Investasi Gizi Cermat, Kokohkan Pondasi SDM Unggul

Ilustrasi gizi untuk anak (Foto: childtime.com)
Klik untuk perbesar
Ilustrasi gizi untuk anak (Foto: childtime.com)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Dalam pidato pelantikannya pada 20 Oktober lalu, Presiden Jokowi menegaskan, pembangunan sumber daya manusia adalah prioritas pertama pemerintahannya di periode 2019-2024.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional  (RPJMN) 2020-2024 menetapkan penurunan stunting sebagai fokus prioritas bidang kesehatan.

Saat ini 30,8 persen balita di Indonesia mengalami stunting (RISKESDAS 2018). Karena itu, intervensi melalui pemenuhan kebutuhan gizi serta pencegahan dan pengobatan penyakit, menjadi fokus upaya penurunan stunting secara terintegrasi.

Dalam hal ini, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) sebagai bagian dari masyarakat sipil, memiliki peran penting dalam pengembangan keilmuan, yang dapat membantu pemerintah melakukan berbagai upaya perbaikan gizi dan kesehatan.

Pemenuhan gizi yang tepat sedini mungkin, sangat penting dilakukan untuk mencegah masalah beban ganda gizi. Baik tingginya permasalahan kekurangan gizi dan meningkatnya masalah obesitas, serta pertumbuhan epidemi penyakit tak menular, yang disebabkan oleh asupan gizi yang berlebih pada era transisi gizi yang cepat.

Melalui International Conference on Nutrition (ICON) 2019 yang diselenggarakan pada Senin (4/11) di Gedung IMERI FKUI, Jakarta, dibahas berbagai faktor yang mempengaruhi gizi dan kesehatan sesuai siklus kehidupan.

Baca Juga : Airlangga Beri Kuliah Umum di Seskoal

Periode 1.000 hari pertama kehidupan, yaitu sembilan bulan kehidupan janin dalam kandungan, kelahiran dan bertumbuh hingga usia dua tahun merupakan periode yang sangat penting dalam menentukan status gizi dan kesehatan, untuk jangka panjang.

Hal ini termasuk mengurangi angka kesakitan dan kematian anak, serta mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.

Maraknya makanan olahan yang dikenal sebagai ultra process foods yang disertai berkurangnya asupan buah-buahan dan sayur-mayur, mendorong balita lebih menyukai makanan-makanan olahan. Ini mengakibatkan peningkatan obesitas dan penyakit degeneratif pada anak.

Berbagai upaya penyampaian pesan-pesan pola makan sehat telah dilakukan di sekolah-sekolah, namun efektivitas penyampaian pesan tersebut perlu dikaji.

Asupan gula tambahan dalam taraf tinggi pada pola makan harian balita, juga mengakibatkan perubahan biologis, sebagai manifestasi awal penyakit degeneratif pada anak.

Di sisi lain, keluarga-keluarga yang mengalami kerawanan pangan juga rentan dalam pemenuhan kebutuhan gizi pada anak.

Baca Juga : Sejumlah Wilayah Di Indonesia Rentan Rawan Pangan

Karena itu, diperlukan suatu panduan agar dapat memenuhi kebutuhan gizi, sesuai jenis pangan yang terjangkau dan tersedia. Agar anak-anak tersebut terhindar dari kekurangan gizi jangka panjang, yang mengakibatkan stunting.

"Anak yang mengalami stunting akan memiliki inteligensia dan kemampuan kognitif yang rendah, hambatan belajar serta tingkat kelulusan sekolah yang rendah. Saat dewasa, upah yang didapat juga rendah. Diperkirakan sebesar 2-3 persen Produk Domestik Bruto (PDB) nasional hilang akibat masalah gizi” ujar Dr. Rr. Dhian Probhoyekti, SKM, MA, Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan.

Selain faktor akses dan utilisasi pangan, stunting juga dapat disebabkan oleh kondisi biologis. Yaitu gangguan penyerapan yang memerlukan penanganan secara klinis. Dalam mencegah stunting, memberi perbaikan pertumbuhan dan perkembangan anak, dan mengatasi beban ganda gizi, pendekatan intervensi spesifik gizi dan sensitif multisektor harus dilakukan.

Pendekatan tersebut meliputi memadainya akses pada pola asuh anak, stimulasi psikososial dan praktek pemberian makan sesuai usia, pelayanan kesehatan, kesehatan lingkungan, ketersediaan sarana air bersih dan sanitasi, serta keberagaman makanan yang aman dan bermutu.

Di sisi lain, prevalensi anemia pada ibu hamil yang tinggi yaitu sebesar 48,9 persen (RISKESDAS, 2018), mengakibatkan sulitnya menurunkan angka kesakitan dan kematian pada ibu.

Penyebab utama anemia adalah kekurangan zat besi. Hal ini terjadi pada hampir separuh ibu hamil di Indonesia. Berbagai penyakit degeneratif yang terjadi pada usia remaja hingga dewasa, maupun yang dipicu setelah usia kanak-kanak - yaitu penyakit jantung dan penyakit metabolik -, memiliki hubungan erat dengan status gizi dan kesehatan pada usia tersebut.

Baca Juga : Di Rapat Paripurna Istimewa DPRD, Walkot Tangerang Paparkan Capaian dan Evaluasi Kerja

Di Indonesia, penyakit tidak menular akibat masalah gizi yang dipicu pola makan, serta gaya hidup yang tidak sehat, meningkat pesat seperti di berbagai negara lainnya.

Asupan dan metabolisme zat gizi mikro pada usia reproduktif, sangat penting diimbangi dengan pola makan dari beragam kelompok makanan. Sesuai pedoman gizi seimbang yang tercermin dalam panduan Isi Piringku.

Gangguan gizi dan metabolik seperti gangguan kadar lemak dalam darah, diabetes melitus atau dikenal sebagai kencing manis, serta obesitas sentral semakin meningkat dan menjadi bagian yang harus ditanggung oleh negara melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Dengan demikian, “Investasi gizi yang cermat bersama dengan peningkatan akses pada berbagai sektor adalah kunci pembangunan SDM dan pembangunan nasional.

"Kami mengundang para akademisi, pemangku kebijakan dan pihak-pihak yang terkait untuk mendiskusikan tantangan yang kita hadapi pada beban ganda malnutrisi di era transisi gizi, serta mengupas perkembangan dan terobosan-terobosan terbaru yang berbasis riset, dalam mengatasi kendala-kendala dalam menanggulangi stunting” tegas Dr. Rina Agustina, M.Sc, PhD, Ketua Program Studi Doktor Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, selaku penyelenggara ICON 2019. [HES]