RMco.id  Rakyat Merdeka - Hujan yang melanda Jakarta sejak Sabtu malam kemarin membuat underpass alias terowongan Kemayoran, Jakarta Pusat, kembali terendam banjir.

Namun, berbeda dengan banjir sebelumnya, kali ini, Pemprov DKI dan Pemerintah Pusat kompak. Tidak lagi saling lembar tanggung jawab. Ketinggian air di underpass Kemayoran kemarin sempat mencapai 4 meter.

Debit air nyaris menutupi seluruh bagian underpass. Pilar-pilar penopang underpass tergenang hingga bagian atas. Bahkan, tinggi permukaan air dengan tinggi underpass hanya tersisa sedikit celah. Bukan cuma air, sampah-sampah berserakan turut tergenang di underpass Kemayoran.

Melihat kondisi ini, Pemprov DKI langsung menerjunkan sejumlah petugas guna menyaring dan mengangkut sampah. Sejumlah pompa air juga difungsikan demi menguras genangan.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan DKI Jakarta, Satriadi, menyatakan, pihaknya menerjunkan 5 unit mobil. Ditambah lagi dari Dinas Sumber Daya Air dan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Berita Terkait : Diperpanjang 10 Kali Pun, PSBB Transisi Nggak Ngefek

"Kita akan berusaha menyurutkan air dari sisi utara dan selatan," ujar Satriadi, saat meninjau lokasi. Satriadi memprediksi, pengeringan ini butuh waktu.

"Perkiraan, genangan underpass Kemayoran baru bisa surut pada dua atau tiga hari," ucapnya. Underpass ini sebenarnya berada di bawah pengelolaan Pusat Pengelola Kawasan (PPK) Kemayoran, Kementerian Sekretariat Negara.

Meski demikian, sebagai bentuk konkret menyelesaikan persoalan ini, Satriadi mengatakan terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk mencari jalan keluar, agar terowongan tersebut tidak banjir saat hujan deras. "Kami sedang mencari solusi agar tak terjadi genangan lagi," ujarnya.

Sekda DKI Jakarta, Saefullah juga turun ke lokasi. Dia mengatakan, untuk mengatasi banjir ini, diperlukan evaluasi sistem drainase. “Kalau saya, sarannya PPK Kemayoran, drainase Kemayoran ini mesti dievaluasi,” kata dia.

Dari pihak Pemerintah Pusat, Direktur Sungai dan Pantai Ditjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR, Jarot Widyoko menyebut drainase di Kemayoran belum pernah di-review. Sebab, sejak dulu, fungsi underpass Kemayoran untuk bandara.

Berita Terkait : Mulai Jumat Besok, PSBB Transisi DKI Jilid 2 Diperpanjang 14 Hari

"Ini kan kalau membangun lama ya, me-review lama. Yang pertama, saya minta bantu untuk mengangkat sedimen-sedimen yang saluran drainase yang ada," kata Jarot, di lokasi.

Lebih lanjut Jarot memaparkan akan me-review terhadap sistem drainase. Hal ini dikarenakan belum adanya perubahan drainase, padahal kawasan Kemayoran disebut telah berubah fungsi.

"Kedua me-review sistem drainase. Karena dulu di sini masih landasan pacu. Kanan-kiri dua, mungkin masih kawasan hijau," ujarnya.

Melihat kekompakan ini, warganet pun ikutan bijak. Memang masih ada yang nyinyir, tapi sebagian lain sudah mulai mengerti penyebab underpass itu selalu kebanjiran.

“Lokasi Banjir di Underpass Kemayoran Ternyata Bekas Landasan Pesawat. Bagus lah, di sini pemerintah pusat dan pemprov DKI Jakarta kerja sama untuk solusinya,” cuit @unilubis.

Baca Juga : Menpora Dukung SCI Kembangkan Literasi Digital Pemuda Indonesia

”Kalau dibaca beritanya, tidak ada kesan lempar tanggung jawab. Sekda hanya mempertegas bahwa soal banjir underpass Kemayoran itu tanggung jawab utamanya ada di Pusat Pengelolaan Kompleks Kemayoran. Sedang Jakarta membantu dg menurunkan pompa. Jangan cheating ya?” sahut @J_Mustofa.

Sedangkan @tearsdropsss menyatakan, pemberitaan yang menyebut underpass itu kembali banjir sebagai hal lebay. Sebab, setahunya, sejak era Gubernur Sutiyoso, underpass itu sudah langganan banjir.

Ada juga yang merasa bosan underpass Kemayoran selalu menjadi perhatian publik karena banjirnya. “Masa iya nengokin banjir underpass Kemayoran tiap pekan?” tulis @SifaMaulida. [UMM]