RMco.id  Rakyat Merdeka - Kondisi Jalan KH Noer Ali atau Kalimalang, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, rusak parah. Ini bikin macet tiap pagi dan sore. Berdasarkan pantauan Rakyat Merdeka, kondisi jalanan ru­sak dan berlubang itu ada di sejumlah titik. Kemudian ada juga aspalnya tidak rata alias bergelombang. Yang paling parah di ruas jalan di depan Rumah Sakit Budi Lestari. Di sini, jalanan berlubang dan banyak tambalan yang terkelupas.

Kondisi ini sangat memba­hayakan pengguna jalan. Apalagi jalur Kalimalang merupakan jalur arteri paling padat menuju ke Jakarta. Dibandingkan dengan jalur lain seperti Sultan Agung dan I Gusti Ngurah Rai, di jalan Kalimalang ini mayoritas penggunanya ada­lah kendaraan roda dua. Selain masalah hujan, ru­saknya jalan ini tidak kuat me­nahan beban kendaraan berat melintas. Misalnya, truk mate­rial milik proyek nasional yang tengah dikerjakan di wilayah ini. Ada proyek Tol Becakayu (Bekasi-Cawang-Kampung Me­layu), Light Rail Transit (LRT), Jalan tol layang Jakarta-Cikam­pek serta pembangunan Kereta Cepat (Kereta Cepat Indonesia China) yang baru dimulai.

Truk-truk besar ini melintasi Kalimalang untuk menghindari kemacetan di Jalan Tol Jakarta- Cikampek. Pengendara yang biasa melin­tas di ruas jalan ini pun menge­luhkan kondisi tersebut. Apalagi setelah hujan, jalan yang rusak ini menjadi licin. “Kalau habis hujan, jalanan licin. Kerikil dari jalan yang rusak menyebar, harus pelan-pelan saat melintas,” kata Wahyudi, warga Cakung, Jakarta Timur yang set­iap hari pulang pergi ke Bekasi.

Berita Terkait : Ada Mobil Terbakar di Tol Kalimalang Km 48, Arah Rorotan Padat

Diakuinya, sudah sebulan lebih Jalan KH Noer Ali rusak. Pemerintah Kota Bekasi sempat menambal lubang tersebut. Na­mun karena hujan turun, jalanan rusak kembali. “Kalau panas juga berdebu. Mohon segera diperbaiki,” un­gkapnya. Anton, warga Bekasi Selatan mengatakan, Pemkot Bekasi sangat diuntungkan dengan banyaknya proyek jalan tersebut.
Untuk itu, jangan hanya bisa menyalahkan sejumlah proyek nasional tersebut, tapi hendaknya melakukan perbaikan juga.

“Banyak daerah mau agar ada proyek nasional di daerah­nya. Bekasi ini kan termasuk prioritas. Begitu banyak proyek jalan berskala nasional melewati Bekasi. Seharusnya ini disyu­kuri,’’ ujar Anton.

Dia mengakui, ada dampak dari banyaknya proyek nasional tersebut. Misalnya, kemacetan dan jalan rusak. Mengenai kendaraan proyek, sepengetahuan Anton, kendaraan berat hanya diperbolehkan meng­gunakan jalur tersebut saat malam, sehingga tidak menambah kepada­tan jalan ketika jam sibuk orang berangkat dan pulang kerja.

Baca Juga : Pulihkan Ekonomi, BI: Negara G20 Sepakat Tingkatkan Kerja Sama

“Solusi mengenai kendaraan berat itu kan sudah bagus. Ting­gal mengenai jalan rusak. Saya kira, Pemkot Bekasi juga harus bertanggung jawab. Jangan hanya meminta kepada pimpi­nan proyek untuk memperbaiki jalan. Coba kalau semua proyek itu selesai. Siapa yang dapat untung, antara lain kan Pemkot Bekasi juga,’’ paparnya.

Ketua Dewan Transportasi Kota Bekasi Harun Alrasyid mengingatkan, pemerintah daerah tidak bisa tutup mata dengan banyaknya jalan yang rusak karena beban kendaraan proyek sekitar. Dia menyarankan, pemerintah daerah berkoordinasi dengan kon­traktor proyek-proyek tersebut. “Pemda memang mendapat keun­tungan dengan banyaknya berdiri proyek nasional di kota ini. Tapi risikonya banyak jalan rusak. Harus saling sinergi,” kata Harun.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Bekasi Arief Maulana mengatakan, pihaknya meminta pelaksana proyek tol Becakayu (Bekasi-Cawang- Kampung Melayu) untuk segera memperbaiki Jalan KH. Noer Ali, Bekasi Selatan, Kota Bekasi yang kondisinya rusak. Jalan tersebut rusak imbas dari pemban­gunan proyek tol Becakayu. Pihaknya sudah meminta pelaksana proyek tol Becakayu komunikasi dengan pelaksana proyek Tol Becakayu, yakni PTWaskita Toll Road dan PTKresna Kusuma Dyandra Marga (KKDM) untuk memperbaiki Jalan KH Noer Ali.

Baca Juga : Menpora Dukung SCI Kembangkan Literasi Digital Pemuda Indonesia

“Kami sudah kirim surat ke mereka. Sebelum musim hujan kami minta diperbaiki karena kalau sudah hujan itu bisa makin rusak jalannya,” kata Arief. Saat ini pihaknya tengah mensurvei titik mana saja di Jalan KH. Noer Ali yang kondisinya rusak. Kasi Operasional Pemeliharaan Jalan dan Jembatan, Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kota Bekasi Eka Chorid mengakui anggaran peme­liharaan jalan pada APBD 2018 hanya Rp 3 miliar untuk seluruh wilayah Kota Bekasi. Namun demikian, Pemkot Bekasi tetap melakukan perbaikan. Tapi pelaksana proyek di sekitar jalan itu untuk membantu.

“Kita sebisa mungkin mem­perbaiki di ruas-ruas jalan utama yang rusak. Agar tidak memba­hayakan warga,’’ ujarnya. “Tapi karena imbas proyek kan banyak jalan rusak, jadi (kontraktor) tolong diperbaiki. Begitu juga nanti ketika proyek selesai, semua jalan yang rusak itu harus diperbaiki,” tambah­nya.[FAQ]