RMco.id  Rakyat Merdeka - Kawasan Cikini, Jakarta Pusat, sangat strategis dan ramai. Di sini ada perkantoran, pasar, restoran, sekolah, universitas, stasiun sampai kantor pemerintahan. Tapi aneh, kawasan ini tidak ramah bagi pejalan kaki.

Jarum jam sudah menunjuk angka lima. Waktu pulang kerja. Kamis (7/2) sore. Di Jalan Cikini Raya, terlihat banyak pekerja, siswa, mahasiswa dan warga yang berjalan kaki. Entah itu mau ke Stasiun Cikini atau ke tempat lain.

Sayangnya, fasilitas trotoar di sini tidak steril. Misalnya, Jalan Ciliman.Trotoar dijadikan tempat parkir motor dan mobil. Hanya menyisakan sedikit untuk pejalan kaki. Bahkan, saking susahnya lewat, pejalan kaki terpaksa turun ke aspal. Maju sedikit mendekat Stasiun Cikini, kondisi trotoar makin parah.

Baca Juga : Besok Lawan NK Dugopolje, Timnas Indonesia U-19 Siap Tempur Lagi

Setiap sore, Pedagang Kaki Lima (PKL) dengan leluasa berjualan. Mereka menjual makanan. Dari 4-5 meter lebar trotoar, hanya menyisakan setengah meter untuk pejalan kaki. Padahal, setiap sore puluhan orang lewat. Keberadaan PKL ini membuat pejalan kaki harus ‘mengaspal’. Mengambil risiko tersambar kendaraan bermotor. Sebab jalur pejalan kaki dicuri PKL. Anehnya, hanya 100 meter dari tempat PKL itu. Di seberang jalan, ada kantor Kecamatan Menteng. Namun, sepertinya tidak ada kekhawatiran dari para PKL membuka lapaknya.

Ketua Koalisi Pejalan Kaki, Alfred Sitorus mengatakan, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tidak serius membenahi fasilitas pejalan kaki di Jakarta. Sebab, kata Alfred, terlihat dari kondisi trotoar yang kian semrawut karena okupasi para PKL. Hak pejalan kaki hampir dimana-mana diserobot. Bukan hanya oleh PKL, tapi juga parkir motor dan mobil.

“Urusan trotoar seakan-akan itu jauh dari sentuhan bahwa trotoar itu ada regulasinya. Jadi seperti tidak bertuan. Jadi sangat bertimbal balik ketika bicara trotoar, Pak Gubernur melempem seperti kerupuk yang sudah masuk angin,” kata Alfred.

Baca Juga : Ketua Satgas Covid-19: Vaksin Terbaik Saat Ini Adalah Protokol Kesehatan

Wakil Walikota Jakarta Pusat Irawandi mengakui masih banyaknya PKL di pusat keramaian. Bahkan, hampir seluruh wilayah yang terdapat pusat keramaian seperti stasiun, trotoar diokupasi PKL.

Padahal, lanjut Irwandi, pihaknya sudah mengimbau, membina dan merelokasi para PKL ke lokasi sekitar yang memungkinkan untuk berjualan. Namun, lantaran jauh dari keramaian, para PKL akhirnya kembali ke tempat asalnya.

“Kami terkendala lokasi lahan strategis seperti apa yang diinginkan para PKL. Kami sudah mencoba merelokasi ke lokasi lain, para PKL keluhkan sepinya pembeli,” katanya.

Baca Juga : Mau Perlancar Bahasa Indonesia, Dubes Irlandia Baca Buku Dubes Al Busyra

Irwandi menjelaskan, menghadapi PKL di pusat keramaian bukan suatu hal yang mudah. Sebab, terkait dengan urusan mata pencarian. Untuk itu, hal yang bisa dilakukan saat ini adalah memaklumi mereka berjualan pada sore dan malam hari. Asalkan tidak mengganggu para pejalan kaki. Sedangkan pagi dan siang jangan berjualan. [MRA]