RMco.id  Rakyat Merdeka - Penerapan pembatasan jumlah pembeli di pasar-pasar Jakarta sudah berlangsung selama dua hari. Hasilnya, pengunjung tetap ramai. Terutama saat pagi dan sore. Masih banyak juga yang tidak memakai masker.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menerapkan sistem buka kios ganjil genap. Namun aturan ini diubah karena dinilai tidak efektif. Pemprov DKI Jakarta memilih mengendalikan jumlah pengunjung pasar, tidak boleh melebihi 50 persen kapasitas.

Berdasarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi yang mulai 3 Juli sampai 16 Juli 2020, jam operasional pasar juga dinormalkan seperti sebelumnya. Tak lagi dibatasi dari pukul 07.00 hingga 14.00.

Namun pantuan Rakyat Merdeka, di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, pengunjung tetap ramai. Terutama saat pagi dan sore. Masih kerap ditemukan warga yang tak memakai masker. Jalanan depan pasar juga ramai. Banyak angkot ngetem. Begitu juga pedagang berjubel menggelar dagangannya di pinggir jalan.

Belum lagi kendaraan sayur, buah dan bahan pangan lainnya yang kembali bongkar muat di jalanan. Kemacetan dan kerumunan pun tak terhindarkan. Kondisinya sama seperti sebelum pandemi.

Terlihat petugas TNI dan polisi membantu Satpol PP berjaga di pintu masuk pasar. Menghitung pengunjung yang masuk. Petugas juga berjada di luar area pasar. Tetapi jumlah petugas masih kurang banyak, sehingga kewalahan. Sebab, mereka sesekali menertibkan angkot maupun kendaraan yang berhenti yang menimbulkan kemacetan. Makanya jumlah pengunjung pun tak terkendalikan.

“PSBB transisi dengan pembatasan pengunjung pasar itu tetap ramai di sini. Apalagi di luarnya. Ruwet. Apalagi ganjil genap kios udah nggak berlaku,” ujar Umar, seorang pedagang buah di pinggir jalan.

Sedangkan suasana Pasar Minggu, Jakarta Selatan, tak terlalu ramai pengunjung. Petugas gabungan TNI, polisi dan Satpol PP bermasker, berkeliling dan menjaga pintu masuk pasar. Seorang pedagang kios sembako nampak melamun karena tak ada pembeli. Padahal, pasar sudah beroperasi normal. Tak ada aturan ganjil genap. Jam operasional pasar pun kembali normal.

Berita Terkait : Doni Monardo Minta Sistem Ganjil Genap Di Jakarta Dievaluasi

“Sekarang sepi pembeli. Lagi pandemi gini orang di sekitar ini mungkin masih takut ke pasar,” keluh pedagang bernama Ahmad ini.

Dijaga Ketat

Sekretaris Fraksi Partai Golkar DPRD DKI Jakarta, Judistira Hermawan, setuju sistem ganjil genap di pasar dihapus, karena memang tidak efektif. Yang kudu dilakukan adalah pembatasan pengunjung. Untuk itu petugas wajib menjaga ketat pintu-pintu masuk pasar.

“Kalau pedagang relatif bisa diatur. Karena ada datanya. Untuk pengunjung ini, harus ketat dan dibatasi. Cek suhu tubuh, kewajiban memakai masker dan lakukan rapid test dan swab test berkala di lingkungan pasar,” pinta Judistira.

Anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi Gerindra, Syarif meminta Pemprov DKI Jakarta gencar sosialisasi pentingnya mematuhi protokol kesehatan Covid-19 kepada para pedagang dan pembeli di pasar. Khususnya pengelola pasar harus bertindak tegas kepada para pedagang yang bandel dan melanggar protokol kesehatan.

“Protokol kesehatan harus ketat, yang tidak menggunakan masker dilarang masuk. Sering diawasi dan disosialisasi supaya pedagang dan pengunjung disiplin,” kata Syarif.

Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi), Abdullah Mansuri, meminta penerapan protokol kesehatan Covid-19 di pasar tradisional harus ditingkatkan. Dia yakin, pasar tradisional dapat menjadi tempat yang aman selama protokol kesehatan dilaksanakan ketat. Pasar tradisional bagi masyarakat sangat penting. Sebab, pa- sar tradisional merupakan pusat distribusi pangan rakyat.

“Pasar sesungguhnya aman, pedagang sehat, dan ekonomi pulih kalau kita sama-sama menjaga pasar dari Covid-19 dengan mematuhi protokol kesehatan,” ujarnya.

Baca Juga : Melalui FGD, Fadel Gali Pandangan Akademisi dan Birokrat Soal Haluan Negara

142 Pedagang Terpapar

Pemprov DKI Jakarta sudah melakukan test swab dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) di 68 pasar yang berada di bawah pengelolaan Perumda Pasar Jaya.

Direktur Utama Perumda Pasar Jaya, Arief Nasrudin menyatakan, data hingga 30 Juni 2020, sebanyak 142 pedagang terpapar Covid-19.

“Jadi yang sudah swab test 68 pasar, melibatkan 6.624 pedagang. Hasilnya, yang positif 142, atau sekitar 2 persen,” ujar Arief di Balai Kota, Jakarta Pusat.

Sebanyak 4.967 pedagang lainnya atau sekitar 75 persen dinyatakan negatif Covid-19. Sisanya, 1.115 atau 23 persen masih menunggu hasilnya. Untuk mencegah penularan Covid-19, Perumda Pasar Jaya berjanji memperketat pengawasan dan penerapan protokol kesehatan.

Pihaknya akan menambah wastafel di 115 pasar yang dikelola. Kemudian rutin mensterilisasi dengan menyemprot disinfektan di seluruh area pasar. Begitu juga pemeriksaan kesehatan para pedagang dengan melakukan test swab juga terus dilakukan. Meskipun masih banyak pedagang yang menghindar.

Banyak Pelanggaran

Kepala Satpol PP DKI Jakarta, Arifin mengakui masih banyak menemukan pelanggaran protokol kesehatan di pasar tradisional selama PSBB transisi. Pelanggaran yang banyak ditemukan adalah pengunjung pasar tidak pakai masker.

Baca Juga : PBB: Myanmar Hapus Desa-desa Rohingya dari Peta

“Setiap hari masih ada saja pengunjung yang tidak pakai masker. Kalau diakumulasi dari seluruh pasal jumlah pelanggaran, yang tidak menggunakan masker sangat banyak. Setiap pasar pasti ada yang datang tidak pakai masker,” ungkap Arifin.

Pemprov DKI memberikan perhatian khusus penerapan protokol kesehatan di pasar tradisional untuk mencegah wabah ini semakin meluas. Pada masa perpanjangan transisi ini, pembatasan ganjil genap kios di pasar dihapus dan gantinya jumlah pengunjung dibatasi.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menghapus aturan ganjil genap di pasar tradisional. Sebab, fakta di lapangan, aturan ini tidak mempengaruhi jumlah pengunjung pasar.

“Lebih penting kita mengendalikan jumlah orang masuknya daripada kendalikan di dalam- nya,” ungkap Anies di Balai Kota Jakarta Pusat.

Menurut Anies, kebijakan ganjil genap tidak berhasil menurunkan penularan Covid-19 di dalam pasar. “Sekarang kita coba lewat pembatasan jumlah sambil kita pantau dampaknya,” tambahnya.

Anies tak akan memaksakan setiap peraturan yang dinilai tidak efektif untuk menurunkan angka penularan Covid-19. Karena itu, pola pembatasan diubah yang semula membatasi jumlah pedagang, menjadi pembatasan pengunjung yang masuk.

Tak melebihi 50 persen kapasitas pasar. Pihaknya telah berkoordinasi dengan TNI-Polri untuk membantu Satpol PP dan Perumda Pasar Jaya membatasi jumlah pengunjung yang masuk dan memastikan protokol kesehatan dijalankan. “Petugas ditempatkan di pintu masuk pasar. Jam operasional dikembalikan juga untuk menyebar pengunjung,” tandasnya. [FAQ]