Soal Pengelolaan Sampah

Jakarta Diminta Nyontek Singapura dan Tokyo

Kondisi terkini Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi. Foto: Twitter @officialFCUJD
Klik untuk perbesar
Kondisi terkini Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi. Foto: Twitter @officialFCUJD

RMco.id  Rakyat Merdeka - Selain banjir, persoalan Jakarta adalah sampah. Saat ini, Ibu Kota hanya mengandalkan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, sebagai pelabuhan akhir pembuangan sampah. 

Padahal, Jakarta menghasilkan sampah sekitar 8.000 ton per hari. Jumlah penduduk pada 2019 sebanyak 10,5 juta jiwa saat malam. Sedangkan siangnya sekitar 12 juta jiwa. 

“Jakarta membuang sampahnya ke wilayah tetangga. Ibaratnya punya rumah tetapi tidak punya toilet,” kata Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNas) Bagong Suyoto kepada Rakyat Merdeka, kemarin. 

Bagong menyebut, permasalahan sampah di Jakarta sangat kompleks. Lantaran produksi dan komposisi sangat besar ketimbang kota metropolitan lain di Indonesia. Sementara luas lahan TPST Bantargebang relatif tetap, dari 108 menjadi 110,3 hektar pada 2008. Setelahnya, tidak ada penambahan lahan lagi. Sedangkan jumlah volume sampah yang dikirim bertambah setiap tahunnya. 

Berita Terkait : Warga Minta Perbaikan Total, Jangan Setengah-setengah

Berdasarkan catatannya, pada 2014 Bantargebang menampung sebanyak 5.664,48 ton, 2015 sekitar 6.419,14 ton, pada 2016 sekitar 6.561,99 ton, 2017 sekitar 6.875,49 ton, dan pada 2018 sekitar 7.452,60 ton. “Artinya terus bertambah. Informasi awal 2020 pasca bajir, sampah yang dibuang ke TPST Bantargebang mencapai 12.000 ton per hari,” kata Bagong. 

Persoalan persampahan Jakarta mirip dengan Singapura dan Tokyo. Hanya saja, keduanya mengalami kemajuan pesat dalam menyelesaikan permasalahan sampah. Semua itu didukung oleh teknologi modern skala besar. Pada intinya, keduanya meminimalkan berbagai jenis sampah di sumber, memanfaatkan untuk berbagai kegiatan daur ulang. 

Misalnya Singapura, negara ini punya andalan WTEPlants, semacam ITF, untuk mengurangi volume sampah secara cepat, total kapasitas 7.900 ton per hari. Selain itu, Singapura juga memiliki zona pengolahan sampah, seperti zona daur ulang kertas, plastik, zona daur ulang logam, zona daur ulang kayu, daur ulang bongkaran bekas konstruksi, ada pula pengolahan sampah organik dan sisa-sisa makanan untuk biogas dan kompos. 

“Usaha-usaha tersebut dilengkapi sarana laboratorium dan hall galeri modern, yang dilakukan oleh swasta atau corporate bekerja sama dengan pemerintah. Jakarta perlu menirunya,” ujarnya. 

Berita Terkait : Pemprov, Gerak Cepet Dong, Angkut Sampah Sisa Banjir

Selain kapasitas, biaya pengangkutan dan pengolahan sampah di TPST Bantargebang semakin mahal, kini sudah mencapai Rp 500.000 per ton. Padahal pengelolaan dan pengolahan sampah belum mencapai standar. 

Dia cukup mengapresiasi pembangunan Intermediate Treatment Facility (ITF) di Sunter Jakarta Utara. Kapasitas olah sampah ITF Sunter direncanakan sekitar 2.200 ton per hari. Artinya, Jakarta membutuhkan 3 sampai 4 ITF lagi. Selain itu, Jakarta harus punya manajemen pemisahan sampah yang mapan, sampah organic, an-organik, limbah B3 skala domestik, sampah bongkaran konstruksi, dan lainnya. Juga belum memiliki zona pengelolaan sampah yang dilakukan pemerintah dan swasta. 

Makanya, Jakarta harus punya dan taat pada master plan pengelolaan sampahnya. Jakarta sudah dan sedang menentukan titik-titik pembangunan ITF, maka harus konsisten terwujud pembangunan dan operasional ITF itu. 

“Setidaknya setelah ITF terbangun, mampu menampung 8.000 ton per hari. Sampah bertahap dapat diolah dan direduksi di wilayah indoor hingga 70 persen. Jadi yang dibawa ke TPST Bantargebang tinggal 30 persen atau lebih kecil lagi,” pungkasnya. 

Berita Terkait : Bertahun-tahun Banjir dan Macet Kok Dibiarkan Sih...

Kepala Dinas LH DKI Jakarta, Andono Warih menyebut, target tersebut tertuang dalam road map pengelolaan sampah yang mengacu pada Kebijakan dan Strategi Daerah (Jakstrada) tentang pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga. 

“Kami optimistis bisa mengurangi sampah hingga 30 persen. Target ini bisa tercapai dengan dukungan dan kepedulian seluruh masyarakat serta pemangku kepentingan di Jakarta,” ujarnya. 

Andono menjelaskan, dari total 7.600 ton sampah yang dihasilkan per hari, kurang lebih 61 persen adalah sampah rumah tangga. Karenanya, pengelolaan sampah akan melibatkan masyarakat untuk mengurangi, memilah dan mengolah sampah. Jakarta sudah mulai bikin Kampung Samtama yang merupakan akronim dari Sampah Tanggung Jawab Bersama. Salah satunya yang telah berjalan adalah di RW 03, Kelurahan Cempaka Putih Timur. 

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menekankan agar warga mulai mengurangi, memilah, dan mengolah sampah dari tingkat rumah tangga. Target sampah yang mampu dikelola adalah 30 persen di tingkat rumah tangga. Sedangkan 70 persen sisanya, akan diolah melalui TPSatau dimanfaatkan kembali dengan nilai tambah ekonomis, seperti diolah di tempat pengolahan sampah terpadu untuk menghasilkan energi. [FAQ]