Minim Pengawasan dan Tanpa Sanksi Yang Jelas

Larangan Ngobrol Di KRL Bakal Susah Diterapkan

Ilustrasi penumpang KRL Jabodetabek (Foto: Randi Tri Kurniawan/RM)
Klik untuk perbesar
Ilustrasi penumpang KRL Jabodetabek (Foto: Randi Tri Kurniawan/RM)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kebijakan haram ngobrol di dalam Kereta Rel Listrik (KRL) Jabodetabek atau Commuter Line bakalan susah diterapin. Sebab, minim pengawasan dan tidak adanya tindakan sanksi.

“Kalau jaga jarak di peron dan di kereta, itu mah kelihatan. Bisa diatur. Petugas lihat kita mepet-mepetan, kemudian langsung diingatkan. Kalau ngomong bagaimana? Kan pakai masker semua. Apa kelihatan,” ujar Erna, perempuan yang setiap hari bolak-balik Jakarta-Bogor menggunakan KRL.

Menurut Erna, tanpa ada aturan tersebut, penumpang minim berbicara di dalam kereta karena masing-masing sibuk sendiri. Namun, lanjut Erna, jika benar akan diterapkan, perlu personel tambahan. Sebab, pada jam sibuk pagi dan sore, penumpang penuh. Jumlahnya tak sebanding dengan petugas.

Penumpang lainnya, Anto mengatakan, hal terpenting dari sebuah aturan adalah penindakan sanksi bagi pelanggar. Bila tak ada penindakan sanksi, itu sulit dipatuhi. “Kenapa banyak aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dilanggar, karena tidak ada penindakan sanksi bagi pelanggar. Kalau diimbau aja, nggak bakal dipatuhi deh,’’ kata Anto.

Jadi, lanjutnya, jika serius melarang ngobrol di dalam KRL, diperbanyak petugas. Kemudian diberi sanksi bagi pelanggar. “Kalau ini diterapkan, pasti efektif aturan itu. Penumpang pada takut kena sanksi, pada kapok tuh,” ujarnya.

Baca Juga : Proyek Sejuta Rumah Kembali Hidup Di Era Kenormalan Baru

Sebelumnya, PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) berencana menerapkan kebijakan baru dalam KRL saat pemberlakuan era normal baru. Yakni penumpang dilarang berbicara di dalam kereta. Baik ngobrol dengan penumpang lain ataupun berbicara via handphone.

Aturan ini diterapkan karena aktivitas berbicara rawan memunculkan droplet. Cairan, baik lewat batuk maupun bersin ini adalah media penularan virus corona atau Covid-19. “Kepada seluruh pengguna diimbau untuk tidak berbicara secara langsung maupun melalui telepon seluler karena penularan bisa melalui droplet atau cairan yang keluar dari saluran mulut dan hidung saat batuk, bersin, maupun berbicara,” papar VP Corporate Communications PT KCI, Anne Purba.

Selain haram ngobrol, Anne juga meminta penumpang KRL memanfaatkan semaksimal mungkin fasilitas transaksi tiket non tunai dengan menggunakan Kartu Multi Trip (KMT), kartu uang elektronik bank, dan aplikasi Link Aja. Ini bertujuan untuk meminimalisir kemungkinan penularan Covid-19, dari uang tunai yang sering berpindah tangan.

Aturan anyar lainnya adalah petugas frontliner KRL mulai menggunakan pelindung wajah. Ini diwajibkan untuk seluruh petugas di stasiun maupun di dalam kereta. Di luar hal baru tersebut, PT KCI tetap melaksanakan protokol kesehatan seperti sudah dijalankan selama ini. Yakni menyediakan fasilitas tempat cuci tangan di semua stasiun yang dilintasi KRL, hand sanitizer di peron maupun di setiap petugas kereta, dan menjaga kebersihan kereta dan stasiun dengan disinfektan secara rutin.

Permukaan-permukaan yang rutin disentuh penumpang di stasiun seperti vending machine, gate tiket elektronik, tempat duduk, hingga pegangan tangga dibersihkan sekurang-kurangnya sembilan kali dalam sehari.

Baca Juga : Politisi Muda Hanura Sedih Hotel Dan Pariwisata Anjlok

Begitu juga kebijakan di mushola stasiun selama masa pandemi Covid-19 tidak menyediakan karpet, sajadah, sarung dan mukena, itu tetap dijalankan. Kewajiban penumpang dan petugas menggunakan masker selama berada di area stasiun dan di dalam KRL, pemeriksaan suhu tubuh penumpang, dan penerapan jaga jarak sesuai dengan marka-marka yang ada di area stasiun dan di kereta, dan penumpang hanya 60 orang per gerbong, juga masih berlaku.

Mengenai penumpukan, saat waktu-waktu padat pengguna, akan ada penyekatan di sejumlah titik stasiun, sehingga jumlah orang yang berada di peron dan di dalam kereta dapat terkendali. Bahkan jika diperlukan, petugas bisa melakukan buka tutup pintu masuk stasiun.

“Saat ini, skenario pola hidup baru dengan penyesuaian dengan pandemi Covid-19 untuk KRL Commuter Line masih terus dibahas dan disusun,” tandas Anne.

Penumpang Lebih Rame

Berdasarkan pemantauan Rakyat Merdeka, usai Lebaran, penumpang KRL jauh lebih rame dari sebelumnya. Stasiun padat antara pukul 06.00-09.00 WIB dan pukul 15.00-17.00 WIB. sejumlah tim gabungan mulai menyebar di berbagai stasiun KRL. Salah satunya sejumlah anggota TNI tanpa senjata mulai melakukan sosialisasi protokol kesehatan pada penumpang KRL di Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan.

Baca Juga : Pemudik Mau Pulang Ke Jakarta Dihadang Petugas Di Sana Sini

Di sini, petugas KRL juga mulai menggunakan alat pelindung wajah, baik yang ada di peron maupun yang di dalam gerbong KRL. Di stasiun ini, kepadatan mulai terlihat sekitar pukul 09.00 WIB. Yakni saat kereta dari daerah penyangga tiba. Lalu lalang penumpang berpindah peron maupun berganti rangkaian kereta dan keluar stasiun menyebabkan kerumunan dan hampir tak ada jaga jarak.

Petugas yang menyebar di berbagai sudut pun berusaha menertibkan dan memperingatkan. Anggota TNI berpakaian loreng beberapa kali ikut mengingatkan penumpang memakai masker dan sebisa mungkin menjaga jarak.

“Kalau siang sepi. Kalau rame begini, susah juga mengaturnya. Walaupun sudah banyak petugas berusaha memperingatkan. Karena orang kan lalu lalang. Tapi kalau di dalam gerbong, ada jaga jarak yang ketat,” ujar seorang petugas di Stasiun Manggarai yang enggan disebut namanya.

Kondisi serupa pun terjadi di Stasiun Gondangdia dan Stasiun Tanah Abang. Petugas TNI maupun frontliner KRL dengan alat pelindung wajah memeriksa satu persatu suhu tubuh penumpang di pintu keberangkatan. [FAQ]