RMco.id  Rakyat Merdeka - Konstruksi MRT Fase 2, Bundaran Hotel Indonesia (HI)-Ancol direncanakan dimulai Maret 2020, dan ditargetkan selesai Desember 2024. 

Pengerjaan proyek ini, disiapkan untuk pembangunan fase 3 Timur ke Barat. Koneksi dengan fase 3 tersebut dilakukan di Stasiun Thamrin, Jakarta Pusat. Stasiun yang direncanakan terletak antara Thamrin 10 sampai Patung Kuda. Panjang stasiun direncanakan mencapai 400 meter.

Peron untuk naik turun penumpang stasiun juga akan dilengkapi dengan area komersil. 

Jalur keduanya berhimpitan dalam ruang bawah tanah. Karena itulah, direncanakan kedalaman stasiun mencapai 30 meter di bawah permukaan tanah. 

“Trase koridor selatan-utara nantinya akan bertumpuk dengan timur-barat,” kata Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar dalam Forum Jurnalis, akhir pekan lalu. 

William mengungkapkan, konstruksi stasiun Thamrin dikerjakan oleh konsorsium Adhi Karya dan Shimizu Corporation sebagai pemenang lelang fase 2 paket CP201 senilai Rp 4,1 triliun. Paket pengerjaan itu juga termasuk Stasiun Monas. 

Baca Juga : PLN Gerak Cepat Pulihkan Kelistrikan Luwu Utara

Berdasarkan rencana, pengerjaan proyek ini dilakukan selama 58 bulan sampai Desember 2024. Membutuhkan waktu selama itu karena tiga tantangan teknis dalam pengerjaan proyek ini. Yakni, tanah yang lebih lunak sehingga butuh penguatan, bangunan cagar budaya dan Kali Ciliwung. 

“Metode pembangunan harus lebih baik dan kuat. Ini sangat penting supaya proyek berjalan sesuai dengan rencana dan kualitas yang tepat,” katanya. 

Terkait rencana pembangunan di kawasan Monas, dia memastikan akan mengikuti rambu-rambu yang ditentukan Kementerian Sekretariat Negara. Juga, memperhatikan kelestarian vegetasi yang ada di kawasan itu. 

“Untuk kawasan Monas seluruh pekerjaan dilakukan di bawah tanah. Nanti akan dibuatkan akses masuk di pintu tenggara Monas. Jadi, tidak akan dilakukan penebangan pohon sehingga tidak mengganggu secara visual,” ungkapnya. 

Selain itu, selama proses konstruksi akan dilakukan rekayasa lalu lintas. Namun, belajar dari konstruksi fase 1 yang mengganggu kenyamanan berlalu lintas, kali ini akan lebih baik. 

“Kami memikirkan supaya selama masa konstruksi tidak mengganggu kenyamanan lalu lintas dan pejalan kaki. Tapi detailnya nanti akan diumumkan,” katanya. 

Baca Juga : Ribuan Pelanggan Kepincut Program Diskon Tambah Daya PLN

Pembangunan MRT fase 2 dimulai dengan pembangunan D-Wall untuk Gardu Induk (Recipient Substation) di Kawasan Monas selesai pada September 2019 lalu. 

Pembangunan Fase 2 terdiri dari dua tahap, yaitu tahap pertama fase 2A yang meliputi jalur utama sepanjang sekitar 5,8 kilometer dengan enam stasiun bawah tanah (Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok) dan satu stasiun at grade (Kota) berdasarkan Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 1728 Tahun 2018 tentang Penetapan Lokasi untuk Pembangunan Jalur MRT koridor BHI-Kota. 

Pembangunan jalur utama tersebut terdiri dari CP201, CP202 (Stasiun Harmoni, dua terowongan hingga Stasiun Sawah Besar, Stasiun Sawah Besar, dua terowongan hingga Stasiun Mangga Besar, dan Stasiun Mangga Besar), CP203 (dua terowongan hingga Stasiun Glodok, Stasiun Glodok, dua terowongan hingga Stasiun Kota, dan Stasiun Kota). 

Dalam fase 2A ini juga dilakukan penyediaan CP205 sistem perkeretaapian dan rel (railway systems and trackwork) serta CP 206 kereta (rolling stock). Kedua, fase 2B yang terdiri dari Stasiun Kota, Mangga Dua, Gunung Sahari, dan Ancol hingga Depo di Ancol Barat sekitar 5,2 kilometer. 

Fase 2B ini masih dalam tahap studi kelayakan. Selain membangun infrastruktur jalur utama kereta, pembangunan fase 2 juga akan meliputi penataan kembali area Jalan Gajah Mada-Jalan Hayam Wuruk. 

Yakni, pelebaran akses pejalan kaki dan pesepeda, termasuk penyediaan rak sepeda di setiap stasiun MRT Jakarta. Juga, area turun naik penumpang untuk bus non-BRT, mobil yang membawa penumpang prioritas, dan logistik. 

Baca Juga : Ini Nama-nama Calon Menteri Yang Disodorkan La Nyalla

Selain itu, pembangunan kembali halte-halte BRT Transjakarta yang terintegrasi secara fisik ke akses masuk stasiun MRT Jakarta, seperti yang sudah dilakukan di Stasiun Bundaran Hotel Indonesia dengan Halte BRT Transjakarta Bundaran HI. 

Sejumlah gedung-gedung sepanjang koridor akan terintegrasi langsung dengan stasiun MRT Jakarta serta dapat digunakan sebagai area menurunkan penumpang. 

William menambahkan, mitigasi bencana dalam proses konstruksi dan operasi menjadi fokus utama. Karena itu, perencanaan struktur MRT Fase 2 sudah mempertimbangkan mitigasi terhadap bencana seperti banjir, kebakaran dan gempa. Mitigasi ini disiapkan selama proses konstruksi dan operasi. 

Dia mengungkapkan, untuk mengantisipasi banjir, ketinggian pintu masuk stasiun akan disesuaikan dengan kajian hidrologi dengan periode banjir 200 tahun. 

Makanya, selain ditinggikan dari permukaan tanah pintu masuk direncanakan akan dilengkapi flood protection panel setinggi 70 sentimeter untuk berjaga-jaga, apabila banjir terjadi sebagai akibat drainase kota yang tidak berfungsi secara optimal. 

“Ada dua skenario banjir yang kami antisipasi belajar dari konstruksi fase 1. Yakni, banjir akibat aliran air yang disebabkan drainase rusak di sekitar stasiun. Kemudian ketinggian banjir dengan probabilitas terjadi sekali dalam 200 tahun. Karena stasiun tidak boleh masuk air,” katanya. [MRA]