla. Akibat jarak pandang yang memburuk ini, sejumlah penerbangan menuju Pekanbaru terganggu.

Asap sisa Karhutla juga membuat kualitas udara di sebagian besar daerah di Riau turun drastis ke kategori berbahaya. Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Sumatera mencatat, penghitungan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Riau rata-rata menunjukkan angka 300. Ini artinya masuk kategori berbahaya. Akibatnya, sekolah diliburkan dan sebagian warga  memilih mengungsi keluar kota.

Baca Juga : Lagi Bersepeda, Eks Stafsus Jonan Wafat

Pekatnya kabut asap tak hanya menyelimuti Pekanbaru. Sejumlah kabupaten di Riau seperti Indragiri Hulu, Pelalawan, dan Kota Dumai juga mengalami hal yang sama. Jarak pandang turun drastis antara 200-400 meter, kemarin pagi.

Karhutla tak hanya mengganggu aktivitas warga. Tapi sudah menelan korban jiwa. Seorang kakek di Indragiri Hilir bernama Mulyoto ditemukan tewas dengan kondisi terbakar di kebun miliknya yang terletak di Parit 11 Dusun Mugo Mulyo, Desa Lintas Utara, Kecamatan Keritang, Rabu (11/9).

Kejadian naas yang menimpa kakek berusia 70 tahun itu terjadi saat korban berupaya memadamkan api yang membakar lahan kebun miliknya. Menurut keluarga, Mulyoto pergi dari rumah menggunakan sepeda motor untuk memadamkan api dengan membawa alat semprot tangki punggung. Namun hingga sore hari, Mulyoto tidak kunjung pulang.

Saat dilakukan pencarian, korban ditemukan sudah tidak bernyawa dengan kondisi terlungkup dan kaki terlilit ranting. Korban langsung dimakamkan keluarga setelah dibawa ke Puskesmas setempat.

Baca Juga : Menkumham : Pemanfaatan Sistem IT Mudahkan Pendaftaran KI dan Berantas Pungli

Peneliti di Stasiun BMKG Pekanbaru, Bibin Sulianto mengatakan, pekatnya kabut asap disebabkan Karhutla yang ada di Riau dan provinsi bagian selatan Sumatera. Ditambah angin yang berhembus dari tenggara hingga selatan membawa polutan jerebu ke Riau. Jerebu menumpuk di daerah Riau karena hembusan angin cenderung lambat. "Kecepatan angin di Riau sendiri tergolong lambat, hanya 5 knot atau 10 kilometer per jam,” kata Bibin, di Pekanbaru, kemarin.

Berdasarkan data BMKG Stasiun Pekanbaru, terpantau ada 1.319 titik panas (hotspot) yang jadi indikasi awal Karhutla di Pulau Sumatera. Titik panas paling banyak di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) yakni 537 titik, kemudian Jambi 440 titik, dan Riau sendiri ada 239 titik panas.

Parahnya kabut asap di Riau menggungah sebagai warganet untuk membuat tagar #SaveRiau. Lewat tagar Itu, netizen melaporkan dan membagikan kondisi Pekanbaru yang menguning tertutup asap. Gambar-gambar jalanan tertutup asap berseliweran. Melalui tagar itu juga, warganet meminta pemerintah pusat turun tangan membantu menyelesaikan masalah.

Pemilik akun @hilmi28 merasa pemerintah belum maksimal  menanggulangi bencana asap. "Ya Robb. Lindungi saudara kami di Riau dan juga daerah lain yang terkena bencana asap. Segera turunkan hujan ya Robb. Bantu kami ya Robbana," ujarnya.

Baca Juga : Hari Ini Nambah 1.462 Orang, Jatim Juara Lagi

Sementara akun @defrizonindra menyindir selebtwit yang dulu begitu heboh mengritik kualitas udara di Jakarta. Namun mingkem saat terjadi karhutla di Riau. “Kaum elit Jakarta ramainya minta ampun saat udara Jakarta buruk. Pas Riau berbulan-bulan diselimuti asap kalian mingkem," ujarnya sambil menyisipkan tagar #saveriau dan #prayforriau. "Kalian yang teriak-teriak polusi udara/asap Jakarta parah, mainlah ke Riau kami, di sini ada wisata asap yang lebih bagus," timpal @gaznavid.

Akun @pointerID menyebut kondisi di Riau sudah darurat. Karena kualitas udara di Riau sudah masuk level berbahaya. "Kalau Pemerintah sudah merasa tak mampu mengatasi Karhutla ini, sebaiknya minta bantuan ke negara-negara lain. Jangan menunggu korban bertambah," ujarnya.

Akun @stevanihuang yang mengaku dari Riau, minta tolong. Dia bilang, keadaan di kampungnya sudah parah. Asap makin pekat dan mengganggu aktivitas. "Minta tolong bantu doa dan tolong sampaikan ke seluruh dunia melalui media sosial berita sebenarnya bahwa kami sudah tidak tahan menanggung penderitaan dan kesedihan kembali berulang menelan korban jiwa anak-anak," paparnya. [BCG]