Perbatasan Jakarta Barat Dengan Jakarta Utara

Bertahun-tahun Banjir dan Macet Kok Dibiarkan Sih...

Macet di Jakarta dalam bidikan netizen. Foto: Twitter @IbunyaNaijay
Klik untuk perbesar
Macet di Jakarta dalam bidikan netizen. Foto: Twitter @IbunyaNaijay

RMco.id  Rakyat Merdeka - Jalan Kapuk Raya dan Teluk Gong, perbatasan Jakarta Barat dengan Jakarta Utara, macet setiap hari. Apalagi saat hujan deras, jalanan tergenang. Macet total.Sudah bertahun-tahun jalanan ini bermasalah yaitu macet dan banjir. Tapi belum ada solusinya dari Pemprov DKI Jakarta

Jalan Kapuk Raya merupakan jalan alternatif menuju kawasan pergudangan di Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat. Jalan ini juga menjadi akses menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Rawa Bokor, Tangerang, Banten. 

Berdasarkan pantauan Rakyat Merdeka, saat tak banjir kemacetan mengular panjang. Terutama pada pagi, siang jam istirahat dan sore saat pulang kantor. Saat macet akut, bisa sampai berjam-jam untuk melintasi jalanan tak lebih dari 5 kilometer. 

Ini akibat jalan sempit. Truk besar dan kendaraan berat melintas setiap hari. Kemacetan terjadi di dua arah di sepanjang Kapuk Raya hingga Kamal Raya. Baik arah ke Kapuk Kamal, maupun arah ke Teluk Gong. Sejumlah pemotor berusaha melewati sela-sela kendaraan besar. Sementara mobil kecil, pasrah saja menunggu di belakang truk besar. 

Berita Terkait : Rakyat Bertanya-tanya Banjir Kapan Tuntasnya

Titik kunci kemacetan ada di Perempatan Jembatan Kapuk Pasar Darurat. Di jembatan ini, situasi lalu lintas selalu kacau. Di sini, macet pagi hari berlangsung dari pukul 06.00 hingga pukul 07.30. Sementara siang, kepadatan akut mulai nampak saat jam istirahat, antara pukul 12.00 hingga 14.00. Sedangkan sore, kendaraan mulai menumpuk panjang saat jam pulang kantor antara pukul 16.30 hingga sekitar pukul 19.00. 

Di perempatan ini, antrean kendaraan mengular di ruas jalan lainnya, yakni di ruas Jalan Pedongkelan Raya mengular hingga Pintu Air di Jalan Gotong Royong. Di sebelah utara pun kena imbasnya, ruas Jalan Pantai Indah Barat yang masuk wilayah Jakarta Utara, antrean¬nya bisa sampai di Jalan Pantai Indah Selatan. 

Di perempatan sebelah timur jembatan, antrean kendaraan di Jalan Raya Kali Baru Timur dan Jalan Pantai Indah Timur juga mengular panjang. Kemacetan bertambah parah karena banyak angkot merah berhenti dan ngetem sembarangan dan yang ngatur lalu lintas ‘Pak Ogah’. 

“Kalau macet, di perempatan ini terkunci. Truk besar, angkot saling serobot, belum pemotor yang maunya duluan lewat. Sementara yang ngatur Pak Ogah doang,” ujar Husin, warga yang tinggal di Jalan Kapuk Darurat. 

Berita Terkait : Cek di Sini, Ibu Kota Banjir, Sejumlah Rute Bus Transjakarta Tak Beroperasi


Memang, di sini nampak jarang ada polisi lalu lintas dan petugas Dishub yang berjaga. Ada semacam posko untuk Pak Ogah di samping Kali Cengkareng Drain. Mereka berjaga bergantian. 

“Minimal ada polisi atau dishub saat ramai dan jam macet. Sama angkot-angkot merah yang ngetem diusir-usirin,” pintanya. 

Kondisi semakin parah saat musim hujan, banjir terjadi di sejumlah titik di ruas Jalan Kapuk Raya. Sebab, banyak perkampungan warga di wilayah ini yang terendam seperti Kapuk Raya, Pasar Darurat dan Teluk Gong. 

Sebagian pemilik mobil memarkirkan kendaraannya di bahu jalan. Kondisi serupa juga terjadi di Jalan Tubagus Angke dan Jalan Peternakan Teluk Gong yang mengakibatkan antrean panjang kendaraan. Jalanan juga terendam 30 centimeter. Meski masih bisa dilewati, truk besar yang masuk keluar pergudangan Kapuk membuat jalanan macet akut di saat banjir. 

Berita Terkait : Pengeringan Banjir Di Underpass Kemayoran Paling Lama Dua Hari

Menanggapi ini, Kasatpel UP PKB Dishub Kedaung Angke, Jakarta Barat, Afandi mengatakan, pihaknya telah menempatkan personel untuk mengatur lalin pada jam-jam sibuk, dari pukul 07.00 hingga pukul 16.00 WIB.  “Kita tempatkan personel untuk mengurai kemacetan di sejumlah wilayah yang dikeluhkan,” tandasnya. 

Selain itu, dia juga berencana akan melakukan rekayasa lalu lintas di tempat Pengujian Kendaraan Bermotor, Kedaung di dekat Jembatan Genit. Sebab, wilayah ini juga salah satu titik macet. 

“Untuk itu kami akan berkoordinasi dengan Kecamatan serta Walikota, Bina Marga dan SDA untuk membuka jalur pintu keluar menuju Jalan Ubi, sehingga pintu masuk dan keluar bukan di tempat yang sama, untuk mengurai kepadatan lalin pada saat jam-jam pelayanan,” papar Afandi. 

Dia juga membuka booking online untuk mengatur volume kepadatan kendaraan wajib uji yang datang bersamaan ke PKB Kedauang Angke. Saat ini, PKB Kedaung Angke sedang meningkatkan pelayanan pengujian dengan menggunakan Drive Tru dan Smart Card, sehingga masyarakat tidak perlu repot membawa berkas cukup dengan satu kartu. Ini mengurangi antrean wajib uji. [FAQ]