RMco.id  Rakyat Merdeka - Centro resmi menutup gerai mereka di Plaza Semanggi. Re- tail asal Malaysia yang sudah berdiri sejak tahun 2003 ini, memutuskan untuk tidak memperpanjang sewanya pada 31 Desember 2018.

Retail ini bersama Parkson Department Store dikelola PT Tozy Sentosa. Total terdapat 15 gerai yang dikelola perseroan. Dari jumlah tersebut, sebanyak enam gerai berada di Jabotabek, yaitu satu gerai Parkson Department Store di Lippo Mall Puri, St. Moritz dan lima gerai Centro Department Store yang terletak di Bintaro Jaya Xchange Mall, Grand Metropolitan Mall, Bekasi, Summarecon Mall Serpong, Margonda City Depok, dan Pesona Square Depok.

Tutupnya Centro mengikuti jejak retail lain yang berguguran sepanjang tahun 2018. Seperti, Central Department Store di Neo Soho, Grogol, Jakarta Barat tutup sejak Januari 2019. Sebelumnya, Matahari Department Store menutup gerainya di Manggarai, Jakarta. Juga gerai milik PT Mitra Adiperkasa, Lotus di Djakarta Theater dan Debenhams di Senayan City.

Baca Juga : Top, WIKA Sabet 5 Penghargaan Bergengsi BUMN Marketeers Award 2020

Metro Department Store juga menutup gerainya di Pacific Place, Jakarta. Juga ada Lotus Department Store yang tutup pada 2017. Menyusul kemudian, PT Hero Supermarket (HERO) yang telah menutup 26 gerai Giant. Tak ketinggalan 7 Eleven. Toko yang berdiri sejak tahun 2009 ini, sempat berhasil membuka 190 gerai. Perlahan meredup dan pada 30 Juni 2017, seluruh gerai ditutup total. Langkah ini dilakukan untuk menghentikan kerugian.

Ketua Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah menyebut, banyak faktor yang mendorong tenant keluar atau tidak memperpanjang kontrak sewa. Salah satu sebabnya, kata dia karena pengunjung yang sepi. “ Plaza Semanggi sepi pengunjung ketika kebijakan ganjil genap mulai diberlakukan,” ujar Budihardjo.

Alasannya, kata dia karena aksesnya menjadi susah. Padahal, akses yang mudah itu sangat penting bagi mal atau pusat perbelanjaan. Oleh karena itu, lanjut Budihardjo, tidak heran apabila Centro memutuskan untuk mengakhiri kontrak sewa. Menurutnya, pemerintah daerah seharusnya memberikan akses yang mudah bagi mal agar bisa survive. “Bukan sebaliknya,” pintanya.

Baca Juga : Mandiri Syariah Raih Penghargaan Market Leadership Award 2020

Budihardjio juga memprediksi, tidak menutup kemungkinan penutupan gerai-gerai besar masih terjadi. Alasannya, peritel terutama segmen departement store sedang menyesuaikan diri dengan kondisi pasar. “Kondisi bisnis saat ini tidak seperti dulu lagi. Ada peralihan,” kata Budihardjo.

Menurut Budihardjo peralihan yang dimaksud adalah, tingginya permintaan di luar Jawa ketimbang di Jawa.” Ritel-ritel besar kini fokus ke luar Jawa, seperti Sumatera dan Kalimantan,” sebut dia. Program pemerintah yang fo- kus ke daerah, menurutnya, juga membuat pengeluaran atau daya beli masyarakat di daerah atau luar Pulau Jawa juga ikut men- ingkat. “Kondisi ini membuat pertumbuhan gerai-gerai ritel baru di luar Pulau Jawa cukup kencang,” ujarnya.

Selain itu, kata Budihardjo, tekanan terhadap peritel juga datang dari pelaku perdagangan online. Saat ini, makin banyak konsumen yang berbelanja on- line karena harga yang ditawarkan lebih murah, dan lebih praktis dari toko offline. “Toko online dianggap lebih berdaya saing,” tandasnya. [TIF]