Jelang Imlek Di Glodok

Harga Pernak-Pernik Dinaikkan, Omzet Pedagang Malah Turun

Klik untuk perbesar
Sejumlah pedagang pernak pernik imlek menghiasi kawasan pecinan Glodok menyambut hari raya Imlek. (Foto : istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Besok Hari Raya Imlek. Kawasan Glodok, Jakarta Barat, ramai. Penjual dan pembeli pernak-pernik yang berhubungan dengan Imlek, berbaur, jadi satu.

Jalan Pancoran, Pinangsia, Kecamatan Tamansari, jadi salah satu pusat keramaian jelang Imlek. Di jalan selebar sekitar lima meter itu, ratusan pedagang pernak-pernik, dan kebutuhan Imlek lainnya, berjejer. Bahkan, hampir tak ada lahan kosong, di jalan sepanjang 300 meter itu.

Lapak-lapak pedagang, tumpah hingga ke jalan. Rata-rata, pedagang musiman. Tapi, ada juga pedagang yang memang memiliki kios di jalan itu. Kios mereka makin luas jika ditambah dengan lapak yang berada di badan jalan.

Hans, salah satu pedagang yang mencoba peruntungan di jalan itu. Tak setiap hari dia berdagang pernak-pernik khas China. Biasanya, dia berdagang pakaian di tempat lain. Lapaknya tidak besar. Hanya 2x2 meter. Tapi, barang dagangannya lengkap. Mulai dari pakaian, yang umumnya bermodel cheongsam khas China, pohon mehwa, dan angpau.

Baca Juga : Waspadai Penumpang Gelap dan Penciptaan ‘Martir’


Tak sampai di situ, di lapaknya dia juga menjual lampion, gantungan, dan gambar shio babi. Lambang tahun yang akan datang dalam kalender China.

Jumat siang (1/2) lapak Hans tampak ramai. Pengunjung silih berganti. Banyak yang beli. Tapi, tak sedikit yang sekadar tanya. Tawar menawar kerap terdengar di lapak itu. Tahun ini, adalah kelima kali dia berjualan pernak-pernik Imlek. Dia berdagang di sana hanya saat menjelang Imlek. Sebelumnya, ayahnya yang berjualan di sana, tiap menjelang Imlek. "Terus Bapak saya pindah, sekarang saya yang nerusin,” ujar Hans.

Harga yang ditawarkan Hans beragam. Dari yang paling murah, sampai yang paling mahal. Tapi, beberapa pembeli sempat protes. Barang dagangan Hans dianggap kemahalan. Tapi, menurut Hans, harga barang dagangannya masih wajar. Terbukti, dari banyaknya pembeli.

Tahun lalu, Hans mengaku, sudah memberikan harga tinggi. Tak ada yang mengeluh. Makanya, tahun ini dia berani menaikkan harga. Klaimnya, kualitas barang dagangannya bagus. Di atas standar. “Makanya, kami berani naikkan harga tinggi,” kata Hans.

Baca Juga : Direksi dan Karyawan KAI Kerja Lembur

Dia mencontohkan, pohon mehwa. Pohon yang dirangkainya sendiri. Untuk produk itu, dia menaruh harga lebih tinggi dari tahun lalu. Tahun lalu, pohon mehwa ukuran 30 centimeter (Cm), bisa didapat dengan harga Rp 50 ribu. Sekarang, bunga sudah lebih mahal. “Jadi, dijual Rp 75 ribu,” ucapnya.


Hans, bersama sang istri, merangkai sendiri pohon itu. Warnanya merah dan merah muda. Ukurannya bervariasi. Yang paling kecil, ukurannya 30 Cm. Sedangkan yang paling be- sar, 1,5 meter. “Harganya mulai dari Rp 75 ribu sampai Rp 900 ribu,” bebernya. Tak cuma Hans, Anton, pedagang lainnya, turut menaikkan harga jual.

Tapi, katanya, pendapatannya malah turun dibanding tahun lalu. Tahun lalu, penghasilan kotornya sampai Rp 10 juta per hari. Tahun ini, dia mengaku sangat bersyukur jika bisa dapat nilai yang sama dalam beberapa hari. Bahkan, sambungnya, yang didapatnya dalam sehari tahun lalu, bisa lebih dari Rp 10 juta.

Anton sendiri, sudah membuka lapaknya sejak 1 Januari lalu. Dia akan menutup lapaknya pada 4 Februari ini. “Tahun ini turun, mungkin pengaruh pemilu juga,” ucap Anton.

Baca Juga : Warga Muhammadiyah Diimbau Tak Ikut Aksi 22 Mei

Meski menaikkan harga, Anton tetap menyesuaikan harga jual dengan pedagang lainnya. Sebab, dia tak mau kehilangan pelanggan jika barangnya terlalu mahal. Apalagi, ia telah memiliki pelanggan hingga luar kota. Seperti Palembang dan Bandung. Kata Anton, jika berhalangan, pelanggannya kerap mengutus wakil. Bisa keluarga, atau kerabat. “Paling mereka sebut barangnya, kita tinggal kirim pesanannya,” ujarnya. [PYB]

RM Video