RMco.id  Rakyat Merdeka - Puluhan massa mengatasnamakan Barometer Jakarta dan Jakarta Movement berunjuk rasa di depan Balaikota DKI Jakarta, Jakarta Pusat, Rabu (15/7). Mereka kecewa kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang memberikan izin reklamasi Ancol, Jakarta Utara.


Ketua Presidium Barometer Jakarta, Muhammad Farhan menyebut, Anies ngeles dan bersilat lidah soal reklamasi. Diingatkannya, apapun judulnya, saat ada aktivitas pengurukan kawasan laut, namnaya adalah reklamasi. 

"Yang namanya nguruk laut itu namanya reklamasi. Anies jangan ngeles deh," ujar Farhan dalam orasinya di depan Kantor Anies, Balikota, Jakarta Pusat.

Berita Terkait : Anies: Kalau Bandel, Satu Gedung Akan Dibekukan Selama 3 Hari


Pihaknya mengingatkan Anies akan janjinya menutup dan melarang aktivitas reklamasi. Seperti diketahui, saat Pilgub DKI Jakarta 2017 lalu, Anies menyebut reklamasi berpotensi dan rentan bikin ibukota banjir.

Anies bahkan memakai senjata anti reklamasi dan menjatuhkan lawan politiknya yang saat itu pro reklamasi. Makanya, aneh bin ajaib saat Anies menjadi Gubernur, justru getol melakukan reklamasi. "Jangan munafik, ingat janji saat kampanye Pilgub dulu," imbaunya.

Dia pun mendesak Anies mencabut ll Peraturan Gubernur (Pergub) DKI Jakarta Nomor 237 Tahun 2020 tentang Izin Pelaksanaan Perluasan kawasan rekreasi Dunia Fantasi (Dufan) seluas kurang lebih 35 hektar dan kawasan rekreasi Taman Impian Ancol Timur seluas kurang lebih 120 hektar. Sebab, reklamasi Ancol berpotensi merusak mata pencaharian nelayan dan merusak lingkungan dan ekosistem laut dan darat.

Berita Terkait : PSBB Total, Anies Pastikan SIKM Tak Berlaku Lagi


Jika tuntutan itu tidak diakomodir Anies Baswedan, ia berjanji akan menggelar aksi unjuk rasa lanjutan. "Kita akan datang dengan efek kejut ketika tuntutan kami tidak secepatnya didengar," ancamnya.

Tak hanya dua elemen ini, hari ini juga Anies digeruduk puluhan massa aksi Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA). Sekjen KIARA Susan Herawati menyebut, rencana pembangunan Museum Nabi di atas lahan perluasan kawasan Anco hanya menjadi kedok Gubernur Anies menerbitkan izin reklamasi untuk PT Pembangunan Jaya Ancol. 

"Reklamasi tidak lantas menjadi halal dengan adanya museum Nabi di pulau reklamasi. Karena landasan hukumnya cacat," sindirnya.

Berita Terkait : Kubu Ekonomi Vs Kubu Kesehatan, Duetkan Jangan Diduelkan

Rencananya museum akan dibangun di atas tanah timbul seluas 20 hektare. Museum tersebut nantinya akan dibangun dengan luas sekitar 3 hektare di area tersebut. "Sangat bahaya jika agama dijadikan alat legitimasi untuk proyek reklamasi," tandas dia. [FAQ]