RMco.id  Rakyat Merdeka - Kebakaran besar lagi-lagi terjadi di Ibukota. Ratusan rumah di Tomang, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, ludes dilalap si jago merah. Hanya menyisakan puing-puing yang berserakan.

Warga sekitar menyebut, ledakan tabung gas, jadi awal mula api, yang membakar sekitar 250 rumah. Ledakan tabung gas, berasal dari salah satu rumah warga. Sehari-hari, rumah itu dijadikan tempat usaha warung makan.

Warung makan itu berada di Jalan Tomang Utara I. Daerah pemukiman padat penduduk. Tak jauh dari pusat perbelanjaan Roxy Square. Posisinya, sedikit masuk ke dalam gang. Cukup sempit. Lebarnya hanya sekitar 1,5 meter. Tapi, tak sulit menemukannya. Karena letaknya, tak jauh dari jalan raya.

Ukuran tanah, tempat warung makan itu berdiri, sangat kecil. Bahkan, kalau dikira-kira, ukurannya hanya 20 meter persegi. Panjang lima meter, dan lebar empat meter. Sangat sederhana. Ada beberapa ruangan di rumah tersebut.

Berita Terkait : Corona Masih Menegangkan

Hari itu, rumah tersebut dalam kondisi kosong. Tak tampak barang-barangnya lagi. Hanya lantai dan tembok setinggi tiga meter yang tersisa. Dua bagian itu pun sudah menghitam.

Kebakaran yang terjadi padaSenin dinihari (21/1) itu, mencakup areal cukup luas. Sekitar satu hektare. Di Jalan Tomang Utara I, kebakaran mencakup lebar sekitar 50 meter. Sedangkan panjang ke belakang mencapai 250 meter. Bahkan, menyeberangi sebuah kali kecil di antara pemukiman padat penduduk.

Kemarin, sejumlah warga sibuk mengais sisa-sisa bangunan, maupun barang yang terbakar. Berharap masih ada yang bisa diselamatkan. Di bagian depan, Jalan Tomang Utara I sudah ditutup sebagian. Di jalan itu, dibangun posko-posko bantuan.Ada berbagai organisasi yang mendirikan posko di sana. Tampak pula pasukan oranye yang ikut membersihkan puing bangunan.

Hari itu, aktivitas warga belumkembali seperti biasa. Salah satunya Aris. Pria paruh baya itu membersihkan rumahnya. Sejumlah karung plastik berukuran besar disiapkan. Sisa-sisa barang yang terbakar, dimasukkan ke dalam karung. Dari sana, barang dibawa ke truk milik Dinas Kebersihan DKI, lalu dibuang.

Baca Juga : Menteri Sri Mulyani Usul Pemda Disuntik Insentif

Ukuran rumah Aris, salah satu yang cukup besar di tempat itu. Ukurannya 15x7 meter persegi. Jaraknya sekitar 30 meter asal mula api. Tak ada satu pun harta bendanya yang bisa diselamatkan. “Habis, Mas. Cuma baju yang nempel waktu itu aja,” ucap Aris, saat ngobrol.

Untuk sementara, bagian atas rumah Aris dipasangi terpal biru. Tidak keselurahan. Hanya satu ruangan. Dia bilang, itu untuk melindungnya sementara. Agar tak kepanasan, maupun kehujanan. Tapi bukan untuk tempat tinggal. Hanya untuk melindunginya saat mengangkuti puing-puing.

“Kalau saya dan keluarga masih tinggal di pengungsian. Belum berani balik,” ucapnya.

Tak ada yang tersisa dari Aris, selain keluarganya. Bahkan, dokumen-dokumen penting miliknya dan anggota keluarganya, tak berbekas. “Di rumah ini ada lima KK. Nggak ada yang bisa nyelamatin surat-surat penting,” ucapnya.

Baca Juga : Telkomsel Luncurin Paket Data Terjangkau Untuk Perguruan Tinggi

Dia mengaku akan segera mengurus dokumen-dokumen penting tersebut. Mengingat, dirinya, juga sanak keluarganya memerlukannya, untuk mencari pekerjaan. “Pasti diurus, tapi saya lagi beresin ini dulu,” ujarnya.

Sama seperti Aris, siang itu, Ujang juga tampak sedang berada di rumahnya yang sudah habis terbakar. Wajahnya terlihat bingung. Soalnya, tak ada yang tersisa. Ujang mengaku bingung tempat tinggalnya ke depan.

Sejak kebakaran lalu, dia menumpang di rumah temannnya. Namun, Ujang mengaku tidak enak jika berlama-lama menumpang. Dia memikirkan untuk pulang ke kampung halamannya, di Garut, Jawa Barat. “Setelah beres ngurus yang penting-penting,” ucapnya. [PYB]