Tiap Hujan Deras Pasti Kebanjiran

Sistem Drainase DKI Kapan Dipercanggih

Banjir yang terjadi di Jakarta pada 1 Januari 2020 (Foto: Antara)
Klik untuk perbesar
Banjir yang terjadi di Jakarta pada 1 Januari 2020 (Foto: Antara)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Usai 1 Januari lalu, Jakarta kerap dilanda banjir. Setiap hujan dengan intensitas tinggi, sejumlah ruas jalan di ibukota terendam dengan kedalaman bervariasi.

Terakhir, banjir kembali terjadi Jumat (24/1). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta mencatat terdapat 78 titik banjir. Meski hitungan jam banjir surut, tetap saja merugikan warga. Seperti lalu lintas macet. 

Pengamat Tata Kota Universitas Trisakti, Nirwono Joga menyebut, banjir dan genangan setiap hujan deras di Jakarta penyebabnya adalah buruknya sistem drainase. 

“Sistem drainase kota kita masih buruk, tidak berfungsi optimal. Tidak mampu menampung luapan air hujan. Apalagi hujan intensitas tinggi,” kata Nirwono saat berbincang dengan Rakyat Merdeka. 

Hanya sekitar 33 persen drainase Jakarta yang berfungsi optimal. Lebar saluran air saat ini kebanyakan masih sempit, sekitar 1,5 meter. Padahal, idealnya hingga 3 meter. 

Selain sempit, saluran air masih banyak tersumbat lumpur, sampah, limbah dan utilitas yang tumpang tindih, dan tidak terhubung dengan baik antar satu dengan lainnya. Kegiatan revitalisasi trotoar yang gencar dilakukan Pemprov DKI harusnya diikuti dengan pembenahan saluran air kota dan sekaligus penataan utilitas secara terpadu. 

Berita Terkait : Simulasi Ujian Di Ratusan Sekolah Ambyar

“Mestinya Pemprov DKI Jakarta dalam program revitalisasi trotoar sekaligus merevitalisasi saluran air,” ingatnya. 

Pengamat Tata Kota, Heryanto meminta tidak ada saling menyalahkan antara pemerintah pusat dan Pemprov DKI Jakarta. 

Pemerintah pusat dan Jakarta harus segera mengeruk 13 sungai besar yang melintasi Jakarta. Sebab, kondisi ke 13 sungai ini sudah tidak normal. 

“Rata-rata kedalamannya saat ini cuma 2 meter. Padahal normalnya sekitar 5 meter. Sungai Pesanggrahan contohnya. Itu harus dikeruk. Ini salah satu pemicu banjir. Terlalu banyak endapan lumpur,” kata Heryanto. 

Sebanyak 13 kali yang diusulkan untuk dikeruk yaitu Ciliwung, Pesanggrahan, Kali Sunter, Buaran, Krukut, Kali Cakung, Kali Grogol, Mookervart, Kali Cipinang, Kali Baru Timur, Kali Jati Kramat, Kali Angke, dan Kali Baru Barat. 

Melihat panjang 13 sungai yang melintas di Jakarta, Heryanto memprediksi, setiap sungai membutuhkan 15 excavator amphibi, dan 20 dump truk untuk mengangkut endapan lumpur. Dalam pengerukan ini, aparat Polri maupun TNI bisa diajak terlibat. 

Berita Terkait : Ini Perubahan Rute TransJakarta

Dia menilai, sungai yang paling prioritas untuk dinormalisasi adalah Kali Ciliwung, Kali Krukut di Kemang dan Pesanggrahan di Kembangan. 

“Sebagai orang teknis, saya menilai, pengerukan sungai hingga kedalaman empat atau lima meter di tiap ruas sungai, butuh waktu sekitar tiga bulan,” ujarnya. 

Sedangkan genangan air di jalan raya, salah satunya yang heboh terjadi di Jalan Medan Merdeka Barat, Silang Monumen Nasional (Monas), Heryanto menilai hal itu terjadi dipicu buruknya tali-tali air trotoar. Banyak saluran air kecil yang mampet. Selain itu, banyak trotoar di Jakarta memakai model tali tali air yang buruk, dan ukurannya tidak standar. 

“Kebanyakan saluran atau tali air di trotoar Jakarta modelnya paralon. Itu sangat buruk dan tidak efektif. Harus diganti dengan model yang mampu menampung air dengan maksimal,” sarannya.

Bentuk Satgas Banjir 

Pasca banjir 1 Januari lalu itu, salah satu kebutuhan warga Jakarta Timur yang sangat mendesak adalah air bersih. Hal ini terjadi karena pasokan air dari PT Aetra Air Jakarta (Aetra) sempat terhenti, akibat pemadaman aliran listrik pada Instalasi Pengolahan Air (IPA) Buaran-Jalan Raya Kalimalang-Jakarta Timur, dan terendamnya IPABuaran. 

Berita Terkait : Heru Ingin Kembalikan Supremasi Gulat DKI di Tingkat Nasional

Untuk membantu kebutuhan air bersih warga terdampak banjir, Pemkot Jakarta Timur membentuk Satgas Banjir yang terdiri dari SKPDPAM Jaya bekerja sama dengan PT Aetra Air Jakarta (Aetra). 

Walikota Jakarta Timur M Anwar menyebut, titik-titik yang menjadi prioritas adalah wilayah padat penduduk, pemukiman kumuh, dan rumah sakit terdampak banjir. Ada 17 lokasi, terdiri dari rumah sakit dan posko pengungsian yang jadi sasaran penyaluran air bersih di Jakarta Timur. 

Rumah sakit jadi prioritas penyaluran air bersih karena alasan emergency dan kemanusiaan. Di kawasan Jakarta Timur, ada 4 rumah sakit seperti RS Pondok Kopi dan RS Cijantung yang mendapat suplai air bersih. Bantuan air bersih dikirim den¬gan mobil tangki. Di beberapa wilayah tertentu ditempatkan tandon untuk menampung air bersih. [FAQ]