RMco.id  Rakyat Merdeka - Acara puncak Piala Presiden Kompetisi Nasional Media Piala Presiden, di Hotel Sultan, tadi malam, berlangsung meriah.

Menkominfo, Rudiantara berharap, kompetisi ini bisa terus berlanjut. Tujuanya, agar semakin banyak karya jurnalistik yang memberi masukan ke pemerintah.

Kompetisi ini didedikasikan bagi para jurnalis atas karya yang berkaitan dengan tantangan yang dihadapi bangsa.

Tak cuma untuk kalangan pers, kompetisi ini juga terbuka untuk kalangan umum. Salah satu pemenang pertama Piala Presiden kategori artikel opini adalah Ahmad Syafii Maarif atau Buya Safii.

Acara pemberian hadiah digelar di Hotel Sultan, Jakata, tadi malam. Sedianya, Presiden Jokowi diagendakan memberikan langsung hadiah ke para pemenang di acara yang bertajuk “Malam Anugerah Piala Presiden” ini.

Sayangnya, Jokowi berhalangan hadir. Namun begitu, acara tetap meriah dengan kehadiran Rudiantara. Ruangan utama acara terisi penuh.

Selain Rudiantara, sejumlah pejabat lain juga hadir. antara lain Menteri PPN/ Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro; Menhub, Budi Karya Sumadi; Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti; Wakil Ketua MPR Fadel Muhammad; dan Ketua MK Anwar Usman.

Dari kalangan pers juga ikut hadir seperti Ketua Dewan Pers, M Nuh, dan mantan Ketua Dewan Pers Bagir Manan.

Berita Terkait : Persebaya Tak Setuju Kompetisi Liga 1 Dilanjutkan

Ketua Panita, Margiono memberikan sambutan dengan penuh guyonan. Dia mengawali sambutannya dengan menyapa para tamu. Kepada para menteri yang hadir, ia mendoakan diperpanjang jabatannya di periode kedua.

Kepada menteri yang tak hadir, semoga digeser ke tempat basah. Sepengetahuan saya, cuma ada satu kementerian yang basah, yaitu Menteri Kelautan,” kata Margiono, disambut tawa hadirin.

Margiono lalu bercerita soal ketidakhadiran Presiden. Kata dia, sampai sore, Presiden masih berkenan akan hadir. Namun, karena ada satu hal, Presiden menugaskan Wapres. Karena Wapres juga ada acara lain, akhirnya Presiden menugaskan Menkominfo.

Setelah itu, Margino mengulas kompetisi ini. Kata dia, kompetisi ini mendapat sambutan hangat dari para jurnalis. Buktinya, ada 1.500 peserta dari 142 media yang ikut kompetisi ini.

Yang ikut bukan media abal-abal. “ini kompetisi jurnalistik terbesar di negeri kita,” kata Margiono.

Hadiah yang di bagikan kepada pemenang juga begitu fantastis. Pemenang pertama mendapat hadiah Rp 100 juta. Pemenang kedua dan ketiga masing-masing Rp 50 juta dan Rp 25 juta.

 

 

Baca Juga : Merawat Emosi Umat (2)

Setelah itu, Margiono menceritakan sekilas tentang tim yang menyelenggarakan kompetisi ini. Tim ini bernama Jurnalisme Profesional untuk Bangsa.

Menyebut nama itu nama modern. Beda dengan nama-nama wadah lain yang biasa menggunakan “ikatan”, “persatuan”, “aliansi” atau “forum”.

Dia bilang, nama tersebut mendapat pujian dari Bagir Manan. Nama tim tersebut langsung merujuk pada nilai. Pers memang harus membicarakan persolan bangsa. Membicarakan masalah-masalah kebangsaan.

“Jangan hanya mengeluh tentang dirinya sendiri,” kata Margiono mengutip omongan Bagir.

Tim jurnalisme ini diawasi tokoh tokoh senior, seperti Suryo Pratomo, M Nuh, dan sebagainya.

Margiono cerita, sebelum menyelenggarakan kompetisi, tim lapor dulu ke Menkominfo, lalu ke Seskab, kemudian ke Dewan Pers, dan terakhir ke Presiden Jokowi.

Kata Margiono, Jokowi tak memberikan jawaban saat menanggapi rencana kompetisi ini.

“Beliau hanya tersenyum. tapi bagi orang Jawa, senyum ini sudah lebih dari setuju,” ujarnya.

Baca Juga : Banjir Landa Masamba, Pertamina Peduli Salurkan Bantuan Bagi Warga

Terakhir, tim ini kembali bertemu Presiden untuk melaporkan hasil kegiatan.

“Saya laporkan lagi dan presiden bersedia hadir,” ceritanya.

Terakhir, Margiono mengisyaratkan kompetisi ini akan terus belangsung. Di tengah-tengah kompetisi ini akan ada kompetisi jurnalistik lainnya. Paling dekat adalah kompetisi jurnalistik untuk penulisan dan karikatur untuk calon ibu kota.

Setelah Margiono, giliran Rudiantara yang maju ke podium. Dalam pidato nya, Rudiantara menyampaikan salam dari Presiden Jokowi yang tak bisa datang untuk para tokoh pers dan peserta yang hadir.

Mengenai acara, Rudiantara menyambut dengan sangat baik. Kata dia, kompetisi ini menjalin interaksi dengan media. Karena itu, ia berharap kompetisi ini terus berlanjut.

“Mudah-mudahan nanti ada yang kedua, ketiga, dan selanjutnya,” kata Rudiantara.

Kata Rudiantara, ada banyak karya jurnalistik yang menjadi masukan bagi pemerintah. Salah satunya soal peningkatan sumber daya manusia.

Acara ditutup dengan penuh khidmat dengan pembacaan doa yang dipimpin Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar. [BCG]