Jalur Sepeda di DKI, Banyak Dibangun Tapi Tak Ada Kebijakan Pendukung

Jalur sepeda (Foto: Istimewa)
Klik untuk perbesar
Jalur sepeda (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kecelakaan melibatkan tujuh pesepeda dengan mobil Avanza terjadi di Jalan Sudirman, Jakarta Selatan, Sabtu (28/12). Tepatnya di depan Gedung Summitmas. Apakah jalur sepeda belum efektif memberikan kenyamanan bagi pesepeda?        

Pengamat transportasi Djoko Setijowarno menilai, jalur sepeda sebenarnya sudah lama terbangun di beberapa kota di Indonesia, termasuk Jakarta. Namun, jalur sepeda yang dibuat memang tidak ada kebijakan pendukungnya.         

"Jangan dibayangkan adanya jalur sepeda membuat orang ramai-ramai menggunakan sepeda. Meski jalur sepeda tujuannya baik, tetapi belum cukup untuk menata Jakarta," katanya kepada Rakyat Merdeka, Minggu (29/12).          

Baca Juga : Arab Saudi Larang Warga Negara-negara GCC Masuk ke Mekkah dan Madinah

Menurutnya, kebijakan pendukung misalnya seperti parkir sepeda, tempat penyewaan sepeda, toko aksesori dan bengkel sepeda, serta ruang ganti/toilet umum (pesepeda) di sekolah, terminal, stasiun, taman, gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan. 

"Jalur pemisah antarpesepeda dan kendaraan lain juga harus jelas, bukan cuma garis. Jalur sepeda harus dibatasi dengan pagar setengah meter agar tidak diserobot pengguna motor atau mobil. Contohnya di China," ungkapnya.        

Menurut Djoko, ada tiga macam jalur sepeda. Pertama, bike path, yaitu memberikan jalur sepeda dan pejalan kaki dalam satu jalur sama tinggi dengan meminimkan persilangan keduanya. Contohnya, sudah terbangun di sekeliling Istana Bogor dan Kebun Raya Bogor.

Baca Juga : Bangun Ekonomi Kerakyatan, Pemerintah Bisa Terapkan Intervensi Terbatas

Kedua, bike lane, yaitu menyediakan jalur khusus bagi sepeda di jalan umum, sebaiknya dilengkapi pembatas fisik. Jalur sepeda di kota-kota di China diberikan pembatas fisik demi keselamatan.          

Ketiga, bike route, menyediakan penggunaan sepeda bersama dengan lalu lintas pejalan kaki atau kendaraan bermotor, biasanya di ruas jalan dengan volume lalu lintas lebih rendah. Sementara di negara lain, misalnya Malaysia, Kuala Lumpur tahun 2018 telah membangun jalur sepeda dengan cat warna biru di jalan-jalan tengah kotanya.       

"Jalur sepeda di banyak kota di Eropa terbangun dalam satu lajur dengan kendaraan bermotor hanya dipisahkan cukup dengan marka pembatas. Selain itu, perlunya kebijakan pendukung agar jalur sepeda tidak menjadi sumber kemacetan," tuturnya. [KPJ]