``Liburkan`` Jumatan Dua Pekan, Anies Berani

Anies Baswedan (Grafis: Iyong/RM)
Klik untuk perbesar
Anies Baswedan (Grafis: Iyong/RM)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Anies Baswedan membuat keputusan berani terkait pencegahan wabah Virus Corona. Gubernur DKI Jakarta itu "meliburkan" jumatan dan kegiatan ibadah lain yang melibatkan banyak orang selama dua pekan. Kebijakan ini menjadi pro kontra. Banyak yang setuju, banyak juga yang menolak.

Keputusan tersebut diumumkan Anies dalam konferensi pers di Balaikota, Jakarta, kemarin. Sebelum konferensi pers, Anies menggelar pertemuan dengan sejumlah tokoh lintas agama dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Baik dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu, maupun Buddha. Anies berharap, semua pemuka agama kompak. Agar keputusan yang sudah disepakati bersama ini tidak dijalankan setengah-setengah.

"Bila pembatasan kegiatan keagamaan hanya diikuti sebagian dan sebagian tidak, maka potensi penularan tinggi," tegas Anies.

Anies kemudian mempersilakan tokoh dari masing-masing agama menyampaikan pesan secara bergiliran. Ketua MUI DKI Jakarta, Munahar Muhtar, mendapat kesempatan pertama. Dia bilang kondisi saat ini dalam keadaan darurat. Merujuk pada Fatwa MUI Nomor 14/2020, pelaksanaan ibadah secara berjemaah ditunda untuk sementara. Tidak hanya di masjid, tapi juga di tempat-tempat majelis taklim. "Dalam rangka menjaga warga Jakarta dan supaya kita diselamatkan oleh Allah SWT," imbaunya.

Berita Terkait : Alhamdulillah, Dua Pasien Corona di Kabupaten Bogor Berhasil Sembuh

Kemudian, Ketua Dewan Masjid Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Makmun Alayubi. Dia meminta kerja sama pengurus DKM dan para khatib untuk mematuhi kebijakan ini. Khususnya terkait diliburkannya pelaksanaan salat Jumat. "Bukan dalam artian kita tidak melaksanakan salat Jumat, tapi kita alihkan kegiatan salat Jumat menjadi salat zuhur di rumah masing-masing," jelasnya.

Sekretaris Parisada Hindu Dharma DKI Jakarta, Nengah Darma, mengaku sudah menyampaikan imbauan itu kepada umat Hindu di Jakarta. Namun, pihaknya tampak masih ngotot menggelar rangkaian acara Hari Raya Nyepi, yakni Melasti dan Tawur Agung yang akan diselenggarakan pada 22 dan 24 Maret nanti. 

Melasti digelar di Pura Segara Cilincing, Jakarta Utara, sedangkan Tawur Agung di Pura Aditiya Jaya Rawamangun, Jakarta Timur. Ia memastikan jumlah yang hadir tidak banyak, hanya 10 sampai 15 orang. "Tidak banyak, orang kami batasi," ucapnya.

Ketua PGI Wilayah DKI Jakarta, Pendeta Manuel Raintung, patuh. Ia mengimbau agar peribadatan di gereja selama 2 minggu ke depan ditunda. "Kami mohon kerja sama dan dukungan doa supaya Jakarta aman dan kita semua mengalami kebahagiaan. Tuhan memberkati," tuturnya.

Berita Terkait : Ayo Bantu Pekerja Harian

Begitu pun dengan pernyataan Wakil Keuskupan Agung Jakarta, Romo Antonius Suyadi. Ia meminta agar umat Katolik di DKI dan Keuskupan Agung Jakarta untuk berdoa dan beribadah di rumah masing-masing saja. "Mohon seruan pada Tuhan agar wabah ini cepat berlalu," pintanya.

Ketua Walubi DKI Jakarta, Lim Wira Wijaya, juga sepakat dengan keputusan tersebut. Ia meminta agar kebaktian cukup dilakukan di rumah masing-masing sampai wabah virus COVID-19 mereda. "Kita akan ikuti seruan dari Gubernur kita."

Keputusan ini langsung menjadi pembahasan di medsos. Banyak yang setuju. Banyak juga yang menolak. 

Yang setuju salah satunya @taghreedet. Dia mengaku dapat memahami dan menerima peliburan salat Jumat di tengah virus corona yang mewabah saat ini. "Intinya dari yg aku pahami sih: Kewajiban menjaga keselamatan diri dan orang lain itu lebih ditekankan oleh agama dibanding kewajiban menghadiri shalat Jumat atau shalat Jamaah,” tulisnya.

Berita Terkait : Anak Libur Sekolah Malah Bikin Pusing

Akun @Blackli93887789 menimpali. "Jadi besok kita libur nih tad salat Jumat," tulisnya.

Sedangkan yang tidak setuju antara lain @rafliyudhaa. "Gue mending kena virus daripada harus ninggalin salat jumat berjamaah," protesnya. "Mati saat shalat jumat itu insha Allah dihitung berjihad, gpp lahhh kena mati, gak kena mati juga kalo udah ajal," sambung @sabilmakan. "Kalo besok shalat jumat terus keinfeksi covid, termasul jihad ga?," tanya @RizkyFatul.

Sedangkan akun @MedanJawa mengusulkan, agar salat jumat tepat dilakukan dengan catatan setiap jamaah yang memasuki masjid dites terlebih dahulu. "Kan bisa aja sebelum masuk masjid dites terebih dahulu apakah terjangkit apa tidak, bukan meniadakan shalat jumat," ucapnya. [SAR]