RMco.id  Rakyat Merdeka - Akhir Februari lalu, atap gedung SMKN 24 Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur, roboh. Delapan kelas tidak dapat difungsikan. Bangunan ruang kelas yang berjajar memanjang di sisi timur sekolah mengalami ambruk pada bagian konstruksi atap berbahan baja ringan. Kepala SMKN 24 Bambu Apus, Tri Eriyani menjelaskan, peristiwa itu berlangsung saat terjadi hujan deras disertai angin kencang. 

Melihat kejadian ini, DPRD DKI Jakarta mengusulkan agar pelaksanaan rehabilitasi sekolah tidak lagi ditangani oleh Dinas Pendidikan (Disdik). Meski peristiwa tersebut dinilai sebagai dampak dari cuaca buruk, Komisi E DPRD DKI Jakarta menilai, ambruknya atap juga disebabkan perencanaan hingga penggunaan material konstruksi baja ringan yang dianggap tidak tepat. 

“Memang kita punya pandangan yang sama dengan anggota dewan (Komisi E) seluruhnya. Agar urusan pembangunan fisik tidak lagi menjadi urusan Dinas Pendidikan. Terserah mau diberikan kepada Jakpro atau yang lain. Karena kita menginginkan urusan Dinas Pendidikan adalah urusan kurikulum pendidikan.Tidak ikut-ikutan dalam pembangunan fisik,” ujar Jhonny Simanjuntak, Sekretaris Komisi E, di Gedung DPRD DKI Jakarta, kemarin. 

Anggota Komisi E DPRD DKI Achmad Nawawi mengatakan, peristiwa yang dialami SMKN 24 Jakarta Timur setidaknya menjadi pelajaran berharga bagi Dinas Pendidikan untuk lebih selektif dalam pemilihan kontraktor. 

Berita Terkait : Menang di Kasus Pulau H, Pemprov DKI Kini Hadapi Gugatan Pulau F, I dan M

Menurutnya, kegiatan vital seperti rehab fisik gedung sekolah perlu memiliki manajemen dan pengawasan yang optimal mulai dari tahapan perencanaan, proses rehab hingga pasca rehab secara berkelanjutan. 

“Kalau kontraktor selama ini bangun, pasti insinyur yang menjadi pengawasnya. Tapi kalau manajemen dari awal kurang bagus dan kurang baik, maka akan kelihatan mana saja material atau spek yang digunakan bisa berubah saat pembangunan. Padahal itu tidak boleh terjadi karena sudah ada perencanaan konstruksi sebelumnya,” paparnya. 

Inspektorat Provinsi DKI Jakarta Michael Rolandi memastikan, pihaknya sejauh ini terus optimal melakukan penyelidikan robohnya atap SMKN 24 Jakarta Timur. 

“Penelitian dan pemeriksaan yang kita lakukan akan berfokus tidak hanya pada proses robohnya (atap) gedung SMKN 24 itu. Tapi mulai dari perencanaan penganggaran, proses pengadaan barang jasanya seperti apa, pelaksanaan pekerjaan seperti apa,” katanya 

Baca Juga : Sidak Bandara Soetta, BKS Cek Protokol Kesehatan

Michael menjelaskan, salah satu penyebab utama robohnya atap gedung SMKN 24 Jakarta Timur lantaran adanya perubahan material konstruksi dengan penggunaan baja ringan. 

“Nanti akan kita investigasi lebih lanjut. Apakah baja ringansesuai atau tidak. Apakah metode pemasangan sesuai atau tidak. Ini sedang kami teliti,’’ ujarnya. 

Inspektorat dalam melakukan penelitian akan melibatkanahli bangunan. Kalau ditanyakan hasilnya, penelitian sedang berproses karena baru memasuki hari ke-8 investigasi. 

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Nahdiah mengatakan, pihaknya akan mengambil sikap setelah ada hasil investigasi menyeluruh dari Inspektorat. 

Baca Juga : Minta Makzulkan Jokowi Dan Bubarkan PDIP, Tuntutan Pendemo RUU HIP Salah Sasaran

“Saat ini SMKN 24 sedang dalam proses investigasi dari Inspektorat dan kita hanya akan menunggu hasil dari mereka,” tandasnya. [MRA]