Februari-Maret, 5 Wilayah Jakarta Rawan DBD

Hati-Hati, DBD Mengintai Warga Jakarta

Nyamuk aedes aegypti, penyebab penyakit DBD. Pemberantasan sarang nyamuk aedes aegypti dapat dilakukan dengan cara 3M (menguras, menutup, dan mendaur ulang tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk aedes aegypti. (Foto: Istimewa)
Klik untuk perbesar
Nyamuk aedes aegypti, penyebab penyakit DBD. Pemberantasan sarang nyamuk aedes aegypti dapat dilakukan dengan cara 3M (menguras, menutup, dan mendaur ulang tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk aedes aegypti. (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Warga DKI Jakarta harus ekstra hati-hati.  Memasuki bulan Februari dan Maret 2019,  wilayah ibukota diprediksi rawan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Kesimpulan itu diperoleh berdasarkan data prediksi probabilitas kesesuaian kelembaban udara di lima wilayah DKI Jakarta.

"Di bulan Januari, yang masuk dalam kategori waspada adalah wilayah Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Widyastuti dalam keterangan tertulis, Minggu (20/1).

DBD diprediksi akan meningkat beberapa hari atau minggu setelah musim hujan pada awal tahun 2019 ini. Karena itu, kehati-hatian harus terus ditingkatkan. 

Berita Terkait : Nurhadi Ngerjain KPK

Dijelaskan, sepanjang tahun 2018, DKI Jakarta mencatat 2.947 kasus DBD (Insidence Rate/IR = 28,15/100.000 penduduk) dengan dua kematian (Case Fatality Rate/CFR= 0,07 persen).

Pada 2018, wilayah yang memiliki IR tertinggi di Jakarta adalah Kepulauan Seribu, sebesar 41,4/100.000 penduduk, disusul Jakarta Barat 37,0/100.000 penduduk. "Pemprov DKI Jakarta dan masyarakat harus bekerja sama mengantisipasi Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD ini," kata Widyastuti.

Langkah-langkah yang dilakukan di antaranya menyebarluaskan informasi kemasyarakat menggunakan media Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) atau media sosial yang ada tentang waspada DBD dan pengendaliannya, yaitu dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Selain itu, juga diperlukan peningkatan sistem kewaspadaan dini penyakit DBD, melalui penguatan jejaring pelaporan kasus berbasis rumah sakit.

Baca Juga : 3 Serikat Buruh Hidupkan MPBI

Pemprov DKI bekerja sama dengan BMKG, dalam pengembangan model prediksi angka DBD berbasis iklim, yang dapat diakses melalui http://bmkg.dbd.go.id/. Pemodelan ini merupakan bentuk sistem kewaspadaan dini yang dapat diakses seluruh lapisan masyarakat dalam rangka antisipasi.

"Kita harus melakukan tindakan preventif, dengan melakukan upaya-upaya pengendalian DBD. Antara lain, dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) 3 M (Menguras, Menutup, Mendaur ulang) tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD, plus kegiatan lainnya dalam mengurangi gigitan nyamuk," terang Widyawati.

Ia menambahkan, pemeriksaan jentik oleh Juru Pemantau Jentik (Jumantik) dilakukan minimal seminggu sekali. Biasanya, setiap hari Jumat.

Baca Juga : Bertemu Presiden Jokowi, Tony Blair Happy Masuk Tim Pemindahan Ibu Kota

Selain itu, juga perlu ditingkatkan Peningkatan Peran Jumantik Cilik/Jumantik Sekolah dalam kegiatan PSN. Baik di sekolah maupun tempat tinggalnya. "Serta pemutusan mata rantai penularan dengan fogging. Fokus pada kasus DBD dengan hasil Penyelidikan Epidemiologi (PE) positif," kata Widyastuti. [HES]