Liburkan Sekolah, Tutup Tempat Wisata

Anies Gercep

Anies Baswedan (Foto: Qori/RM)
Klik untuk perbesar
Anies Baswedan (Foto: Qori/RM)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan grecep alias gerak cepat menekan penyebaran Virus Corona di ibu kota. Setelah menutup pusat-pusat tempat-tempat wisata, eks Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu meliburkan sekolah selama dua minggu.

Sampai kemarin, jumlah kasus positif corona menjadi 96 kasus atau bertambah 27 orang dari sehari sebelumnya. Delapan orang sembuh dan lima meninggal. Dari lima korban meninggal dunia, satu pasien berada di Bali, satu di Solo, dan dua di Jakarta. Sementara satu pasien meninggal dunia lainnya tidak diumumkan berada di wilayah mana.

Melihat penyebaran corona yang kian massif, Anies melakukan sejumlah langkah antisipatif. Ia memutuskan untuk meliburkan sekolah selama dua pekan. Dimulai sejak Senin 16 Maret 2020.

Anies menyebut, proses pembelajaran dapat dilakukan dengan metode jarak jauh melalui proses digital. Dia menyebut, bahan pembelajaran untuk guru diperkirakan rampung sebelum Senin. Ada pun metode ini bertujuan mengurangi potensi terjadinya penularan.

Berita Terkait : Antisipasi Corona, Anies Liburkan Sekolah Selama 14 Hari dan Tunda Pelaksanaan UN SMA/SMK

Tak hanya itu, pemerintah DKI juga menunda ujian nasional yang sudah dimulai pada Senin pekan depan. Penundaan dan penutupan dilakukan hingga pemerintah DKI meninjau kembali keputusan tersebut.

"Penutupan sekolah ini berlaku selama dua minggu dan kami akan melakukan review kembali di akhir pekan kedua untuk melihat perkembangannya," kata Anies di Balairiung Balai Kota, Jakarta, kemarin.

Sehari sebelumnya, Anies memutuskan untuk menutup tempat wisata di DKI Jakarta selama dua pekan ke depan untuk menghindari interaksi dan mengurangi kerumunan banyak orang.

Sejumlah tempat wisata yang ditutup antara lain; Ancol, Kebon Binatang Ragunan, kawasa Kota Tua, Monas dan seluruh museum yang dipegang Pemprov DKI Jakarta. Anies juga meniadakan kegiatan car free day Jakarta selama dua pekan ke depan. Menurut Anies, kerumunan bisa berpotensi menyebabkan penularan.

Berita Terkait : Mau Dibersihkan Dengan Disinfektan, Anies Tutup 17 Tempat Wisata Selama 14 Hari

Saat menyampaikan keterangan pers, Anies juga membuka peta sebaran kasus virus corona di Jakarta. Hingga 13 Maret tercatat ada 17 titik lokasi positif kasus corona di Jakarta dan beberapa titik lainnya menunggu hasil pemeriksaan. Anies menyebutkan, hampir seluruh kecamatan di DKI terjadi kasus corona. Karena itu ia minta masyarakat untuk memprioritaskan kegiatan di rumah dan di pemukiman sekitar.

Menurut dia, keputusan menyebarkan informasi tersebut untuk meningkatkan kehati-hatian terhadap risiko penularan. "Ini kami sampaikan sebagai gambaran bahwa kalau kita tahu, kita berhati-hati. Saya menyampaikan ini jangan untuk panik. Bukan untuk panik. Tidak perlu panik," ujarnya.

Dengan adanya kehatian-hatian tersebut bisa meningkatkan kesadaran untuk tidak rileks dalam menghadapi risiko penularan. Dia menilai, banyak kasus di berbagai negara mengalami lonjakan kasus penularan corona karena tidak waspada sejak awal.

"Kalau kita menganggap aman semua, rileks saja, kemudian berkegiatan seperti biasa, ya seperti banyak negara lain yang mengalami lonjakan kasus yang tinggi," ujarnya.

Berita Terkait : Formula E di Monas Resmi Ditunda

Sampai kemarin, pasien dalam pengawasan (PDP) di Jakarta terus mengalami lonjakan. Dari 39 orang di hari Minggu melonjak menjadi 261 di Kamis. Jumlah orang dalam pemantauan (ODP) virus vorona di Jakarta juga meningkat. Dari 129 pada Minggu 1 Maret menjadi 586 orang pada 12 Maret. Anies mengakui, penyebaran virus corona di DKI Jakarta sudah merata. Untuk itu, katanya, langkah-langkah tegas harus dilakukan secara menyeluruh.

Terakhir, Anies berharap pemerintah pusat memberikan kewenangan pemeriksaan corona kepada pemerintah daerah. Dia bilang, tujuannya agar pemprov bisa melakukan deteksi dini jika mendapat kewenangan ter Sebut.

Terpisah, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil berharap, pemerintah pusat memberikan informasi perkembangan pasien yang dinyatakan positif virus corona. Menurut Kamil, komunikasi antara pusat dengan daerah perlu untuk mengantisipasi penyebaran. "Jika ada yang positif posisinya di Jawa Barat, jangan sampai pemerintah daerahnya tidak tahu sehingga tidak bisa melakukan penelusuran," katanya di Gedung Sate, kemarin. [FAQ/BCG]