Hari Pangan Sedunia, FAO Ajak Masyarakat Perbaiki Pola Makan

Klik untuk perbesar
Peringatan Hari Pangan Sedunia di Konawe Selatan, Sabtu (2/11). (Foto FAO Indonesia)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Food and Agriculture Organization (FAO) meminta seluruh masyarakat, agar memperbaiki pola makan untuk mengatasi masalah gizi.

Di Pembukaan Hari Pangan Sedunia ke-39, Perwakilan FAO, Stephen Rudgard mengatakan, Indonesia memiliki salah satu keanekaragaman hayati terkaya di dunia, dan beragam tanaman pangan dan jenis hewani, namun pola makan di Indonesia bergantung pada sejumlah jenis tanaman dan hewan yang jumlahnya menurun.

“Di Indonesia harga makanan pokok cukup tinggi, dan kami melihat kenyataan bahwa harga-harga makanan di Indonesia merupakan salah satu termahal di Asia Tenggara, kata Stephen Rudgard seperti diberitakan kantor berita Antara, di Konawe Selatan, Sabtu (2/11).

Ia mengungkapkan pada faktanya kelaparan dan obesitas hidup berdampingan di seluruh Indonesia, dan kadang-kadang bahkan berada di rumah tangga yang sama.

Berita Terkait : Gelar Jalan Sehat Bareng KKP, IKA UNDIP Ajak Masyarakat Gemar Makan Ikan

"Prevalensi nasional jumlah stunting pada anak-anak di bawah usia 5 tahun sangat signifikan, yakni lebih dari 30 persen dan prevalensi kondisi kurus untuk kelompok usia yang sama juga sangat signifikan pada 10 persen. Di sisi lain, 8 persen anak-anak di Indonesia mengalami obesitas," ungkapnya.

Pola makan secara umum di Indonesia tidak sama dengan umumnya di negara berpenghasilan menengah. Indonesia memiliki ketergantungan yang tinggi pada beras, namun konsumsi sayuran, buah, daging, dan lemaknya rendah.

"Faktanya, Indonesia memiliki porsi asupan energi tertinggi dari biji-bijian, khususnya beras di dunia. Porsi makanan bukan tepung di Indonesia adalah 30 persen, sedangkan rata-rata global adalah 50 persen.

Tingkat konsumsi buah dan sayuran, lanjutnya, kurang dari setengah asupan harian yang direkomendasikan secara nasional.

Berita Terkait : Rakor Di Kuningan, Tito Bahas Penguatan Perbatasan

Pola makan di Indonesia umumnya rendah lemak dan minyak, sekitar 20 persen dari total kalori yang dikonsumsi dibandingkan dengan Eropa yang mencapai 30-50 persen.

Saat ini, FAO, International Food and Agricultural Development (IFAD) dan World Food Programme (WFPh berusaha membantu pemerintah dalam mengidentifikasi bagaimana kebijakan, dan intitusi dapat menciptakan lingkungan yang lebih mendukung melalui telahan sistem pangan dimulai dari produksi hingga pemrosesan dan ritel.

“FAO bekerja sama dengan Pemerintah dalam mengidentifikasi cara-cara untuk meningkatkan efisiensi rantai makanan dari pertanian hingga proses akhir untuk dimakan, mengurangi biaya transportasi dan pemrosesan, dan untuk mengurangi limbah makanan.

Semua tindakan ini akan membantu orang untuk menlankan diet yang lebih baik," ujar Rudgard.

Berita Terkait : Pertiwi Indonesia Ajak Masyarakat Ciptakan Ekosistem Kebaikan

FAO juga telah berkolaborasi dengan Pemerintah dalam pendekatan untuk mendorong petani untuk mengadopsi teknologi dan praktik inovatif untuk meningkatkan efisiensi produksi pangan. [SRI]